Negeri Ini Sakit, Berhenti Mengobral Isu Murahan!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Berawal dari informasi yang saya terima pada 10 Oktober 2018. Tepat pada tanggal yang diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia itu, saya mendapat informasi tentang korban pasung yang kesulitan mendapat penanganan medis. Pasien pasung tersebut berasal dari Parung Panjang Kabupaten Bogor, yang secara wilayah tentu tidak terlalu jauh dari ibukota negara, pusat pemerintahan sekaligus pusat segala akses kehidupan. Tapi tak jauh darisana, dari ibukota, seorang korban pasung, ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) tak seberapa dihargai kehidupannya. Ditolak sana-sini dan dipersulit penanganannya.

Persis seperti yang saya kutip langsung dari si pemberi informasi ini, Bagus Utomo, "Di Hari Kesehatan Jiwa sedunia, suara ODGJ dan keluarga masih diabaikan oleh pemerintah. Yang sudah berobat dibingungkan oleh perubahan sistem rujukan yang membuat mereka makin jauh mengakses layanan kesehatan, obatnya juga sangat terbatas di RS tipe C. Yang belum berobat, terpasung dan terlantar sulit mengakses layanan kesehatan.

Bencana kesehatan jiwa sebenernya terjadi tiap hari. Orang bunuh diri atau keluarga dibunuh. Atau kita keluarga-keluarga ODGJ yang pulang ke rumah rasanya seperti di neraka karena ODGJ-nya ngamuk tiap hari. Masa depan seluruh keluarga suram dan terpuruk dalam jurang keputusasaan.

Tapi semua itu nggak menarik bagi para politikus karena ini masalah kemanusiaan yang sulit dipolitisasi dan tidak ada duitnya."

Beranjak dari tema pasien pasung, gangguan jiwa sesungguhnya bisa menimpa siapa saja. Bahkan menimpa mereka yang terlihat baik-baik saja. Deretan nama penyakit seperti schizofrenia, bipolar, obsessive compulsive, dan post partum depression merupakan sebagian dari nama gangguan kejiwaan yang memungkinkan penderitanya tetap memiliki fungsi kognitif yang masif berjalan. Artinya orang-orang ini bisa saja terlihat normal, meski di dalam dirinya menyimpan sakit mendalam dan bisa berakibat fatal jika tak tertangani segera. Salah satunya, potensi bunuh diri, atau membunuh orang-orang terdekatnya sendiri, tanpa di duga sama sekali.

Sayangnya, masyarakat Indonesia terbiasa dengan budaya mencemooh para penderita depresi seperti ini. Dari memberi stempel tolol, gila, hingga tak beriman pada mereka-mereka yang pada akhirnya menghabisi nyawanya sendiri. Walaupun saya sangat sepakat bahwa tindakan bunuh diri adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan sama sekali. Tapi bayangkan jika orang-orang terdekat kita menderita salah satu jenis depresi tersebut, lalu kita tanpa peduli memberinya stempel tolol, gila, dan tidak beriman, tanpa solusi. Maka jika di kemudian hari orang itu bunuh diri, ketahuilah bahwa sesungguhnya kita yang telah membunuhnya!

Menyaksikan berbagai pemberitaan bunuh diri, dan mengetahui data bahwa pada tahun 2012 saja, jumlah orang bunuh diri di Indonesia mencapai 10.000 jiwa, dan terus naik setiap tahunnya. Dari hal itu, tidak sedikit dari kita yang justru membully orang-orang yang sudah meninggal itu, bahkan menertawai dan merasa lebih kuat dari mereka. Tanpa menyadari bahwa depresi bisa menjangkiti siapa saja dan kapan saja.

Saya sendiri merupakan penderita bipolar, yang telah berjuang keras untuk sembuh dengan menciptakan terapi kognitif-nya sendiri. Saya beberapa kali menyakiti diri sendiri dan mencoba bunuh diri. Karena memang rasanya menyiksa sekali menderita sakit yang tak kasat mata tersebut. Dari beberapa sumber yang saya ambil, bunuh diri disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya depresi, pelecehan, kekerasan, dan kondisi latar belakang sosial. Dari semua faktor-faktor tersebut, saya pernah menerima semuanya. Jadi bayangkan betapa tidak mudahnya hidup orang-orang yang pernah atau masih mengalami depresi seperti saya. Apalagi yang sampai terpasung atau yang memilih bunuh diri pada akhirnya. Jadi sungguh biadab orang-orang yang menertawakan ini!

Saat ini, setelah berhasil melalui fase-fase terberat dalam hidup saya, saya memilih untuk menjadi politisi. Dengan harapan bahwa saya bisa memperjuangkan kepentingan orang-orang yang memiliki kerentanan dominan untuk di tindas dan dibuang. Perempuan, anak-anak, masyarakat miskin, orang-orang dengan gangguan kejiwaan, korban pelecehan hingga korban kekerasan. Karena bukankah itu hakikatnya seorang politisi, menjadi malaikat yang bersedia mengangkat senjata untuk melindungi orang-orang dengan kerentanan dominan ini.

Oleh karena itu saya mengajak seluruh politisi yang mengaku cerdas dan waras, untuk bersama-sama saya mengangkat isu-isu kemanusiaan seperti ini ke permukaan. Bukan terus-terusan mengobral isu murahan seperti “Muka Boyolali” hingga “Sontoloyo” dan “Genderowo.” Karena dari setiap perdebatan yang diobral, hate speech yang saling silang dilontarkan, ada berapa jiwa di seluruh negeri ini yang menjerit sakit karena ditelantarkan, atau yang kemudian mati terbiar tanpa penghormatan.

Saya juga tidak mungkin mengangkat isu ini sendirian, karena bagaimanalah, ketika saya berkampanye saja, orang-orang lebih suka meributkan isu agama, SARA, dan isu-isu murahan seperti yang tadi saya sebutkan. Karena mungkin ada yang lebih sakit dari cerita orang-orang sakit yang sedari tadi saya narasikan, yaitu negeri ini. 

Mungkin isu-isu kemanusiaan dan kampanye kewarasan seperti itu memang tak sehebat isu-isu ekonomi, tenaga asing, mata uang, harga-harga yang naik, utang negara, daya beli masyarakat dan sebagainya. Tak sebombastis isu agama dan isu SARA. Tapi isu-isu seperti inilah yang menentukan level kemanusiaan kita. Bahkan level kewarasannya.

So, baik itu untuk Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Tim Kampanye Nasional Prabowo-Sandi, atau seluruh politisi calon pemangku kepentingan negeri ini, bisakah kalian tenggelamkan isu-isu murahan itu dan menggantinya dengan isu-isu kemanusiaan yang lebih bermartabat. Tinggalkan sejenak hitung-hitungan perolehan suara, tinggalkan sejenak strategi pemenangan, abaikan sejenak tentang prediksi kalah dan menang. Tengoklah sebentar kami, atau mereka yang butuh diperjuangkan ini. Susunlah program yang memiliki tujuan untuk memerdekakan kaum-kaum seperti kami. Dan gaungkanlah di seluruh penjuru negeri, maka kami dan kita semua akan menilai mana yang paling berhati.

Salam kewarasan!



Hari ini: Sri kisarah mengandalkanmu

Sri kisarah Husna membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin: Negeri Ini Sakit, Berhenti Mengobral Isu Murahan!". Bergabunglah dengan Sri kisarah dan 6 pendukung lainnya hari ini.