Bumi kita harus membayar mahal untuk setiap balon yang kamu lepaskan ke udara

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


            Fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia tidak lepas dari faktor jumlah penduduk dan manajemen sampah yang masih buruk. Manajemen sampah bukan monopoli kewajiban pemerintah. Dalam UU No.18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, pasal 12 nomor (1) disebutkan bahwa : “Setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.”

Manajemen sampah yang baik terkait dengan upaya pengendalian sampah sebagai wujud perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dalam UU No. 32 tahu 2009 Pasal 22 ayat (1) dituliskan : “Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkugan hidup wajib memiliki amdal”. Pasal 23 menjelaskan lebih lanjut kriteria kegiatan yang wajib memiliki amdal.

            Issue manajemen sampah berikut kami ketengahkan menanggapi rencana kegiatan Penerbangan Balon Lampion  dalam rangka Festival Ramadhan Pasar mudik pada tanggal 2 Juni 2019 di Gor Trisanja Slawi.

Pada hari Rabu, 15 Mei 2019, kami telah melakukan diskusi dengan panitia penyelenggara Penerbangan Balon Lampion  & beliau membenarkan. Poin yang kami dapat dari hasil diskusi tersebut adalah :

1.        Kegiatan diadakan jauh dari laut sehingga tidak mengancam satwa laut

2.        Pihak penyelenggara menyatakan balon lampion bukan sampah harian, sehingga beranggapan bukan merupakan kontribusi sampah yang mengkhawatirkan.

3.        Pihak EO mengonfirmasi balon lampion yang digunakan aman karena tidak menggunakan api melainkan LED. Bahan LED balon sendiri memiliki potensi sebagai kontributor pencemar lingkungan antara lain, dari baterai, plastik dan bahan sulit terurai lain.

4.        Pihak penyelenggara belum berencana mengganti acara pelepasan lampion dengan bentuk acara lain.

            Kami membutuhkan dukungan banyak pihak agar penerbangan lampion dapat dibatalkan dan/atau digantikan dengan bentuk acara yang lebih ramah lingkungan. Dengan alasan:

1.        Sama halnya seperti pelepasan balon (http://balloonsblow.org/spread-the-word semua lampion yang terbang akan kembali turun ke bumi dan menjadi sampah. Meskipun lampion tersebut diklaim berbahan biodegradable (ramah lingkungan dan mudah terurai), namun penguraiannya memerlukan waktu yang lama sehingga tetap beresiko.

2.        Penerbangan balon lampion bisa mengganggu keselamatan penerbangan.

Berdasarkan UU Penerbangan Nomor 1 Tahun 2009 Pasal 421 ayat (2) menyatakan “Setiap orang membuat halangan (obstacle), dan atau melakukan kegiatan lain di kawasan keselamatan operasi penerbangan yang membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp 1 miliar.