Biaya Pendidikan UNSIQ Sangat Mahal Disaat Pandemi

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.500.


Assalamu'alaikum wr. wb.

Pendidikan saat ini telah membelunggu dan membodohi semua kalangan sosial: tidak hanya orang tua maupun mahasiswa. Esensi pendidikan telah dihilangkan oleh sistem yang mengatur, alih-alih pendidikan dijadikan sebagai komersialisasi pendidikan, kapitalisasi pendidikan dan liberalisasi pendidikan. Mengapa demikian? "Apa yang sebenarnya kita cari di bangku pendidikan selama ini? Apa seka dar ingin lulus dengan nilai terbaik dan meraih titel?” Kami semua jelas tidak ingin meraih itu, tetapi bagaimana instansi pendidikan itu sendiri tidak lalai dalam membuat kebijakan yang selalu menguntungkan pada satu pihak saja.

Pendidikan seolah-olah di propaganda oleh mahasiswa, mana mungkin mahasiswa menjadi propagandis yang selalu menginginkan keuntungan dari wajah pendidikan kapitalis yang selalu menggerogoti. Kami menginginkan esensi wajah pendidikan ala Ki Hajar Dewantara menawarkan sistem mengajar yang dinamakan sistem among. Menyokong kodrat alam anak-anak didik, bukan dengan perintah dan larangan. Tetapi dengan tuntunan dan bimbingan, sehingga perkembangan fisik dan batin anak tersebut dapat tumbuh sesuai potensinya. Inilah yang dipakai sebagai kunci pendidikan negara maju.

 

70 tahun merdeka, pendidikan Indonesia masih jauh kata ideal. Dalam beberapa survei internasional, Indonesia tertinggal sangat jauh dari Singapura.

Pendidikan di Indonesia masih berputar bagaimana menciptakan manusia yang bisa bekerja selulus sekolah. Bukan untuk membuat karya-karya besar di masa depan.

Rangking di sekolah adalah hal nomor satu. Siswa-siswa berlomba untuk mengejarnya. Orangtua mereka memanaskan persaingan ini, dengan aneka les dan pengajar privat. Guru-guru juga dipaksa untuk mencetak siswa-siswa terbaik yang mampu mengangkat nama sekolah mereka.

Sekolah menjadi seperti perusahaan. Semuanya bertujuan pada hasil, bukan bagaimana proses membentuk seorang manusia. Dalam beberapa kasus, guru membantu murid mereka berbuat curang agar lulus Ujian Nasional.

Sebagai siswa mereka lulus, tapi sebagai manusia apakah mereka layak dinyatakan lulus? Apakah ada jaminan murid-murid itu tak mengulangi kecurangan mereka di masa depan?

Jenderal Hoegeng, si polisi jujur pernah berkata. "Menjadi orang penting itu baik. Tapi lebih penting lagi menjadi orang baik."

Semoga Tuntutan ini dilihat oleh para pemangku kebijakan UNSIQ (Universitas Sains Al-Qur'an) dan bisa diselesaikan secara baik-baik.

Hidup MAHASISWA!!! 

Wassalamu'alaikum wr. wb.