Victory

Gara-gara membuka isi telepon seluler suami, saya dipukuli berulang-ulang di hadapan putri sulung saya, 9 November lalu. Saya, Siti Rubaidah, istri sah wakil walikota Magelang Joko Prasetyo. Saya buta hukum, tapi saya sudah adukan ke polisi agar suami saya ditindak secara hukum.

Bella dan Aulia dipisahkan dari saya dan dipaksa ikut bapaknya. 
Pada 13 November jam 10 malam, ketika anak-anak tidur bersama saya di rumah kami di Kampung Trunan, suami saya teriak-teriak marah, disaksikan tetangga, membawa paksa anak-anak ke rumah dinas, diikuti pengusiran adik-adik kandung saya yang ikut saya di rumah. Esoknya, saya terpaksa keluar dari rumah tinggal kami dan mengungsi di rumah Bu Nyai Musyarofi di Kampung Malangan. 

Saya berusaha bertemu anak-anak, tapi tak diijinkan. 
Lalu minta bantuan kerabat dekat suami, sesepuh, tokoh masyarakat dan tokoh agama, tapi gagal. Barangkali perlu pihak lebih berwenang atas masalah ini. Karena itu saya memulai petisi www.change.org/sayainginbertemuanak, meminta Mendagri mengambil langkah-langkah terhadap Walikota Magelang, khususnya suami saya - wakil walikota Magelang Joko Prasetyo, yang ternyata memiliki istri siri diam-diam. 

Saya betul-betul terkejut saat berniat pulang ke rumah dinas untuk berkumpul dengan anak-anak, pada 22 November. 
Di luar dugaan, saya menemukan seorang perempuan yang menurut pengakuan suami adalah istri sirinya. Saya teringat, Joko pernah mengaku menikah siri. Saya didorong ke luar rumah dinas. Dia bilang ini rumah dinas Wakil Walikota, siapa yang berhak dia bawa ke rumah dinas adalah haknya. Saya boleh kembali ke rumah dinas dan menemui anak-anak jika atas seijinnya. 

Di tengah keputusasaan dan kebingungan yang amat sangat, malam itu saya bulatkan hati untuk mengadukan persoalan yang menimpa saya dan anak-anak. Saya mengadu ke Polres Kota Magelang atas kekerasan yang dilakukan suami terhadap saya, di rumah tinggal kami di Kampung Trunan, pada 9 November; dan atas tindakannya melarang saya untuk ketemu anak-anak di rumah dinas, pada 22 November 2012.

Sekali lagi, saya ingin bertemu dengan anak-anak. Saya meminta Polres ajukan ke Kejaksaan hingga ada hukuman seadil-adilnya atas tindakan suami saya. Klik di sini untuk mendukung petisi saya dan ajak teman-teman.  

Wassalam,  

Siti Rubaidah

Letter to
Menteri Dalam Negeri RI Gamawan Fauzi
Anggota DPRD-Ketua Apindo Edi Sutrisno
Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Magelang BP Jayus
and 9 others
Wakil Walikota Magelang Joko Prasetyo
Walikota Magelang Sigit Widyonindito
Ketua DPRD Kota Magelang Suryo Yudho
Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo
Satgas Perlindungan Anak Muhammad Ihsan
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Badriyah Fayumi
Ketua Komnas Perempuan Yuni Chuzaifah
Ketua DPR RI Marzuki Alie
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono
Pertemukan Siti Rubaidah dengan Anak-anaknya

Gara-gara membuka isi telepon seluler suami, saya dipukuli berulang-ulang di hadapan putri sulung saya, 9 November lalu. Saya, Siti Rubaidah, istri sah wakil walikota Magelang Joko Prasetyo. Saya buta hukum, tapi saya sudah adukan tindakan suami saya ke polisi agar diproses hukum seadil-adilnya.

Anak-anak, Bella dan Aulia dipisahkan dari saya dan dipaksa ikut bapaknya. Pada 13 November jam 10 malam, ketika anak-anak tidur bersama saya di rumah kami di Kampung Trunan, suami saya teriak-teriak marah, disaksikan tetangga, membawa paksa anak-anak ke rumah dinas, diikuti pengusiran adik-adik kandung saya yang ikut saya di rumah. Esoknya, saya terpaksa keluar dari rumah tinggal kami dan mengungsi di rumah Bu Nyai Musyarofi di Kampung Malangan.

