REVISI PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN NOMOR 20/2018

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Saudaraku Sebangsa dan Setanah air..!

 

Beberapa hari lalu kicau mania ditanah air dikagetkan dengan keluarnya PERMEN LHK/20/2018 tentang 919 tumbuhan dan satwa yang dilindungi, dimana 562 diantaranya adalah jenis burung. 

Yang membuat kaget para kicau mania adalah ada beberapa jenis burung yang dipelihara dan menjadi favorit kicau mania baik untuk dipelihara ataupun dilombakan dan sudah berhasil ditangkarkan dengan baik, diantaranya adalah Murai Batu, Anis Kembang, Jalak Suren, dan cucak ijo.

Alasan pemerintah sudah tepat, akan tetapi apakah sudah mempertimbangkan dampak langsungnya dimasyarakat.

Seperti kita ketahui bersama dunia kicau mania sekarang sudah berubah menjadi dunia industri yang melibatkan perputaran uang milyaran rupiah, dan sudah ikut menumbuhkan perekonomian masyarakat, membuka lapangan kerja baru, ikut mengurangi angka pengangguran, mengurangi angka kriminalitas, mengurangi tingkat perjudian dimasyarakat.

banyak sekali masyarakat yang dulunya pengangguran, preman, penjudi sabung ayam, pensiunan ataupun yang masih aktif terjun kedunia burung. Ada yang menjadi penangkar, pedagang pakan, pedagang burung, pekerja kandang, perawat, joki, perajin asesoris, perajin sangkar, pembuat krodong, tas, pencari kroto, pedagang pisang, juri, penyelenggara lomba, dan masih banyak lagi yang tidak bisa sebutkan satu persatu.

PERMEN memang tidak berlaku surut itu artinya kita yang sudah memeliki burung yang masuk daftar tetap boleh memiliki dengan syarat yang sudah ditentukan.

Akan tetapi intinya bukan berlaku surut atau tidak, tetapi imbas dari PERMEN tersebut.

Memiliki mungkin bukan masalah, tetapi menjadi masalah ketika mau menjual atau membeli, menjual dan membeli burung dilindungi ada aturannya sendiri, kita bisa dipidana jika menyalahi aturan, bahkan penyelenggaraan lomba burung burung dilindungi  juga akan diatur oleh pemerintah. Tujuan penangkaran tentu untuk mendapatkan hasil dari sisi ekonomi, yaitu dengan menjual hasil tangkarannya, nah jika jual beli harus melalui aturan yang rumit, bahkan dilombakanpun rumit, maka orang akan malas membeli, ujung ujungnya, orang malas memelihara, efeknya lagi, jika tidak ada yang membeli penangkar jelas kelabakan, kemudian menimbulkan efek berantai, penangkar mengurangi produksi, efeknya, pengurangan tenaga kerja kandang, karena tidak mampu menggaji, efek lebih jauh karena tidak ada yang memelihara burung, dan melombakan burung, pabrik pakan burung gulung tikar, atau minimal mengurangi produksi, ribuan penangkar jangkrik, ulat hongkong tutup karena tidak laku, ribuan pencari dan penjual kroto nganggur karena tidak laku, ribuan perajin sangkar murai, cucak ijo, jalak suren, Anis kembang akan gulung tikar, karena produknya tidak laku lagi, belum perajin krodong, dan asesoris burung. Kemudian akan timbul pengangguran dimana mana, bahkan sekarang pun pasar pasar burung sudah mulai lesu, orang takut bertransaksi burung yang masuk daftar dilindungi yang notabene burung tersebut favorit dilomba lomba.

Selama ini dunia burung bisa berkembang sendiri menciptakan lapangan kerja, meningkatkan perekonomian rakyat, mulai dari kelas bawah sampai masyarakat kelas atas terjun kedunia burung, tidak ada sama sekali campur tangan pemerintah, kita tidak merugikan siapapun, kita tidak merusak apapun, bahkan EO, EO lomba sudah menerapkan lomba yang hasil penangkaran saja untuk burung burung yang sudah bisa ditangkarkan, ini bukti kalo kita perduli pelestarian. 

Keluarnya PERMEN LHK/20/2018 sungguh mengejutkan kami, memukul kami, dan membuat kami sedih, menjatuhkan kami ditingkat yang paling dasar. Kenapa kami yang mampu menggerakkan perekonomian mandiri justru direcoki dengan PERMEN yang tidak melakukan kajian dimasyarakat, tetapi hanya kajian dihutan. Mengapa Pemerintah tidak mengejar para pelaku pembalakan liar yang jelas jelas merusak habitat satwa dihutan dan memenjarakannya. Mengapa pemerintah masih memberi ijin HPH baru yang jelas jelas  merusak hutan dan segala isinya. trus mau kemana burung burung jika habitatnya rusak. Saya pikir mereka lebih aman dipenangkaran.

Mengapa justru dunia kicau mania yang jelas jelas menggerakkan ekonomi mandiri yang disasar sebagai biang langkanya satwa dihutan. 

Kami hanya meminta PERMEN LHK/20/2018 untuk ditinjau kembali, karena jika diteruskan akan membawa dampak yang luas, akan banyak anak anak putus sekolah, karena orang tuanya tidak mampu membiayai, akan muncul masalah sosial baru karena timbulnya angka pengangguran baru, dan kemisikinan baru.

Kami hanya meminta burung burung yang dilombakan khususnya Murai Batu, Cucak Ijo, Anis Kembang, Jalak Suren untuk dikeluarkan dari Daftar PERMEN tersebut.

 

Atas perhatianya kami sampaikan terima kasih.

 

 



Hari ini: Rosyid Abadi mengandalkanmu

Rosyid Abadi II membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Siti Nurbaya Bakar: REVISI PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN NOMOR 20/2018". Bergabunglah dengan Rosyid Abadi dan 7 pendukung lainnya hari ini.