Usut Dugaan Penganiayaan Berujung Kematian Siswa Bintara Rian Assidiq!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 15.000.


Rian Assidiq adalah salah seorang teman baik saya. Ia memiliki keinginan untuk menjadi polisi dan tengah mengikuti pendidikan bintara. Namun, baru dua minggu di sana, ia meninggal. 

Akhir November lalu, Rian dilarikan ke rumah sakit subuh-subuh. Ia dikabarkan mengalami epilepsi. Siang harinya, Rian meninggal.

Pihak Polda Maluku Utara bilang, Rian meninggal karena mengalami kejang-kejang dan kelelahan ketika mengikuti pembinaan fisik. Selain itu, ia juga dimakamkan dengan protokol kesehatan karena dianggap suspek Covid-19.

Tapi, saya dan keluarga kurang percaya. Apalagi ketika tahu tubuh Rian dipenuhi oleh lebam dan luka-luka. Selain itu, pihak RSUD juga katanya tidak mengeluarkan rekomendasi bahwa Rian meninggal karena epilepsi atau pun Covid-19. 

Keluarga Rian sudah mendesak Polda Maluku Utara untuk usut kasus kematian Rian yang mencurigakan ini. Tapi belum sampai sebulan, kasus sudah ditutup. Alasannya, tidak ada cukup bukti.

Keluarga juga sudah melapor kepada Ombudsman RI, Kompolnas dan juga Komnas HAM. Namun, sampai sekarang, belum ada kabar lagi.

Oleh karena itu, melalui petisi ini, saya minta Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Risyapudin Nursin, S.I.K. kembali membuka kasus Rian Assidiq dan mengusutnya sampai tuntas. Kalau Rian benar-benar meninggal karena epilepsi dan Covid-19, kenapa ia memiliki luka-luka di sekujur tubuhnya?

Dugaan penganiayaan yang dialami oleh Rian gak bisa dianggap sepele. Kalau memang nantinya terbukti ada tindak aniaya, pelakunya harus dihukum sepantasnya.

Saya butuh bantuan teman-teman supaya desakan kita ini semakin terdengar. Bantu tanda tangan dan sebarkan petisi ini, ya.

Salam,


Riryn Tan.