Saya berusaha bertemu anak-anak, tapi tak diijinkan. Lalu minta bantuan kerabat dekat suami, sesepuh, tokoh masyarakat dan tokoh agama, tapi gagal. Barangkali perlu pihak lebih berwenang atas masalah ini. Karena itu saya memulai petisi www.change.org/sayainginbertemuanak, meminta Mendagri mengambil langkah-langkah terhadap Walikota Magelang, khususnya suami saya - wakil walikota Magelang Joko Prasetyo, yang ternyata memiliki istri siri diam-diam.

Saya betul-betul terkeju saat berniat pulang ke rumah dinas untuk berkumpul dengan anak-anak, pada 22 November. Di luar dugaan, saya menemukan seorang perempuan yang menurut pengakuan suami adalah istri sirinya. Saya teringat, Joko pernah mengaku menikah siri. Saya didorong ke luar rumah dinas. Dia bilang ini rumah dinas Wakil Walikota, siapa yang berhak dia bawa ke rumah dinas adalah haknya. Saya boleh kembali ke rumah dinas dan menemui anak-anak jika atas seijinnya.

Di tengah keputusasaan dan kebingungan yang amat sangat, malam itu saya bulatkan hati untuk mengadukan persoalan yang menimpa saya dan anak-anak. Saya mengadu ke Polres Kota Magelang atas kekerasan yang dilakukan suami terhadap saya, di rumah tinggal kami di Kampung Trunan, pada 9 November; dan atas tindakannya melarang saya untuk ketemu anak-anak di rumah dinas, pada 22 November 2012.

Sekali lagi, saya ingin bertemu dengan anak-anak. Saya meminta Polres ajukan ke Kejaksaan hingga ada hukuman seadil-adilnya atas tindakan suami saya.

Wassalam,

Siti Rubaidah


Kronologi kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Wakil Walikota Magelang Joko Prasetyo pada istri, Siti Rubaidah.

Sekitar enam bulan lalu, saya menemui hal-hal yang sangat ganjil pada suami saya (Joko Prasetyo). Hampir setiap hari marah tanpa sebab dan alasan yang jelas. Dan akibat kemarahannya tersebut tak jarang Joko Prasetyo melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga berupa penamparan, tendangan, membanting HP, benda apapun yang ditemui dan memukul dengan sandal.

Tapi perlakuan tersebut coba saya terima dengan alasan mungkin suami sedang ada masalah dengan pekerjaan, karena tidak bisa melampiaskan kemarahan pada orang lain barangkali kalau sudah melampiaskan kemarahannya pada saya bisa meringankan bebannya, sehingga besoknya kalau mau kerja bisa fresh di tempat kerja. Dan biasanya saya mencoba menutup-nutupi perlakuan tersebut dari anggota keluarga yang lain dengan cara masuk ke kamar.

Suatu malam gara-gara saya asyik menjawab BBM dan twitter dari beberapa teman, dengan tiba-tiba suami saya Joko Prasetyo mengambil paksa BB saya dan membantingnya kemudian dia marah-marah mengatakan bahwa saya tidak perhatian pada suami. Di luar dugaan, pintu kamar di buka dan suami saya memanggil ibu kandung saya Shofi'ah yang saat itu ikut tinggal bersama kami di rumah dinas. Suami saya minta ibu menasehati saya, tapi justru salah paham yang terjadi. Dan akhirnya perang mulut antara suami dan ibu saya pun terjadi. Sehingga suami saya bilang: silakan bawa “ida” pulang ke Kudus.

Cekcok berlanjut bahkan anak saya Bella memanggil guru ngajinya Ustadz Muqoddam untuk datang ke rumah dinas. Saya berusaha pergi dari rumah dinas (rumdin) tapi berhasil dicegah suami. Ibu dan anak anak yang mengira saya sudah pergi dari rumah dinas dijemput Ustadz Muqoddam untuk keluar juga dari rumdin. Suami saya menghalang-halangi anak saya Bella dan Aulia serta adik perempuan kandung saya Ziyyana Walida keluar dari rumdin. Tapi Ibu tetap ngotot pergi dan sempat terucap kata sumpah serapah suami saya kepada ibu “Dasar bojo (istri) tukang becak”. Malam itu ibu saya nginap di rumah Ustadz Muqoddam.

