Tolak Penutupan MojokDotCo #LanjutkanMojok #GoAheadMojok

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


MOJOK.CO & KEGEMBIRAAN PALSU

"Mojok dimulai dengan kegembiraan, dan akan diakhiri pula dengan kegembiraan."

Sekilas kalimat yang direproduksi Agus Mulyadi kemarin itu amat indah dan bijak. Tapi kalau Anda tuma'ninah sesaat, ada banyak bolong di dalamnya. Ia hanya akan berakhir dalam penilaian Anda sebagai jargon mbelgedhes, tak bedanya dengan kalimat-kalimat suci pada poster pilkada.

Sekarang saya tanya, siapa yang memulai MojokDotCo? Ya, tentu mereka, Puthut EA, bersama wadyabalanya waktu itu sebangsa Arlian Buana, Adit, dan entah siapa lagi.

Tapi apa bisa mereka memulai sendiri? Nehi. Itu dusta. Sebuah media tidak akan bisa memulai dirinya sendiri. Lantas kapan ia bisa dinyatakan start dan berangkat? Ada yang bisa menjawab?

Ya, adek-adek benar: jika dan hanya jika ia dibaca.

Sebuah media tanpa dibaca, tak ada bedanya dengan kertas koran berminyak bungkus nasi kucing yang diuwel-uwel lalu dilempar ke kolong gerobak angkringan. Muspro. Ia memang berisi tulisan, tapi bukan bacaan.

Maka nalarnya, titik mula dimulainya Mojok bukan cuma di tangan Puthut EA, tapi juga di mata para pembaca.

Kita tahu, baik Puthut, Bana, Adit, maupun ribuan pembaca Mojok, memang waktu itu memulai dengan gembira. Namun pertanyaan krusialnya, dengan keputusan mengejutkan untuk menutup Mojok di akhir Maret ini, benarkah muatan pada potongan jargon "diakhiri pula dengan gembira"?

Haha. Itu dusta. Dusta.

Saya tahu, ada banyak orang yang gembira dengan rencana ditutupnya Mojok. Mereka yang selama ini menuduhnya liberal, komunis, media pemecah belah umat dan pemakan bangkai saudara, mereka yang ngirim tulisan tapi ditolak dan mencak-mencak (ada itu, ada), dan entah siapa pula.

Tapi sebagian besar pembaca Mojok adalah mereka yang hancur hati, sedih tak terkira, merasa kehilangan teman bercanda, dan tak tahu esok pagi harus membaca apa. Sungguh, mereka sama sekali tidak gembira.

Anda tak perlu harus menyebar angket untuk membuktikan ini. Tanyalah kepada saya sendiri. Ya, meskipun saya menulis banyak untuk Mojok, andil terbesar saya di situ justru adalah sebagai pembacanya. Saya menulis mungkin lebih dari 20 tulisan, tapi saya membaca ratusan. Dan saya tertawa dan bahagia karenanya dalam skala ribuan.

Dan saya, adalah salah seorang di antara ratusan ribu pembaca yang remuk tak terkira dengan keputusan nggak mutu ini. Blas, tidak ada kegembiraan secuil pun di hati saya karenanya.

Jadi sekali lagi, ketika Agus bilang "Dimulai dengan gembira, dan diakhiri pula dengan gembira", jangan sekali-kali percaya. Sebab kenyataan yang terpampang di depan mata justru adalah mereka-mereka yang menari dan tertawa di atas genangan air mata kita, para pembaca Mojok yang setia.

Lihat wajah Agus yang sumringah itu. Lihat wajah Bana yang tersenyum licik itu. Lihat wajah Prima yang seolah tanpa dosa itu. Tatap juga wajah Simbah yang cengengesan itu.

Wajah-wajah kurang ajar itulah yang akan membangkitkan ghiroh kita, mengorganisir kegalauan kita, menindaklanjuti ambyar remuk redamnya hati kita, untuk beramai-ramai menyebarkan seruan ini:

#LanjutkanMojok #GoAheadMojok #MajuTerusMojok

Seruan ini dikutip dari status mas Iqbal Aji Daryono

source:https://web.facebook.com/iqbal.aji.daryono/posts/10155029774618454



Hari ini: Serikat Jomblo Tampan dan Sukses tapi Kisah Asmara sedikit Ambyar mengandalkanmu

Serikat Jomblo Tampan dan Sukses tapi Kisah Asmara sedikit Ambyar membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "PuthutEA: Tolak Penutupan MojokDotCo #LanjutkanMojok #GoAheadMojok". Bergabunglah dengan Serikat Jomblo Tampan dan Sukses tapi Kisah Asmara sedikit Ambyar dan 170 pendukung lainnya hari ini.