Petisi ditutup

#SaveReogPonorogo - STOP PEMBODOHAN dan PEMBOHONGAN PUBLIK

Petisi ini mencapai 1.316 pendukung


PERNYATAAN KJRI DI DAVAO DAN MENLU RI TERKAIT PEMBAKARAN REOG DAN HIASAN GAMELAN DI KJRI DAVAO – PILIPINA ADALAH BENTUK PEMBODOHAN PUBLIK

Pernyataan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Davao City – Pilipina terkait pembakaran REOG dan hiasan gamelan sebagaimana diberitakan di beberapa media adalah bentuk PEMBODOHAN PUBLIK untuk masyarakat Indonesia umumnya serta masyarakat pecinta dan pelestari warisan seni budaya luhur Nusantara khususnya.

Dalam klarifikasinya melalui siaran Pers yang dikirimkan ke beberapa media, Sabtu (31/10/2015), KJRI Davao City menyatakan bahwa : "Pada tanggal 20 Oktober 2015, KJRI Davao City terpaksa melakukan pemusnahan reog Ponorogo yang telah menjadi aset KJRI Davao sejak 1988. Pemusnahan dengan cara dibakar tersebut terpaksa dilakukan karena reog Ponorogo sudah dalam kondisi rusak dan dimakan rayap" (http://www.merdeka.com/dunia/diprotes-lantaran-bakar-reog-ponorogo-ini-penjelasan-kjri-davao.html). Lebih lanjut dalam pemberitaan tersebut disampaikan pula pernyataan Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi yang mengatakan bahwa : "Reog dan hiasan gamelan berupa kepala naga dibakar karena sudah rusak dan penuh dengan rayap". Bahkan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia sebagaimana diberitakan oleh http://internasional.metrotvnews.com/read/2015/10/31/446247/pembakaran-reog-ponorogo-tidak-ada-kaitan-dengan-berhal mengatakan : "Saya sudah cek Davao. Reog dan kepala naga tersebut rusak dan dipenuhi rayap," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi via juru bicara Arrmanatha Nasir kepada Metrotvnews.com, Sabtu (31/10/2015).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya di http://bitungnews.com/2015/10/29/dianggap-berhala-reog-dan-hiasan-naga-gamelan-di-kjri-davao-dibakar/ dikatakan bahwa :

Alasan pembakaran Barong Reog Ponorogo, dan hiasan naga pada gamelan, karena ada setan dan merupakan berhala. Sayangnya Acting KJRI Loegeng Priyohanisetyo, tak menghalangi aksi pembakaran tersebut.

Justru Acting KJRI Davao  memanggil satpam yang bernama Santander untuk menyirami gas di atas reog dan 2 ular naga gamelan, satpam begitu heran dan terkejut katanya dalam bahasa Tagalog Bisaya:

”Hadluk kaayu ko, sayang kaayu ang dragon gwapo kaayu unya sunugon, kasayang sa reog pero gisugo man ko (saya ketakutan sekali sayang sekali ularnaga itu bagus sekali terus mau dibakar, reognya sayang sekali tapi bagaimana lagi saya disuruh),” kata Santander.

”Saat pembakaran Barong Reog dan hiasan naga gamelan, yang merupakan inventaris museum budaya KJRI, tidak satupun staf KJRI lain yang tahu,” kata sumber bitungnews.com.

“Setelah kejadian ini, para pelaku dihujat oleh sebagian besar WNI yang berada di Davao, namun para pelaku merasa tetap tidak bersalah karena menurut mereka apa yang mereka kerjakan adalah benar dimata Tuhan, ” tambah sumber tersebut.

Dalam pemberitaan tersebut ditampilkan pula foto proses pembakaran Reog Ponorogo dan hiasan Gamelan berbentuk kepala Naga. Namun, apabila kita mencermati foto proses pembakaran Reog dan hiasa Gamelan tersebut, kita akan melihat beberapa fakta (kejanggalan) yang menunjukkan bahwa pernyataan KJRI Davao dan Menlu RI adalah tidak benar dan mengada-ada.

Berikut ini, saya sampaikan beberapa CATATAN TERKAIT KEJANGGALAN-KEJANGGALAN atas FAKTA sebagaimana terlihat dalam FOTO PROSES PEMBAKARAN dibandingkan dengan PERNYATAAN KJRI DAVAO DAN MENLU RI, agar seluruh masyarakat Indonesia, khususnya rekan-rekan pecinta dan pelestari warisan seni budaya luhur Nusantara dapat menilai secara obyektif pernyataan KJRI Davao dan MENLU RI dengan membandingkan fakta pada foto proses pembakaran Reog dan hiasan Gamelan di KJRI Davao.