Paginya saya ajak anak saya yang kedua Aulia Mahardika Prasetyaningtyas pergi diam diam dari rumdin dan pulang ke Kudus. Beberapa hari setelah ibu tahu saya di Kudus, akhirnya menyusul pulang ke rumah kami di Kudus. Sejak kasus itu ibu menasehati saya agar tidak diam saja jika mendapat perlakuan KDRT dari suami, memberi pelajaran kepada suami dengan melarang saya pulang ke Magelang sebelum dijemput oleh suami. Saya menunggu dan berharap maksimal seminggu saya sudah dijemput suami. Tetapi kenyataannya tak ada kabar bahwa suami akan jemput dan ketika Bella pamit bapaknya untuk jemput saya pun dilarang oleh suami. Mengingat dan menimbang Bella sedang menghadapi test seleksi masuk SMP II kota Magelang, dan suami tak ada niat jemput sayapun beranikan diri minta ijin ibu untuk pulang Magelang. Akhirnya diijinkan tp ibu tidak mau balik ke Magelang lagi.

Pada suatu hari di bulan Suci Ramadhan, karena alas an yang saya tidak jelas pula suami saya marah-marah. Dan karena saya sudah traumatic sering dipukul, maka saya tidur di kamar anak. Ketika waktu Sahur tiba saya ketemu suami yang juga sedang ambil makan sahur di ruang makan. Tanpa saya duga sebelumnya suami saya meludahi muka saya. Demikian pula saat saya terlambat menyediakan makanan ringan untuk berbuka puasa sayapun menerima perlakuan diludahi muka saya.

Suatu hari suami saya meminta tolong kepada saya untuk mengaktifkan lagi BB yang dia punya dan membuatkan aplikasi facebook serta twitter di BB nya. Ketika saya buka kontak kontak BB-nya saya menemukan percakapan dengan nama “Zahra” dan melalui percakapannya saya mencium gelagat tidak enak. Sayapun buka semua HP suami dan saya tambah bingung, karena di beberapa bekas pembicaraan dengan nama kontak yang berbeda saya temukan panggilan-panggilan mesra dari beberapa perempuan kepada suami saya. Ada yang panggil papa, ayah, papi. Ketika saya komplain, suami saya bilang itu adalah panggilan anak anak asuh di Magelang Soccer Academi (MSA) dan beberapa pemain PPSM yang gajinya belom dibayarkan. Beberapa waktu kemudian dia ganti nama nama kontak HP dan BB nya. Seperti dari nama Christin Y menjadi Christiano.

Bahkan pernah dalam kondisi hubungan intim dia meminta ijin saya untuk menikah dengan janda, yang lebih tua dan kaya. Tapi saya jawab: “Jangan ngacau dan saya tidak akan ijinkan” Setelah kejadian itu seringkali suami saya berkata sendiri bahwa: “Janda dan anak telantar dipelihara oleh Negara, dan karena saya pejabat Negara maka saya wajib melindungi janda dan anak telantar".

Sekitar Tanggal 15/10/2012 melihat hal hal yang tidak sewajarnya seperti telpon tengah malam dengan suara yang sangat pelan. Kemudian kecurigaan tersebut dibuktikan dengan membuka BB Joko Prasetyo ada pembicaraan-pembicaraan yang tidak lazim yang mengindikasikan adanya perselingkuhan dengan perempuan yang bernama Nur Hayati. Ada juga SMS ada dua nama yaitu Nur Wasir dan Nur Simp. Sebagai seorang istri tentu saya ada rasa sakit hati dan penasaran, sehingga saya coba SMS perempuan tersebut yang isinya “siapapun anda dan di manapun anda berada, tolong pahami jika posisi anda atau anak perempuan anda berada pada posisi seperti saya. Atau anda justru bangga sebagai perebut suami orang. JIka demikian ingat akan ada hari pembalasan dan doa orang teraniaya akan terkabul". Waktu itu suami saya langsung telepon sambil marah-marah, dan SMS “tak jar-jarke wis kelewatan kowe, mengko bengi tak jelaske kabeh (saya biarkan lama-lama kamu menjadi jadi. Nanti saya jelaskan semua).”

Sekitar Tanggal 18/10/2012 setelah pulang dari Jakarta, Joko Prasetyo bukannya langsung memberi keterangan pada saya (Siti Rubaidah), tapi malah mencoba merayu saya akan nyariin pekerjaan pada adik-adik saya, dan mengungkit keberadaan orang tua saya waktu di rumah dinas. Karena merasa arah pembicaraan yang melenceng pada fokusnya saya tidak mau berlama-lama lagi meminta dia untuk menerangkan apa yang terjadi sebenarnya seperti janjinya waktu itu. Akhirnya dia menjelaskan pada saya, bahwa dia telah nikah siri dengan seorang perempuan tanpa menyebutkan identitasnya dan sudah berjalan sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu saya terkejut dan tidak bisa terima perlakuan suami pada saya, saya emosi. Untuk pertama kalinya saya gunakan tenaga saya untuk mengacak-acak kamar. Belum puas juga meluapkan emosi saya, saya minta ijin suami untuk meludahi dia karena dia juga pernah meludahi saya dua kali. Waktu itu dia bilang: ”silahkan tapi kalau lebih dari dua kali akan saya balas”.

