Save Raja Ampat's Reefs from Overtourism / Mari Selamatkan Raja Ampat dari Overtourism

0 have signed. Let’s get to 5,000!


(BAHASA INDONESIA DIBAWAH

Raja Ampat – the Last Paradise - has reached the masses. Instagram shots of the iconic limestone islands and thriving reefs abound; it is the go-to ‘bucket list’ destination. In the past decade, there has been a 30-fold increase in visitors to the area. Unchecked overtourism to the region will have devastating consequences – not only for the reefs, not only for the tourism industry, but also for the local people of Raja Ampat who depend upon this fragile ecosystem for their livelihoods. 

Raja Ampat is a top scuba diving destination and authorities recently stated that there are now 108 tourism vessels visiting Raja Ampat. As diving operators relocate from other locations which are overcrowded or degraded, this archipelago has become the most popular liveaboard destination in Indonesia. Rising diver numbers cause physical damage to the reef, and animals are often disturbed for the sake of the perfect photo. In the last three years there have been a number of incidents in which boats have grounded on Raja Ampat’s hyperdiverse reefs, causing significant damage. Additionally, the majority of these boats dump wastewater, including raw sewage, into the surrounding waters. This dumping raises the nutrient levels in the water and creates lethal conditions for coral reefs. The long-term effects of this are frightening; coral disease, crown of thorns outbreaks, algal overgrowth and consequently dead reefs, devoid of life. Tourism, once hailed as the saviour of the environment, is becoming a runaway threat that needs to be regulated now.

Sign this petition today to urge the Indonesian authorities to take these two steps to save Raja Ampat’s reefs from overtourism:

1) Limit the tourism vessel permits to the numbers set out in the 2011 regulations, which was 40 permanent + 10 temporary permits

2) Limit diver numbers to thresholds set out in the 2017 Carrying Capacity study, commissioned by the Raja Ampat Government in 2017

Raja Ampat is home to the world’s richest reefs; there are over 699 species of mollusc and currently 1,623 species of reef fish recorded from Raja Ampat. This region is home to over 75% of the world’s known coral species including 554 species of reef-building corals. If we don’t act now, we risk losing it all. 

 

--------Bahasa Indonesia Dibawah / Indonesian below -----------------

Mari Selamatkan Raja Ampat dari Overtourism

 

Kepada:

Bupati Raja Ampat

Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat

BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Menteri Kelautan dan Perikanan

 

Raja Ampat – the Last Paradise- telah mencapai masa-masanya. Instagram menggambarkan ikon pulau batu gamping dan terumbu karang yang tumbuh subur: menjadikan tujuan wisata dalam daftar keinginan. Sepuluh tahun terakhir, telah terjadi peningkatan wisatawan sebesar 30 kali lipat ke wilayah ini. Overtourism yang tidak diatur akan menghancurkan ekosistem ini -tidak hanya terumbu karang dan tidak hanya industry Wisata, namun juga penduduk setempat di Raja Ampat yang bergantung pada ekosistem yang rapuh ini sebagai sumber kehidupan mereka. 

Raja Ampat adalah salah satu tujuan menyelam yang sangat terkenal dan Pemerintah Raja Ampat saat ini telah menyatakan bahwa terdapat 108 kapal pesiar yang mengunjungi Raja Ampat. Karena operator selam pindah dari lokasi lainyang terlalu padat, kepulauan ini menjadi tujuan kapal pesiar yang sangat terkenal di Indonesia. Meningkatnya jumlah penyelam menyebabkan kerusakan fisik pada terumbu karang, dan hewan sering terganggu demi gambar yang sempurna.Dalam tiga tahun terakhir, telah banyak terjadi kecelakaan yang disebabkan oleh kapal pesiar yang membentur terumbu hyperdiverse di Raja Ampat, yang menyebabkan kerusakan signifikan. Selain itu, sebagian besar kapal ini membuang air limbah, termasuk air limbah mentah ke perairan sekitar. Penumpukan ini meningkatkan tingkat nutrisi dalam air dan menciptakan kondisi yang mematikan bagi terumbu karang.Efek jangka Panjang dari ini cukup menakutkan; penyakit karang, wabah mahkota duri, pertumbuhan berlebih alga dan akibatnya karang mati, tanpa kehidupan. Pariwisata, yang pernah disebut sebagai penyelamat lingkungan, menjadi ancaman pelarian yang perlu diatur sekarang.

Tanda tangan petisi ini pada hari ini untuk mendesak pemerintah Indonesia agar mengambil dua langkah ini untuk menyelamatkan terumbu karang Raja Ampat dan pariwisata: 

1) Batasi izin kapal pesiar ke angka yang ditetapkan dalam peraturan 2011, 40 izin tetap + 10 izin sementara


2) Batasi jumlah penyelam hingga ambang batas yang ditetapkan dalam studi "Daya Dukung Pariwisata Berkelanjutan Raja Ampat," yang ditugaskan oleh Pemerintah Raja Ampat pada tahun 2017


Raja Ampat adalah rumah bagi terumbu karang terkaya di dunia: terdapat lebih dari 699 jenis moluska dan saat ini 1,623 jenis ikan karang yang dideskripsikan di Raja Ampat. Wilayah ini adalah rumah bagi lebih dari 75% jenis karang yang dikenal di dunia termasuk 554 jenis terumbu karang pembangun. Jika kita tidak bertindak sekarang, kita berisiko kehilangan semuanya.