1.    KJRI Davao City mengatakan bahwa : "Pada tanggal 20 Oktober 2015, KJRI Davao City terpaksa melakukan pemusnahan reog Ponorogo yang telah menjadi aset KJRI Davao sejak 1988. Pemusnahan dengan cara dibakar tersebut terpaksa dilakukan karena reog Ponorogo sudah dalam kondisi rusak dan dimakan rayap". Lebih lanjut pula pernyataan Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi yang mengatakan bahwa : "Reog dan hiasan gamelan berupa kepala naga dibakar karena sudah rusak dan penuh dengan rayap". Bahkan Menlu RI mengatakan bahwa : "Saya sudah cek Davao. Reog dan kepala naga tersebut rusak dan dipenuhi rayap".

KEJANGGALANNYA ADALAH :

Benarkah benda yang disimpan di Museum, dalam hal ini Reog dan Gamelan yang disimpan di Museum Budaya KJRI Davao – Pilipina dimakan rayap...???  Saya pikir sistem dan prosedur pemeliharaan / perawatan benda di museum apalagi Museum Budaya KJRI Davao – Pilipina tidak seteledor itu sehingga sampai ada benda didalamnya yang rusak dimakan rayap. Ditambah lagi, kalau kita melihat foto yang saya beri tanda Nomor 1, terlihat baik Reog maupun hiasan Gamelan berbentuk kepala naga tampak masih bagus, tidak terlihat keropos sebagaimana umumnya benda dimakan rayap. Saya pikir KJRI Davao tidak sebodoh ini dengan memusnahkan benda museum tanpa mendokumentasikannya terlebih dahulu. Untuk membuktikan bahwa Reog maupun hiasan Gamelan tersebut memang sudah rusak dimakan rayap, beranikah KJRI Davao menayangkan foto-foto atau dokumentasi detail sebelum pemusnahan...???

Selanjutnya, apabila ternyata benar bahwa Reog dan hiasan Gamelan tersebut memang benar sudah rusak dimakan rayap, apakah harus dimusnahkan dengan cara dibakar...? Mengapa tidak mencoba untuk menyemprotkan obat pembasmi rayap selanjutnya tetap menyimpan Reog dan hiasan Gamelan tersebut meski sudah dimakan rayap. Toh seperti yang saya ketahui, benda seni budaya tetap mempunyai nilai tinggi apapun dan bagaimanapun keadaannya.

Diberitakan di http://bitungnews.com/2015/10/29/dianggap-berhala-reog-dan-hiasan-naga-gamelan-di-kjri-davao-dibakar/ bahwa : ”Saat pembakaran Barong Reog dan hiasan naga gamelan, yang merupakan inventaris museum budaya KJRI, tidak satupun staf KJRI lain yang tahu”. Saya pikir ini merupakan bentuk kecerobohan KJRI Davao. Bagaimana mungkin proses penghapusan benda inventaris MUSEUM BUDAYA KJRI dilakukan tanpa prosedur yang jelas. Semisal dilakukan atas dasar konsultasi terlebih dahulu, sehingga bisa diambil tindakan yang lebih bijak.

Sepengalaman saya, untuk menghapus apalagi memusnahkan INVENTARIS NEGARA tidak sesederhana seperti apa yang dilakukan KJRI Davao. Pernah beberapa kali saya mencoba MEMINTA bahkan BERSEDIA MEMBELI beberapa barang inventaris PEMKOT MAGELANG yang memang sudah rusak dan mangkrak baik di gudang maupun halaman belakang kantor, tapi ternyata tidak bisa, karena harus ada prosedur-prosedur ribet seperti diantaranya  membuat BERITA ACARA PENGHAPUSAN INVENTARIS yang harus diferifikasi beberapa pihak terkait, baik dari Badan Pengelola Aset dan Kekayaan Daerah, SKPD terkait, dan lain sebagainya. Padahal barang rusak mangkrak yang mau saya minta atau beli hanya kursi putar yang benar-benar sudah tidak bisa dipakai dan patah di bagian sandaran dan beberapa kakinya, meja komputer yang sudah patah dibeberapa bagian, casing CPU yang sudah karatan dan beberapa barang lainnya yang sudah rusak dan tidak mereka pakai. Petugas Pemkot Magelang mengatakan “harus menunggu proses lelang barang bekas inventaris kalau memang mau membeli”.

Nah yang dilakukan KJRI Davao ini memusnahkan INVENTARIS MUSEUM yang merupakan simbol warisan seni budaya Nusantara apakah mungkin dilakukan tanpa prosedur baik koordinasi, upaya penyelamatan awal, berbagai analisa dan pertimbangan, dan bahkan kalaupun sudah tidak mungkin diselamatkan apakah tidak ada BERITA ACARA PENGHAPUSAN INVENTARIS, sehingga proses pemusnahannya tanpa harus disaksikan staf KJRI yang lain...? Kalau benar tidak ada, berarti PEMERINTAH INDONESIA TELAH SALAH DENGAN MENEMPATKAN ORANG-ORANG di KJRI DAVAO.