Paginya, tanggal 19/10/2012 saya minta izin ke suami untuk pulang ke Trunan bersama anak-anak dan adik diantar oleh Pak Eko.

Tanggal 24/10/2012, suami datang ke Trunan mengajak bicara anak-anak di hadapan saya kalau dia telah berbuat salah dengan mempunyai simpanan dan berjanji bahwa tidak akan berkurang kasih sayangnya kepada kami, tidak akan mengenalkan simpanannya tersebut kepada anak-anak, dan tidak akan membawa ke rumah dinas simpanannya tersebut dengan suara yang keras sehingga sampai terdengar oleh adik-adik dan teman-temannya yang di dalam kamar. Pada kenyataannya, semua janjinya itu telah dilanggarnya sendiri.

Tanggal 26/10-2012, ba'da shalat Jum'at bertepatan dengan Hari Raya Idul Qur'ban sekitar jam 2 siang, suami datang sendiri dan mengajak saya bersama anak-anak ke Jogja di Progo Swalayan. Sementara anak-anak bermain di Kids fun, dia menjelaskan kpd saya kenapa dia nikah siri dan tidak bisa melepaskan perempuan yang dinikahi tersebut karena merasa bahwa itu sudah menjadi jodohnya. Dia siap menanggung segala resikonya, bahkan kalaupun harus turun dari jabatannya, bahkan sempat ngomong kalau dia tidak “patheken” dengan jabatannya. Malam itu kami dan anak-anak dipaksa untuk pulang ke rumah dinas. Di depan anak-anak disaksikan saya, suami bilang kalau siang boleh pergi jalan-jalan kemana saja, tapi kalau malam harus pulang ke rumah dinas.

Tanggal 27/10/2012, sekitar jam 6 pagi suami mengantar anak pertama kami, Bella ke sekolah. Saya dan Aulia ikut serta. Kami sempat makan di gudeg “Rukun” dan melihat suami telpon seseorang secara sembunyi-sembunyi. Kemudian saya mengajak suami untuk menitipkan Aulia di Trunan pada tantenya. Kami berdua kemudian pergi ke Jogja lagi. Di sepanjang perjalanan, saya menawarkan komitmen kepada suami:
1. Menerima kehadiran perempuan lain tersebut, dalam jangka waktu 1 tahun
2. Meminta suami untuk tidak memakai fasilitas Negara jika berkencan dengannya.
3. Meminta suami agar membeli/kontrak rumah di luar kota/kabupaten Magelang untuk berkencan.
4. Meminta suami untuk bertemu dan berkencan dengan perempuan tersebut jika hari libur satu hari dalam seminggu
5. Meminta suami meminta maaf kepada ibu saya di Kudus.

Satu persatu komitmen tersebut dilanggarnya. Tanggal 3/11/2012 saya dan suami menghadiri acara lamaran keponakan kami yaitu anak dari Tri Djoko Minto Nugroho. Selesai acara tersebut, kami juga sempat bertengkar hebat di rumah kakak Tri Djoko Minto Nugroho sekitar jam 8 malam, hingga Joko Prasetyo melakukan penamparan, melempar saya dengan HP dan meludahi saya disaksikan oleh kakak-kakak. Setelah selesai kejadian itu HP yang dipakai melempar muka saya simpan. Pertengkaran itu disebabkan karena perselingkuhan suami.

Tanggal 7/11/2012 saya berhasil menemukan kunci laci lemari suami, saya berencana mengambil cincin pernikahan saya tapi karena saya menemukan cincin lain dalam wadah cincin tersebut maka sayapun mengambilnya. Kemudian saya menemukan ATM BCA suami di dalam dompet. Pada hari itu juga saya ambil dana dalam ATM tersebut karena ternyata PIN-nya masih sama ketika saya diminta buat oleh suami saat buat ATM. Saya menarik dana 1 juta dari ATM. Kemudian saya ke rumah Saudara Rahayu Kandiwati meminta pendapat kalo menjual cincin milik bapak untuk rencana cari kredit rumah sebagai persiapan jika rumah tangga saya tidak bisa diselamatkan. Dan kemudian dibantu sopir, cincin suami tersebut saya jual di toko Emas Pak Tani dengan harga beli Rp2,4 Juta. Setelah itu saya dan sopir ke BRI Kanca Shopping menabung uang dari tarik ATM dan hasil penjualan cincin sejumlah Rp3,5 Juta.

