TANGKAP PREDATOR SEKSUAL DI UIN MALANG

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Kasus di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Laporan dari 28 Maret 2019, melalui info daring UAPM Inovasi mendapat dua pengaduan terkait kasus kekerasan seksual yang ada di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang). Kisah ini berawal ketika Adawiyah mulai duduk di semester 6, yaitu pada tahun 2016. Pada waktu itu Adawiyah mengikuti kelas yang diajar oleh Qarun (bukan nama sebenarnya) dan ia ditunjuk sebagai ketua kelas. Adawiyah menjelaskan bahwa Qarun punya kecenderungan memilih mahasiswa yang aktif untuk menjadi ketua kelas.

Setelah pemilihan ketua kelas, semua ketua kelas dari empat kelas yang diajar Qarun diminta mendatangi rumahnya. Adawiyah datang terlambat waktu itu. Dengan alasan tersebut Adawiyah diajak mengobrol dahulu yang membuatnya pulang paling terakhir. Keganjilan mulai dirasakan Adawiyah karena Qarun mulai berani pegang-pegang.

Gerak-gerik Qarun semakin kentara ketika Adawiyah ingin mengajukan judul skripsi. Pasalnya, Qarun kekeh untuk menjadi dosen pembimbing Adawiyah. “Aku gak pengen dibimbing beliau, aku pengen dibimbing orang lain,” terang Adawiyah. Tapi Qarun terus memaksa dan mengatakan jika ikut ke dalam kelompok bimbingannya, Adawiyah akan diarahkan dan diajari dengan baik.

Hal lain yang membuat Adawiyah risih, ketika ia mengirim tugas via email kepada Qarun. Pasalnya tugas yang dikirim oleh Adawiyah dibalas dengan link video porno. Adawiyah pun menanyakan link tersebut untuk apa. “Ayo nonton bareng, kamu nonton di hpmu, nanti kita kasih komen sama-sama,” jelas Adawiyah menirukan isi pesan Qarun. Hampir dua puluh tiga link video porno yang dikirimkan ke Adawiyah dengan waktu yang berbeda.

Sampai hari ini dosen yang melakukan kekerasan seksual terhadap mahasiswa UIN Malang masih bebas mengajar di kampus tersebut dan belum adanya tindakan dari kampus untuk mengusut tuntas permasalahan ini. Kami menuntut agar kampus segera mengambil langkah untuk mengusut tuntas pelaku maupun dosen atau pejabat kampus yang terlibat kekerasan seksual.