Pulihkan Nama Baik Universitas Sumatera Utara

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Tak ada kesan khusus saat aku pertama kali berkenalan dengan Yael Stefani Sinaga dan Widiya Hastuti di sela-sela kelas Jurnalisme Sastrawi besutan Pantau. Tidak, sampai Andreas Harsono, guruku pagi itu, menyampaikan bahwa Yael dan Widiya adalah 2 mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang sedang menggugat rektor. Suasana kelas berubah gaduh dengan decak kagum dari peserta lain.
Kasus tersebut bermula saat Yael menulis dan menerbitkan sebuah cerita fiksi berjudul Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya, yang mengangkat isu LGBTQ. Seminggu kemudian, Runtung Sitepu, Rektor USU, meminta suara USU menghapus cerita tersebut karena dianggap “mempromosikan” LGBTQ namun ditolak. Sikap tersebut memicu berbagai reaksi universitas, mulai dari portal suarausu.co disuspensi, aliran listrik ke sekretariatan Suara USU diputus, hingga diterbitkannya SK pemberhentian pengurus Suara USU 2019.
“Kami menyampaikan keberatan ke pihak kampus (Rektor) tapi ga dapat tanggapan apa-apa.” Seru Widiya saat kami makan siang bersama.
“Akhirnya kami ajukan gugatan administrasi ke Pengadilan Tata Usaha Negara Sumatera Utara awal juli lalu sebagai bentuk perjuangan paling maksimal agar SK dicabut.”
Sayangnya, proses demokrasi ini tak diikuti dengan baik dari pihak universitas. Yael dan Widiya menjadi sasaran empuk kekerasan kekuasaan. Mereka dibujuk melalui pembicaraan “hati ke hati” dengan dekan fakultas melalui telepon, diintimidasi melalui pihak keluarga yang diminta datang ke universitas untuk “bicara”, dan ditekan melalui pembongkaran paksa kantor sekretariat Suara USU yang ditempeli peringatan KUHP Pasal 551. (Barang siapa tanpa wewenang, berjalan atau berkendara di atas tanah yang oleh pemiliknya dilarang dimasuki atau sudah diberi tanda larangan masuk yang jelas, diancam dengan pidana denda paling banyak dua ratus dua puluh lima rupiah.)
Yael dan Widiya kuatir, bagaimana pun mereka adalah mahasiswa, masih tergantung pada orang tua, namun mereka tak mau takluk. Mereka berharap dari gugatan tersebut, tidak ada lagi pihak akademisi yang sewenang-wenang memakai kekuasaan untuk membungkam kebebasan berekspresi dan berpendapat melalui wadah pers mahasiswa.
“Ada 4 hal yang kami tuntut, (1) kembalikan kebebasan pers dengan mencabut SK pemberhentian pengurus Suara USU, (2) kembalikan kebebasan berserikat, (3) kembalikan hak akademik, (4) kembalikan ruang untuk diskusi hak-hak kaum minoritas termasuk LGBTQ,” kata Widiya.
Aku memang tak pernah jadi anggota pers mahasiswa, tapi melihat semangat dan keberanian mereka, aku merasa punya harapan. Rektor Runtung Sitepu harusnya berbesar hati, bangga punya mahasiswa teguh macam mereka. Kampus USU seharusnya ikut menjaga kebebasan akademik dan menjaga kebhinekaan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Ayo tanda tangani petisi ini! Bantu Yael dan Widiya mencari keadilan.


#KamiBersamaSUARAUSU