Ilmu membuang sampah

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Pada saat ini, sampah plastik sudah menjadi permasalahan serius di Indonesia, terutama di daerah perkotaan. Kebanyakan masyarakat memilih untuk membuang sampah plastik diberbagai tempat umum seperti di jalan, sungai atau perkarangan kosong. Penumpukan sampah yang melebihi batas telah muncul di beberapa kota besar, Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) penuh. sehingga mencemari lingkungan dan dapat menimbulkan penyakit yang berada disekitar pemukiman penduduk, bahkan bahaya banjir dapat mengancam akibat pembuangan sampah yang sembarangan. Di Indonesia, menurut data Greenpeace Indonesia, produksi sampah di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 65 juta ton per tahun. Sebanyak 10,4 juta ton atau 16 persen merupakan sampah plastik. Dari 10,4 juta ton itu, sampah yang didaur ulang hampir 1 juta ton atau sekitar 9 persen dan yang dibakar sekitar 1,2 juta ton atau sekitar 12 persen. Artinya, 8,2 juta ton atau 79 persen sampah plastik berakhir begitu saja di TPA maupun tempat umum seperti pantai.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Seperti diketahui, sampah dan botol plastik diduga menjadi polutan terbesar yang mencemari laut dan pantai. Setiap tahun, diperkirakan lautan di dunia harus menanggung beban sampah plastik sampai 12,7 juta ton. Meski belum ada data valid, Indonesia diduga menjadi penyumbang sampah plastik nomor dua dari daftar 20 negara paling banyak membuang sampah plastik ke laut. Diperlukan sinergi untuk mendapatkan solusi yang efektif dalam mengelola sampah botol plastik. Permasalahan ini pada akhirnya dapat diselesaikan jika seluruh pihak memberikan kontribusi nyata.