2.    Klarifikasi KJRI Davao sebagaimana diberitakan di beberapa media mengatakan bahwa : "Pemusnahan aset tersebut telah dilakukan secara hati-hati dan penuh rasa penghormatan terhadap reog Ponorogo sebagai aset budaya. KJRI Davao City juga ingin menegaskan bahwa pembakaran tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan upaya untuk pengusiran berhala atau makhluk halus,".

KEJANGGALANNYA ADALAH :

Apakah PROSES PEMUSNAHAN INVENTARIS MUSEUM tersebut sudah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku...? Kalau sudah, ada baiknya KJRI Davao untuk menghindari prasangka buruk utamanya dari masyarakat pecinta dan pelestari warisan seni budaya Nusantara mempublikasikan bukti terkait pemenuhan prosedur PEMUSNAHAN INVENTARIS MUSEUM BUDAYA KJRI DAVAO.

Selain itu, kalau kita melihat foto proses pembakaran, terlihat sebuah suasana khusuk layaknya suasana doa salah satu agama. Apa alasan saya mengatakan ini...? mari kita lihat satu persatu buktinya.

Perhatikan foto yang saya beri tanda Nomor 2. Terlihat seorang perempuan (tidak jelas siapa) sedang mengangkat tangan (saya melihat seperti seorang yang sedang berdoa dan menumpangkan tangan) seperti yang biasa dilakukan oleh umat salah satu agama yang diakui di Indonesia saat berdoa atau beribadah. Sikap tersebut memperkuat pemberitaan di http://bitungnews.com yang menyatakan bahwa : Alasan pembakaran Barong Reog Ponorogo, dan hiasan naga pada gamelan, karena ada setan dan merupakan berhala. Sekaligus membuktikan bahwa pernyataan KJRI bahwa pembakaran tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan upaya untuk pengusiran berhala atau makhluk halus, adalah BOHONG. Terlihat jelas posisi arah tumpangan tangannya mengarah pada Reog dan hiasan Gamelan yang sedang dibakar, seperti sedang menaikkan doa. Tapi baiklah kita berpikir positif, bahwa perempuan di foto tersebut terfoto saat KEBETULAN MATANYA TERPEJAM DAN TANGANNYA TERANGKAT (seperti seorang yang sedang menumpangi tangan dalam sebuah prosesi doa).

Perhatikan foto yang saya beri tanda Nomor 3. Apa yang sedang perempuan ini lakukan...? Terlihat perempuan itu dalam sikap yang hampir sama (mata terpejam dan menumpangkan tangan) seperti seorang yang sedang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya. Apakah ini masih akan disanggah sebagai sebuah kebetulan lagi...? tidakkah perempuan tersebut sedang berdoa mendukung teman perempuan yang didepan sebagaimana foto Nomor 2...?

Perhatikan foto yang saya beri tanda Nomor 4. Lalu apa yang sedang dilakukan pria Nomor 4 ini...? Apakah dia sedang bernyanyi lagu INDONESIA RAYA sebagai bentuk penghormatan saat memusnahkan benda simbol warisan seni budaya Nusantara tersebut...? Atau dia sedang menyanyikan lagu NASIONAL INDONESIA lainnya karena Pemusnahan aset tersebut (REOG dan HIASAN GAMELAN) dilakukan secara hati-hati dan penuh rasa penghormatan terhadap reog Ponorogo sebagai aset budaya. SAYA BERANI TEGAS MENYATAKAN BAHWA :  Pria dalam foto yang saya tandai dengan Nomor 4 tersebut SEDANG MENGIRINGI PROSES PUJIAN DAN PENYEMBAHAN (DOA) DALAM RANGKA PEMUSNAHAN BENDA YANG DIANGGAP BERHALA ATAU YANG TIDAK DIPERKENAN DIMATA TUHAN.

Jadi 3 orang yang saya tandai dengan nomor 2, 3 dan 4 tidak kebetulan terfoto saat matanya sedang terpejam sementara perempuan nomor 2 menumpangkan tangan ke arah Reog dan hiasan Gamelan yang sedang dibakar, perempuan nomor 3 mengangkat kedua tangannya dan pria nomor 4 bermain gitar. Ini adalah PROSESI PEMUSNAHAN BENDA YANG DIANGGAP BERHALA MELALUI PUJIAN DAN PENYEMBAHAN (DOA) menurut keyakinan salah satu agama di INDONESIA.

