Pedagang Online: Pak Rudiantara, Segera Cabut Pembatasan Akses Media Sosial

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Menjadi pedagang online adalah salah satu upaya rakyat kecil untuk hidup mandiri, berjuang sekuat tenaga mengentaskan dirinya dan orang lain agar tidak menyandang status pengangguran. Setidak-tidaknya agar kami dapat bertahan hidup, bisa membayar listrik, iuran BPJS, membeli bahan bakar kendaraan bermotor dan kebutuhan pokok lainnya. Sudah sepatutnya pemerintah mendukung hal-hal semacam ini.

Namun dalam 3 hari terakhir ini, semenjak pemerintah melalui Menkominfo membatasi penggunaan media sosial tidak sedikit pedagang online yang penjualannya menurun. Ditengah kejar target kebutuhan hari raya, yang harus membayar THR kepada admin, customer service, tukang packing dan juga tenaga produksi, penjualan malah merosot. Padahal, masih banyak stok yang harus segera terjual yang sudah beberapa bulan lalu kami persiapkan untuk memenuhi permintaan pembeli di bulan puasa ini.

Bapak Menteri yang Terhormat!

Membatasi hoax atau menurunkan tensi politik di negeri tercinta ini adalah bagian dari tugas Anda. Tapi jangan lupa ada tugas lain yang erat hubungannya dengan kepentingan rakyat yang juga bagian dari tugas Anda. Kami pedagang online sangat merasakan dampak dari pembatasan media sosial ini.

Ditengah meningkatnya kebutuhan menjelang hari raya. Ditambah juga ketidakpastian sampai kapan pembatasan ini dilakukan (Baca: http://www.tribunnews.com/techno/2019/05/23/kapan-pembatasan-whatsapp-wa-instagram-ig-dan-facebook-fb-normal-kembali-ini-kata-menkominfo?page=1)

Menurut data liputan6.com (https://www.liputan6.com/bisnis/read/2602680/bps-jumlah-e-commerce-di-indonesia-capai-262-juta) ada sekurang-kurangnya 26,2 juta pedagang online. Dengan latar belakang pedagang online sangat beragam. Mulai kalangan atas (berbentuk badan hokum), menengah (berbentuk badan usaha) hingga kalangan bawah (perseorangan).

Untuk pedagang online perseorangan, usianya pun beragam. Mulai dari ibu-ibu sampai dengan usia remaja, yang sebagian besarnya tidak mengerti apa itu politik kepentingan, apa itu politik kekuasaan. Kami hanya tahu bahwasanya menjelang hari raya ini kami harus memiliki uang lebih agar dapat membayar gaji lebih pula kepada karyawan. Agar mereka bisa membelikan baju baru untuk anak atau istrinya, atau sekedar memiliki ongkos untuk pulang ke kampung halaman berjumpa dengan keluarga besar yang dirindukannya.

Bapak Menteri Rudiantara yang Terhormat,

Permintaan kami tidak banyak, dan kami sama sekali tidak meminta pemerintah mengurusi semua kebutuhan Kami menjelang hari raya. Kami pedagang online melalui petisi ini hanya meminta untuk dilakukan peninjauan ulang terkait pembatasan media sosial, dan segera mengembalikannya seperti semula.

Biarkan kami kembali berjuang, melanjutkan ikhtiar kami sebagai rakyat yang mandiri. Biarkan tim advertiser kami running kembali iklan di media sosial. Sebagai langkah nyata dari rakyat yang ingin bersama-sama mendukung program pemerintah dalam upaya mengentaskan kemiskinan dan pengangguran.

Kiranya, Bapak Menteri berkenan mendengar petisi ini. Kami doakan Bapak dan keluarga selalu sehat dan mendapatkan keberkahan dalam hidup ini.