Petisi ditutup

Ksatria Airlangga Menolak Mekanisme MPM Untuk BEM UNAIR

Petisi ini mencapai 103 pendukung


Di dalam demokrasi tentu hal yang patut kita terima adalah kedaulatan bagi seorang mahasiswa. Dimana kita berhak untuk memilih dan dipilih dalam konteks Pemilihan Ormawa yang ada di Universitas. Di Universitas Airlangga sejak terbitnya Peraturan Rektor No. 07/H3/PR/2011 disahkan pada 12 Agustus 2011 hal ini menjadi awal hilangnya kedaulatan mahasiswa Universitas Airlangga. Puncaknya adalah Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua BEM Universitas Airlangga 2017. Berikut kronologis sidang penentuan yang di dapat dari OA Panitia Pemilihan Ketua BEM Universitas Airlangga 2017 :

Berikut adalah proses dari jalannya sidang, diantaranya :

“Sidang hari 1 (Jumat, 10 Maret 2017) : Agenda pembahasan tata tertib sidang dan pemilihan.

Sidang hari 2 (Sabtu, 11 Maret 2017, Pagi) : Penyampaian hasil penjaringan suara tiap fakultas.

Sidang hari 2 (Sabtu, 11 Maret 2017, Malam) : Pembahasan hasil FPT 1 (tes tulis n wawancara) dan 2 (wawancara), safari fakultas, UMK (penilaian dari panelis)

Sidang hari 3 (Minggu, 12 Maret 2017, Pagi 08.00 - 11.45) : pembahasan dan penguatan serta pelemahan setiap pasangan calon.

Jeda selama 5 hari.

Sidang hari 4 (Jumat, 17 Maret 2017, Malam 20.00) : Pembukaan kembali oleh Direktur Kemahasiswaan UNAIR, Dr. Hadi Subhan,S.H.,M.H.,C.N. dan dilanjutkan dengan pembahasan pelemahan serta penguatan setiap Pasangan Calon. Dilakukannya mekanisme untuk menyepakati teknis dari voting.

Voting dilakukan dengan dua putaran :

Voting pertama : paslon 1 dengan 13 suara, paslon 2 dengan 15 suara, paslon 3 dengan 16 suara.

Kemudian dilakukan putaran kedua, karena tidak mencapai n/2 + 1 = 23

Voting kedua : paslon 2 dan 3 dicapai suara yg imbang 22 : 22 suara

Dari hasil voting didapati deadlock/tidak menemui titik temu, yang kemudian proses jalannya pemilihan Ketua dan Wakil Ketua BEM UNAIR 2017 diambil alih oleh Direktur Kemahasiswaan UNAIR sesuai kesepakatan dari seluruh anggota MPM UNAIR 2017.

Dr. Hadi Subhan,S.H.,M.H.,C.N. mempertimbangkan :

Pengalaman tahun lalu

Hasil UMK

hasil voting putaran pertama, sehingga diputuskan bahwa paslon 3 adalah Ketua dan Wakil BEM UNAIR 2017 dengan mempertimbangkan susunan kabinet dengan tambahan paslon 1 dan 2.

MPM berusaha menyatukan suara tetapi tidak bisa mufakat, sehingga disepakati dgn sistem voting yg telah tercantum di tatib (mekanisme mufakat jika tidak tercapai, maka akan diserahkan ke forum).”

Dari kronologis tersebut terlihat bahwa MPM sebagai representasi mahasiswa sudah tidak mampu memenuhi tugasnya untuk menentukan dan menetapkan ketua dan wakil ketua BEM. Dan jika merujuk pada peraturan rektor tersebut adalah MPM bertugas untuk menentukan dan menetapkan serta menerima pertanggung jawaban dari ketua BEM terpilih. Kemudian hal tersebut berdampak pengambil alihan peran yaitu Ketua dan Wakil Ketua BEM di tunjuk oleh pihak Rektorat dalam hal ini di wakili oleh Dirmawa Universitas Airlangga. Kegagalan MPM Universitas Airlangga sudah menjadi bukti bahwa sistem pemilihan ketua bem melalui MPM sudah tidak lagi berjalan dengan apa yang di cita citakan.

Sistem sidang melalui MPM hanya akan memunculkan elit elit mahasiswa kampus baru yang tunduk terhadap rektorat serta abai terhadap kepentingan umum mahasiswa.

Sehingga kami mahasiswa Universitas Airlangga menuntut Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua BEM Universitas Airlangga kembali menjadi One Man One Vote untuk mengembalikan kedaulatan mahasiswa universitas Airlangga.

Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia.

 



Hari ini: Aliansi mengandalkanmu

Aliansi Seduluran Airlangga membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Rektor Universitas Airlangga: Ksatria Airlangga Menolak Mekanisme MPM Untuk BEM UNAIR". Bergabunglah dengan Aliansi dan 102 pendukung lainnya hari ini.