Tanggal 9/11/2012 suami saya pulang ke rumah dinas sekitar pukul 04.00 dini hari dengan membawa sekresek uang yang katanya akan dipakai membayar hutang saudara Buyung Rusmanto. Dan dia mengatakan hari Senin saya suruh mengembalikan uang tersebut .
Sekitar pukul 06.00 ketika mau mengantar anak-anak sekolah, saya melihat Blackberry suami (yang sejak saya buka dan ada pembicaraan yang mengarah perselingkuhan kemudian selalu disimpan rapat dilemari yang dikunci setiap tidur) tergeletak disamping tempat tidurnya. Sehingga saya berniat membuka dan membaca percakapan suami dengan perempuan simpanannya akhir-akhir ini.

Sekitar pukul 07.00 saya bersama sopir mampir ke rumah sahabat saya untuk kemudian semua bukti foto serta percakapan suami bersama WIL nya di foto dan disimpan dalam Blackberry saya, lalu saya titipkan ke saudara saya.

Pukul 10.00 saya jemput anak saya Aulia dan kami pulang ke rumah kami di Jl Ketepeng 3 Trunan.

Pukul 14.00 suami bersama anak kami Bella Mustadl'afina datang. Suami menanyakan apakah saya mengambil BB nya, saya jawab iya. Kemudian dia meminta, tapi karena BB tidak ada, saya jawab besok saya kembalikan. Mendengar jawaban tersebut suami justru kalap dan memukul saya berulang kali dengan sandal karet warna hitam disaksikan Bella yang duduk di sebelah saya. Saya berusaha meminta tolong dengan cara meminta Bella memanggal sopir kami. Saya pun berusaha berdiri dan lari tapi malah didorong masuk kamar tidur dan kembali ditampar beberapa kali. Bahkan ketika sopir masuk, suami berteriak jangan masuk ke dalam urusan rumah tangga dan dia sempat melihat suami menampar beberapa kali.

Setelah itu dia panggil anak-anak dan diajak balik ke rumah dinas, dan berteriak agar adik-adik kandung saya yang tinggal di Trunan pergi dari rumah. Dan pada waktu itu anak-anak dibawa paksa pulang ke rumah dinas, tapi saya ditinggal tidak diajak pulang. (Dengan demikian tuduhan suami yang mengatakan saya minggat pergi dari rumah tidak benar)

Tanggal 12-13/11/2012 suami pergi ke Jazkarta, sehingga saya meminta anak-anak tidur di rumah Trunan.

Tanggal 13/11/2012 pukul 20.00 suami mengetuk pintu sangat keras dan karena kami sangat ketakutan di dalam dan anak-anak sudah tidur maka kamipun tak membuka pintu. Suami berusaha masuk rumah dan berhasil masuk lewat jendela kamar. Kemudian mencoba masuk kamar tidur saya dan anak-anak yang saya kunci. Karena saya juga tidak membuka dia kalap dan berusaha menjebol pintu dan teriak-teriak marah hingga semua tetangga kiri kanan keluar dari rumah dan menonton keributan di rumah kami. Saya sempat SMS ke kawan dan adik saya. Ketika adik mencoba menenangkan suami justru dia diusir dari rumah dan diancam jika masih memakai motor kami. Malam itu juga akhirnya anak-anak dipaksa pulang ke rumah dinas.

Tanggal 14/11/2012 saya bersama 3 orang adik dan seorang keponakan akhirnya pindah ke rumah Bu Nyai Pondok TIDAR yang berada di Kampung Malangan.

Tanggal 22/11/2012 berdasarkan informasi teman-teman ternyata WIL suami sudah tinggal di rumah dinas selama 4 malam. Atas saran semua sahabat dan saudara saya beranikan diri pulang ke rumah dinas didampingi dua teman. Di luar dugaan ketika saya balik rumdin saya melihat WILnya di sana dan sempat saya tanya “siapa kamu” tapi justru dijawab suami bahwa dia istrinya. Saya didorong keluar rumah dinas mengatakan bahwa ini rumah dinas Wakil Walikota bukan rumah dinas Bu Wakil Walikota. Sehingga dia yang berhak memasukkan siapa yang dia mau. Saya berusaha keras masuk kembali ke dalam rumah tapi selalu dihalangi. Saya sempat lari ke dua pintu masuk tapi selalu berhasil dihalangi, hingga suatu ketika saya terpental jatuh didorong suami. Di tengah keputusasaan saya putuskan balik dan meminta dua teman yang antar untuk membuat aduan ke Kapolres Kota Magelang.