Petition Closed
Petitioning Marzuki Alie and 2 others

Sidarto Danusubroto, Ketua MPR: Tolak nama Soeharto Sebagai Nama Jalan Medan Merdeka

Minggu, 1 September kemarin, suami saya bertanya, “sudah tau ada rencana nama Soeharto dijadikan nama Jalan Merdeka Barat atau Timur?” Saya terkejut. Saya langsung teringat anak saya Wawan, saat hidupnya banyak bercerita soal penyimpangan pemerintahan Soeharto. Dan saya harus menolak.

Itulah ingatan dan kesan pertama mendengar nama Soeharto dijadikan nama jalan utama di sekitar Monumen Nasional (Monas). Menjadikan Soeharto sebagai nama jalan, mungkin terlihat sepele. Tapi sesungguhnya menunjukkan pelupaan, bahkan perayaan penyimpangan kekuasaan masa lalu.

Dengan memulai petisi ini, saya ingin mengajak siapa saja yang masih bersimpati pada keluarga korban untuk menolak rencana pemberian nama Soeharto sebagai nama jalan Jl. Medan Merdeka.

Derita utama mereka, seperti juga saya, bukan soal ditinggal mati dan dampaknya ke kehidupan saat ini. Yang terberat adalah menggapai keadilan. Kematian korban-korban ini sewaktu-waktu dapat “dibalikkan” sebagai kematian sia-sia. Sebaliknya pelaku melenggang bebas bagai pahlawan.

Saya, dan para korban merasa dikhianati. Atau ibu-ibu lain yang kehilangan anak seperti saya, kehilangan suami atau bapaknya selama pemerintahan Soeharto. Boro-boro kasus selesai, pelakunya malah dirayakan! Soeharto adalah mantan Presiden RI yang mementingkan pribadi, keluarga, dan golongannya terutama memupuk kekayaan di atas kepentingan bangsa dan negara.

Era pemerintahannya diwarnai tindakan pelanggaran HAM berat. ABRI (nama TNI/Polri saat itu) dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaannya sehingga terjadi kekerasan negara dan banyak rakyat menjadi korban pelanggaran HAM berat.

Hasil penyelidikan Komnas HAM menunjukkan terjadinya pelanggaran HAM berat. Dari mulai pembantaian orang kiri atau yang dituduh komunis (65-66), Timor Timur (75-99), Tanjung Priok (84), Penembakan Misterius (82-85), Talangsari Lampung (89), 27 Juli (96), sampai penculikan dan pembunuhan mahasiswa (97-99).

Nah, sekali lagi saya mengajak Anda untuk menolak pemberian nama Soeharto untuk nama Jalan Medan Merdeka.

Letter to
Marzuki Alie
Ketua MPR RI Sidarto Danusubroto
Jimmly Asshiddiqie
Minggu, 1 September kemarin, muncul berita adanya rencana penggantian nama Jalan Merdeka Barat menjadi nama jalan Soeharto.” Saya terkejut. Saya langsung teringat anak saya Wawan, saat hidupnya banyak bercerita soal penyimpangan pemerintahan Soeharto. Dan saya harus menolak.

Itulah ingatan dan kesan pertama mendengar nama Soeharto dijadikan nama jalan utama di sekitar Monumen Nasional (Monas). Menjadikan Soeharto sebagai nama jalan, mungkin terlihat sepele. Tapi sesungguhnya menunjukkan pelupaan, bahkan perayaan penyimpangan kekuasaan masa lalu.

Dengan memulai petisi ini, saya ingin mengajak siapa saja yang masih bersimpati pada keluarga korban untuk menolak rencana pemberian nama Soeharto sebagai nama jalan Jl. Medan Merdeka.

Derita utama mereka, seperti juga saya, bukan soal ditinggal mati dan dampaknya ke kehidupan saat ini. Yang terberat adalah menggapai keadilan. Kematian korban-korban ini sewaktu-waktu dapat “dibalikkan” sebagai kematian sia-sia. Sebaliknya pelaku melenggang bebas bagai pahlawan.

Saya, dan para korban merasa dikhianati. Atau ibu-ibu lain yang kehilangan anak seperti saya, kehilangan suami atau bapaknya selama pemerintahan Soeharto. Boro-boro kasus selesai, pelakunya malah dirayakan! Soeharto adalah mantan Presiden RI yang mementingkan pribadi, keluarga, dan golongannya terutama memupuk kekayaan di atas kepentingan bangsa dan negara.

Era pemerintahannya diwarnai tindakan pelanggaran HAM berat. ABRI (nama TNI/Polri saat itu) dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaannya sehingga terjadi kekerasan negara dan banyak rakyat menjadi korban pelanggaran HAM berat.

Hasil penyelidikan Komnas HAM menunjukkan terjadinya pelanggaran HAM berat. Dari mulai pembantaian orang kiri atau yang dituduh komunis (65-66), Timor Timur (75-99), Tanjung Priok (84), Penembakan Misterius (82-85), Talangsari Lampung (89), 27 Juli (96), sampai penculikan dan pembunuhan mahasiswa (97-99).

Nah, sekali lagi saya mengajak Anda untuk menolak pemberian nama Soeharto untuk nama Jalan Medan Merdeka.