STOP KRIMINALISASI AKTIVIS

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Kronologis Singkat Kasus ITE Yang menyeret Sullam menjadi tersangka

Sullam adalah aktivis Jember yang selama ini getol mengkritisi kebijakan pemerintah Kabupaten Jember. 

Atas unggahan di akun facebooknya, sekitar tanggal 19 Mei 2019, tentang jalan rusak di desa Glundenhan Kecamatan Wuluhan, Sulam telah dilaporkan oleh seseorang yang merasa dirugikan atas unggahan statusnya. 

Kini, Sullam telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jatim.

Berikut Kronologisnya : 

- Sekitar Ahir tahun 2016 jalan Glundengan -Kemuningsari dilakungan pembangunan peningkatan jalan dgn pagu anggaran kurang lebih 4 milyar,sumber dana APBD Jember..pemenang tender PT Rajendra Pratama dgn penawaran 3,M lebih..selang tidak lama setelah proyek jalan selesai dibangun mulai terjadi kerusakan disejumlah titik..atas fakta tersebut saya menghubungi Kabid jalan dan jembatan Dinas PU Bina Marga yg waktu itu dijabat oleh Mulyantono via telpon ..dan saya meminta utk dilakukan perbaikan. Akan tetapi seingat saya tdk dilakukan perbaikan hingga kerusakan semakin terjadi disejumlah titik dari bulan ke bulan hingga peralihan tahun kerusakannya semakin parah. Singkat cerita pada tanggal 19 Mei 2019 saya bersama istri bertandang kermh mertua di sekitar pasar Sumberejo desa Glundengan kecamatan Wuluhan. Melewati jalan yg rusak berat dgn penerangan lampu mobil yg kurang terang saya mendapati gronjalan yg dahsyat hingga saya sempat berhenti karena kuatir kandungan istri saya yg sedang hamil terganggu..kemudian lanjut dgn cara jalan pelan2. Setelah itu pada malam itu juga saya bermaksud pulang kermh  Gumelar - Balung tidak jauh dari Sumberejo -Glundengan..tak jauh dari rmh mertua saya melihat kerumunan org dgn membawa peralatan seadanya..mulai lampu ..skrup..dan warga   tersebut secara gotong royong melakukan penutupan/penambalan lobang2 di jalan rusak tersebut..kemudian saya di berhentikan oleh satu warga karena ruas jalan sedang diperbaiki..mengingat saya mengenali salah satu warga tersebut hingga saya menyempatkan turun dari mobil dan menanyakan perihal kegiatan warga tersebut..mas Yudi yg saya kenal waktu itu menjelaskan bahwa perbaikan jalan dgn menutup lobang2 itu adalah hasik swadaya masyarakat..salah satu diantaranya minta di foto  hingga saya siapkan kamera handphone yg saya bawa. Sesampai dirmh hasil foto itu saya unggah di face book ..lalu pada bulan Agustus 13 saya hrs menghadiri panggilan dari Polda dgn sangkaan UU ITE. Begitu juga kades Glundengan Heri Hariyanto,keesokan harinya hrs memberi keterangan juga sebagai saksi..Menurut keterangan Pak Heri..dia sdh memberikan keterangan apa adanya dan membenarkan tentang terjadinya kerusakan jalan sejak baru selesai dibangun hingga pada akhirnya warga setempat dengan kesadarannya melakukan perbaikan dgn cara urunan/swadaya..saya menjadi kaget ketika kemarin sekitar jam 10 pagi ditelpon istri yg memberitahu dirmh ada tamu dari Polda Jatim sejumlah 3 org mengantarkan surat panggilan yg menurutnya merupakan panggilan ketiga..sementara panggilan kedua tidak pernah saya dapatkan..padahal penyidik yg memeriksa saya diawal pemeriksaan mencatat nomer handphone saya. Bahkan pernah WA saya meminta dokumen akte pendirian Lembaga Advokasi Dan Pengawasan Anggara (LAPAP) dimana saya sebagai ketuanya. setelah petugas dari Polda Jatim tersebut pulang..istriku membuka surat panggilan tersebut dan isi suratnya berupa pengalihan status saya dari saksi menjadi tersangka..Tidak dapat dibayangkan psikologi istri saya waktu itu. (Kemarin tanggal 2 Nopember 2019). Dan pada hari Selasa besok saya hrs datang ke Polda utk diperiksa kembali..Pertanyaannyavsiapa yg merasa dirugikan..kalau mmg jalan itu  ternyata tdk dibangun sesuai spek..maka negara dan rakyat yg dirugikan..mengapa saya harus menjadi tersangka...Allahu Akbar