Stop Penangkapan Satwa Dilindungi

Stop Penangkapan Satwa Dilindungi

Dimulai
7 Mei 2022
Tanda tangan: 82Tujuan Berikutnya: 100
Dukung sekarang

Alasan pentingnya petisi ini

Dimulai oleh Annisa Zahra

Pada tanggal 26 April 2022, 3 harimau ditemukan mati dengan kondisi kaki dan leher terkena jeratan kawat tebal di Kecamatan Peunaron, Aceh Timur. Sebelumnya, sebanyak 170 jerat perangkap satwa ditemukan di dalam hutan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau yang saat itu tengah melakukan operasi bersih jerat perburuan hewan liar. Selain itu, berdasarkan data lain yang diperoleh dari Kepala BBKSDA, Riau, Suharyono, sejak 2018-2019 ada 4 ekor gajah sumatera yang terjerat, 3 ekor harimau sumatera, 2 ekor beruang, dan 2 ekor tapir. Satwa itu terjerat di dalam kantong kawasan konservasi Giam Siak Kecil, Kerumutan, serta kawasan konservasi Zamrud.

Operasi memasang jerat yang dibuat oleh sekelompok masyarakat berdampak pada terancamnya keberadaan satwa liar yang dilindungi dengan dalih bahwa jeratan tersebut ditujukan untuk hama babi hutan. Korban dari modus jerat untuk babi ini justru kebanyakan adalah satwa liar yang dilindung seperti gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), harimau sumatera (Pantera tigris sumatrae), beruang (Helarctos malayanus), hingga tapir (Tapirus indicus).

Kasus-kasus di atas hanya segelintir dari banyaknya kasus satwa dilindungi yang mati akibat penangkapan liar yang dilakukan pihak tak bertanggung jawab. Perlindungan terhadap satwa tampaknya belum menjadi perhatian khusus bagi pemerintah.

Pihak berwenang bergerak ketika kasus telah terjadi padahal yang dibutuhkan bukan hanya sekedar reaksi atas kasus, melainkan harus ada langkah preventif untuk mencegah masyarakat memasang jerat sehingga tidak ada lagi korban satwa berikutnya.

Modus jerat babi yang sering dijadikan alasan oleh masyarakat yang mempunyai usaha perkebunan di sekitar ekosistem satwa dilindungi juga harus ditindak tegas. Kelemahan-kelemahan yang ada seperti pemberian izin usaha bagi pebisnis untuk pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya harus dipertimbangkan dengan bijak dan pelanggaran harus diakomodir dengan pasal-pasal penegakan hukum yang kuat untuk menjamin perlindungan satwa.

Oleh karena itu, melalui petisi ini kami meminta pihak yang berwenang atas pemeliharaan satwa dilindungi dalam hal pemerintah dan DPR untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi satwa-satwa tersebut, melakukan langkah-langkah preventif dengan menertibkan usaha bisnis hutan atau kebun yang mengancam satwa liar dan memberikan sanksi tegas bagi mereka yang melanggar dengan memperkuat dan merevisi UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Saya Alam Hayati dan Ekosistem agar lebih menimbulkan efek jera. Selain itu, kami juga meminta Kemerinterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan peningkatan kuantitas  dan kualitas tenaga pengawas.

Mari tanda tangani petisi ini dan bersama-sama kita kecam tindakan penangkapan satwa dilindungi dan saling menjaga kelestariannya dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa. Selain itu juga tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati serta aktif melaporkan kejahatan satwa liar kepada pihak berwenang secara langsung ataupun melaui aplikasi E-Pelaporan Satwa Dilindungi.

Referensi Data:

https://www.detik.com/sumut/hukum-dan-kriminal/d-6057037/3-harimau-di-aceh-timur-mati-terjerat-2-orang-jadi-tersangka

https://www.merdeka.com/peristiwa/bbksda-riau-temukan-170-jeratan-perangkap-satwa-di-hutan.html

https://www.antaranews.com/berita/2530081/bksda-sebut-perangkap-jerat-ancam-kehidupan-satwa-liar-di-aceh

Dukung sekarang
Tanda tangan: 82Tujuan Berikutnya: 100
Dukung sekarang