Berikut ini adalah link album foto detik-detik pembakaran Reog Ponorogo di Davao, foto dalam album tersebut adalah kiriman dari seseorang yang pada waktu kejadian berada di lokasi. https://www.facebook.com/media/set/?set=a.899239220156969.1073741966.100002126988695&type=1&l=37945af660

Dari beberapa kejanggalan sebagaimana saya sampaikan diatas, yang juga saya tulis dalam catatan saya di : https://web.facebook.com/notes/begawan-prabu/pernyataan-kjri-davao-dan-menlu-ri-terkait-pembakaran-reog-dan-hiasan-gamelan-di/896958513718373, dan  mengingat apa yang selalu disampaikan oleh Presiden RI, bapak Joko Widodo, bahwa bangsa ini harus melakukan REVOLUSI MENTAL agar terwujud sebuah perubahan yang lebih baik, tindakan atau pernyataan KJRI Davao termasuk MENLU RI tersebut merupakan VIRUS yang akan menghambat proses REVOLUSI MENTAL bangsa ini. Bagaimana tidak, sekecil apapun kebohongan, yang apalagi disampaikan oleh seseorang yang seharusnya bisa menjadi panutan, pastinya akan berdampak negatif karena dalam hal ini kebohongan yang disampaikan menyangkut JATI DIRI BANGSA INDONESIA yang terkandung dalam perwujutan Reog sebagai warisan budaya bangsa yang seharusnya senantiasa dijaga, dilestarikan bahkan dipopulerkan.

Kejadian pembakaran Reog Ponorogo dan hiasan Gamelan di KJRI Davao, yang merupakan aset (benda inventaris) Museum Budaya KJRI Davao dan juga merupakan aset budaya bangsa Indonesia ini tidak bisa dianggap sepele, karena :

  1. PEMBAKARAN REOG DI KEDUBES di Davao PILIPINA adalah : Pelecehan martabat / budaya / jatidiri INDONESIA (NUSANTARA) sekaligus penodaan dan pengkhianatan terhadap RAKYAT, BANGSA dan NEGARA INDONESIA, melawan PANCASILA dalam pengejawantahan TRISAKTI, terutama BUDAYA BERKEPRIBADIAN
  2. PEMBAKARAN REOG DI KEDUBES di Davao PILIPINA merupakan bentuk penghianatan KJRI Davao terhadap kedaulatan NKRI terkait warisan seni budaya luhur Nusantara
  3. Pernyataan KJRI Davao dan Menlu RI terkait berita pembakaran Reog dan hiasan Gamelan INVENTARIS MUSEUM BUDAYA KJRI Davao jelas mengada-ada dan merupakan bentuk PEMBODOHAN PUBLIK

Oleh karenanya, demi lestarinya warisan seni budaya bangsa, melalui petisi ini saya meminta kepada  KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA dan  KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA bekerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk :

  1. Mengusut tuntas kasus PEMBAKARAN REOG dan HIASAN GAMELAN yang dilakukan KJRI Davao – Pilipina, dan mengungkap fakta sebenarnya, termasuk mempublikasikan semua bukti dan dokumen baik berupa foto, video maupun dokumen lain terkait PEMBAKARAN REOG dan HIASAN GAMELAN yang dilakukan KJRI Davao - Pilipina
  2. Mengumumkan nama-nama orang yang terlibat dalam proses PEMBAKARAN REOG dan HIASAN GAMELAN yang dilakukan KJRI Davao – Pilipina dan menarik mereka dari kantor KJRI Pilipina
  3. Mengambil tindakan tegas (termasuk didalamnya upaya / tuntutan hukum dan pemecatan) oknum-oknum pelaku PEMBAKARAN REOG dan HIASAN GAMELAN yang dilakukan KJRI Davao – Pilipina yang dilakukan secara transparan dihadapan seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat PONOROGO Jatim dan masyarakat pecinta dan pelestari warisan seni budaya Nusantara.

Demikian petisi ini saya buat, untuk menjadi perhatian dan rekomendasi kebijakan pihak-pihak terkait.

Magelang, 02 November 2015

Hormat saya, T. Agung Nugroho (Begawan Prabu) - Fasilitator Hak Asasi Manusia untuk Masyarakat Adat - Email : begawan.prabu@gmail.com - WA : +6285743014737



Hari ini: Agung mengandalkanmu

Agung Begawan Prabu membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "#SaveReogPonorogo @kemenluRI @Portal_Kemlu_RI @jokowi @Jokowi_ID @aniesbaswedan @Kemdikbud_RI STOP PEMBODOHAN dan PEMBOHONGAN PUBLIK". Bergabunglah dengan Agung dan 1.315 pendukung lainnya hari ini.