Hentikan Diskriminasi Anak dengan HIV

0 telah menandatangani. Mari kita ke 2.500.


Saya Acep, salah seorang pejuang HIV melihat stigma masyarakat Indonesia terhadap orang-orang yang hidup dengan HIV dirasa masih mengkhawatirkan. Pasalnya dari stigam tersebut muncul tindakan diskriminasi, salah satunya adalah diskriminasi pendidikan terhadap anak-anak dengan HIV atau AIDS (ADHA) yang sejak lama semakin memburuk.

Misalnya pada 2015 terjadi diskriminasi terhadap ADHA di Solo, kemudian pada 2018 terjadi kembali tindakan diskriminasi terhadap 3 ADHA di kabupaten Samosir, sekarang 14 ADHA di Solo pun lagi-lagi harus mendapatkan perlakuan yang tidak adil dalam mengenyam pendidikan. Padahal pada 2016 saja di Indonesia ada sekitar 5000 anak-anak yang hidup dengan HIV. 

Indonesia sebagai negara hukum sebenarnya memiliki UU untuk melindungi anak-anak dalam hal ini ADHA, seperti Undang-Undang Kesehatan (Pasal 137), UU Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial, UU Perlindungan Anak (Pasal 2 dan Pasal 67C), UU Sistem Pendidikan Nasional (Pasal 4, 5, 6, dan 12), UU Kesejahteraan Sosial, Keputusan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2010 tentang Panduan Umum Kesejahteraan Sosial Anak, dan sebagainya.

Sebagai seorang yang merasakan bagaimana hidup dengan HIV dan merasakan stigma masyarakat. Tentu saja ada rasa tanggung jawab untuk saya dan teman-teman lain yang peduli akan HAM untuk mempejuangkan hak-hak ADHA terutama dalam area pendidikan. Saya sangat khawatir jika perlakuan diskriminasi terhadap ADHA yang terus berlanjut akan sangat merusak masa depan anak-anak. Misalnya tindakan tersebut bukan tidak mungkin merusak mental anak dan menumbuhkan kebencian yang berkelanjutan terhadap teman-teman yang hidup dengan HIV.

Saya dan teman-teman sangat mengharapkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat terutama Kementerian Pendidikan Republik Indonesia agar semakin serius dalam menangani tindakan diskriminasi terhadap orang-orang dengan HIV/AIDS terutama anak-anak. Karena kami yakin, meskipun mereka hidup dengan HIV bukan berarti mereka tidak bisa menjadi generasi yang sukses dan membanggakan bangsanya.

Selain itu, kami juga berharap dan mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih memahami isu HIV agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat luas.