Setujui Wanita Bercadar di Indonesia, Beri Kebebasan untuk Mereka

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Hai Semua, Salam Nusantara!

Kami adalah salah satu orang yang peduli dengan kesetaraan gender  di Indonesia. Kenapa kami tertarik dan peduli dengan kesetaraan gender? karena dalam kasus ini kerap terjadi ketimpangan gender salah satu contoh yang sering kita jumpai adalah aksi-aksi dan praktik bulliying khususnya terhadap wanita. Ketimpangan gender ini terus menerus merambat dalam kasus-kasus tertentu, salah satunya adalah dalam etika berbusana. Masuk tahun 2000 trend busana semakin hari semakin meningkat, baik trend busana lokal, adopsi dan juga kolaborasi.

Akhir-akhir ini banyak kalangan muda-mudi yang kerap membuat geger masyarakat karena cara berbusana mereka. Coba sesekali kita  ingat gaya busana yang pernah masuk yang di adopsi dari Barat, dengan gaya minim dan juga sangat kurang sopan. Tetapi hal semacam ini sudah menjadi biasa disebagaian kalangan masyarakat Indonesia. Kalau dilihat dari data statistik penduduk, Indonesia sudah jelas menunjukkan ada sekitar 87,18% atau 207 juta jiwa dari total 238 juta jiwa penduduk beragama Islam (Data Sensus Penduduk 2010). Walau Islam menjadi mayoritas, namun Indonesia bukanlah negara yang berasaskan Islam. Meskipun demikian, jika adopsi busana dari Barat terus menurus dibiarkan maka akan bertolak belakang dengan azaz budaya yang ada di Indonesia.

Trend-trend berbusana muda-mudi sekarang juga berpindah ke arah ketimur tengah. Banyak gerakan gerakan yang mengatasnamakan “hijrah” dan sekarang banyak wanita yang tertarik. Mulai tahun 2017 sampai masuk tahun 2018  trend busana bercadar ini meningkat jika dilihat secara berkala. Namun ada gejolak dibalik trend berbusana bercadar ini. Lucu sekali yang sebelumnya busana dengan gaya minim tidak di klaim sama sekali padahal sudah jelas bertolak belakang dengan azaz yang ada di Indonesia. Berbeda dengan trend baru sekarang, wanita yang menggunakan cadar menjadi sorotan, kerap dari mereka mendapat diskriminasi berupa bully, dilarang kerja di perusahaan tertentu, dilarang kuliah di kampus tertentu. Wah kalau ini dibiarkan sangat bertolak belakang dengan kebebasan HAK ASASI MANUSIA itu sendiri.

Kasus-kasus semacam itu masih contoh kecil, di curhatan kak Sheren Chamila Fahmi mengatakan wanita yang mengenakan jilbab syar’i (yang lebar) saja pun banyak yang mendapat pertentangan keras dari keluarganya. Ada yang sampai dikurung dan tidak boleh keluar-keluar. Ada yang kalau pulang ke rumah dan ketahuan punya pakaian syar’i, pakaiannya digunting-gunting lalu dibakar oleh keluarganya, itu baru keluarga inti, keluarga yang paling dekat, bagaimana sekeluarga besar? Itu baru diskriminasi dari pihak keluarga belum dari pihak masyarakat.

Di masyarakat sendiri, kami pun sering mendapatkan perlakuan diskriminatif. Dipandang secara sinis, dicaci, dimaki, dikata-katai, dipermalukan di depan umum. Ketika menjadi pembeli kami tidak mendapat perlakuan yang manis dari para pelayan, dan masih banyak lagi, di antaranya:

1. Ketika saya berada di Rumah Sakit di salah satu kawasan di Yogyakarta, ada seorang bapak yang mencaci saya dengan mengatakan “Dasar Setan” dengan intonasi dan nada penuh kebencian.
2. Bulan lalu saya diteriaki oleh seorang sales disebuah pusat perbelanjaan “WOI ISIS”. Saya juga pernah diteriaki “TERORIS” ketika sedang berjalan di tengah keramaian Malioboro.
3. Ketika saya sedang naik Commuter Line, saya malah dijadikan bahan ancaman oleh seorang ibu-ibu untuk menakut-nakuti anaknya agar anaknya diam, “Kalau kamu gak mau diam, Ibu kasih kamu ke dia.” Memangnya saya semenyeramkan itu?

4. Ketika di bandara saya diperiksa dengan pemeriksaan super ketat yang itu TIDAK DILAKUKAN KEPADA CALON PENUMPANG PESAWAT LAINNYA. Ketika masuk Mall tas saya diperiksa padahal pengunjung yang lain tidak.

5. Saya juga pernah dikatai oleh seorang Waria di Sunmor UGM, “Iii ada Mbak Ninja”, lha kaum kalian teriak-teriak tidak mau didiskriminasi lho kok malah mendiskriminasi orang lain?

Dari curhatan kak Sheren Chamila Fahmi, nampaknya cukup mewakili dari sekian banyak wanita bercadar yang mendapatkan perilaku deskriminasi. Oleh karena itu, Ayook!!! Dengan datangnya revolusi di tahun 2018, sudah waktunya kita membantu dan melindungi apa yang menjadi HAK ASASI MANUSIA. Mari kita bantu misi perlindungan dengan menandatangani petisi ini demi kenyamanan dan juga rasa toleransi bagi putera-puteri bangsa. Partisipasi anda, khususnya teman-teman yang peduli dengan kesetaraan gender, dalam petisi ini sangat berarti.

 

 


 



Hari ini: Tarno mengandalkanmu

Tarno Maryanto membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "STOP BULLY WANITA BERCADAR". Bergabunglah dengan Tarno dan 50 pendukung lainnya hari ini.