Bantu kami selamatkan hutan adat Sapalewa Batai dari kehancuran!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 5.000.


Kawan-kawan, salam kenal. Saya Reimond, warga Taniwel, di provinsi Maluku.

Saya menulis petisi ini karena saya khawatir sekali dengan masa depan hutan adat Sapalewa Batai yang diambang kehancuran. Hutan adat ini adalah tempat yang sangat sakral bagi kami masyarakat di Taniwel, Kasieh dan Nukuhai di Provinsi Maluku. Tanah di mana para leluhur kami dikuburkan.

Hutan adat ini merupakan tempat di mana tiga batu sakral yang kami percayai sebagai pelindung negeri atau desa kami berada. Selama berabad-abad lamanya, keberadaan batu-batu alam dan hutan adat ini juga melindungi sumber air negeri kami. 

Namun, perusahaan tambang marmer PT Gunung Makmur Indah (GMI) hendak membabat habis hutan adat ini. Mereka datang tanpa meminta persetujuan kami, hanya bermodalkan tanda tangan pejabat desa yang dipilih oleh pemerintah kabupaten, bukan dipilih masyarakat. 

Berbagai kajian yang kami lakukan bersama para akademisi menunjukkan bahwa pembukaan hutan adat Sapalewa Batai tak akan memberi manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Proyek ini hanya akan memberikan pekerjaan kepada 127 dari sekitar 20.000 masyarakat lokal. 

Sebaliknya, dampak lingkungan yang akan dihasilkan kalau hutan kita dibabat untuk jadi tambang marmer justru sangat besar dan membuat kami cemas. Sumber air bersih kami yang dilindungi oleh hutan dan batu-batu sakral bisa rusak. 

Kita juga tak yakin dengan kemampuan PT GMI menambang marmer. PT GMI adalah perusahaan tambang yang baru didirikan. Lebih-lebih lagi, PT GMI dipimpin oleh seorang konglomerat yang punya catatan kelam merusak hutan demi bisnis kayunya. 

Berbagai usaha telah kami minta kepada Bupati sampai Gubernur Maluku. Namun apa daya, tak ada respon berarti. Apakah mereka semua sudah bersekongkol dengan perusahaan atas nama investasi dan kepentingan pemodal besar?

Melalui petisi ini, kami hendak meminta kepada Ibu Siti Nurbaya Bakar sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar tidak memberikan izin kepada PT GMI untuk merusak lebih jauh hutan adat kami dengan alasan untuk menambang marmer. 

Pemerintah seharusnya berinvestasi pada kearifan lokal, bukan kepada perusahaan yang akan menghancurkan kehidupan adat serta lingkungan milik masyarakat.


Salam,

Reimond Nauwe

Aliansi Taniwel Raya (ANTARA)