Sultan Hamid II Alkadrie Pahlawan Nasional

Sultan Hamid II Alkadrie Pahlawan Nasional

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Melalui Petisi ini, kami Yayasan Sultan Hamid II (Sultan Hamid II Foundation) mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kedatangan Bapak Presiden Republik Indonesia ke Bumi Khatulistiwa Pontianak - Kalimantan Barat pada medio Agustus 2015 dan turut mengapresiasi Sultan Hamid II sebagai Perancang Lambang Negara. Berkenaan dengan sejarah Perancangan Lambang Negara Republik Indonesia - Elang Rajawali Garuda Pancasila yang dirancang oleh Putra Terbaik Kalimantan Barat Sultan Hamid II dan hingga saat ini menjadi lambang kebanggaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan ini kami menyampaikan petisi Penetapan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional dengan pertimbangan sebagai berikut:

Pertama: Sultan Hamid II adalah Tokoh Nasional asal Kalimantan Barat. Dengan sangat wajar dan bangga--kami masyarakat Kalbar pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki seorang cerdik-cendikia sekaligus negarawan seperti Sultan Hamid II. Salah satu kiprah Sultan Hamid II sebagai seorang tokoh nasional Indonesia adalah perannya sebagai Perancang Lambang Negara Indonesia.

Kedua: Penelitian dan Perjuangan untuk mempublikasikan hal tersebut terus dilakukan oleh para peneliti di Yayasan Sultan Hamid II. Secara De Facto pemerintah telah mengakui Sultan Hamid II sebagai Perancang Lambang Negara, hal ini dibuktikan dengan dukungan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia dalam memfasilitasi bedah sejarah Sultan Hamid II dan Lambang Negara Indonesia pada tahun 2011 dan 2012 silam di Sekretariat Negara, Jakarta. Namun secara De Jure (Yuridis), nama Sultan Hamid II belum diakui dengan resmi oleh Undang-undang bahwa beliau adalah Perancang Lambang Negara Republik Indonesia. Hal ini dapat ditilik pada Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, Pasal 46 juncto Pasal 58 ayat (1). Pada Pasal 46 tidak disebutkan bahwa Sultan Hamid II adalah Perancang Lambang Negara. Sedangkan di sisi lain, pada Undang-undang yang sama, disebutkan bahwa Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” digubah atau diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman.

Ketiga: Telah dilakukan penelitian mendalam melalui riset tesis pakar hukum tata negara Universitas Tanjungpura Turiman Faturrachman Nur di Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1999 bahwa Sultan Hamid II merupakan Perancang Lambang Negara Republik Indonesia.

Keempat: Telah dilakukan penelitian yang intensif melalui riset tesis Anshari Dimyati di Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2012 bahwa Sultan Hamid II tidak terbukti melakukan makar terhadap negara terkait Pemberontakan Westerling.

Kelima: Secara de facto Kementerian Luar negeri telah memproduksi film dokumenter tentang penciptaan lambang negara yang mengakui bahwa Sultan Hamid II adalah perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila. Film dokumenter itu berdasarkan penelitian panjang Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) Kementerian Luar Negeri dan investigasi Sekretariat Negara.

Keenam: Setiap kali diadakan pameran tentang penciptaan lambang negara Garuda Pancasila selalu disambut masyarakat Indonesia dengan antusias. Baik di Jakarta, Bandung, maupun Sintang dan Pontianak (Kalimantan Barat). Hal ini sebagai tanda kecintaan seluruh rakyat Indonesia kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagaimana tertuang di dalam seloka Bhinneka Tunggal Ika, lima butir Pancasila, serta burung elang rajawali garuda  Pancasila dan kedua hasil penelitian serta investigasi jurnalistik telah diterbitkan dalam bentuk buku yang diterbitkan TOP Indonesia (2013): "Sultan Hamid II - Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila."

Ketujuh: Webinar bersama Wakil Ketua MPR RI Prof Dr Hidayat Nur Wahid dan Gubernur Kalimantan Barat H Sutarmidji, SH, M.Hum menjawab pro-kontra apakah Sultan Hamid II Alkadrie pengkhianat negara atau pahlawan nasional menjawab Mantan Kepala BIN, Prof Dr AM Hendropriyono (Agama Akal TV, Channel YouTube, 11 Juni 2020) disimpulkan bahwa Sultan Hamid II Alkadrie berjasa besar kepada bangsa dan negara.

Kedelapan: Webinar nasional para guru sejarah seluruh Indonesia tentang kesejarahan Sultan Hamid II Alkadrie, dengan menghadirkan ahli sejarah Dr Rousdy Husein yang menggali masa BFO dan Republik Indonesia Serikat di mana Sultan Hamid sangat nasionalis sehingga dilaksanakan Konferensi Inter Indonesia I dan II disusul KMB di Den Haag Belanda. Hasilnya adalah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Begitupula Dr Muhammad Iskandar, pakar sejarah senior menyimpulkan bahwa tuduhan Sultan Hamid II terlibat Westerling tidak kuat. Terbukti dengan dokumentasi parlemen yang diterbitkan DPR RI (Seabad Parlemen Indonesia, 1918-2018). Begitupula putri Sang Proklamator, Prof Dr Meutia Hatta bersaksi, bahwa ayahnya tidak pernah berujar bahwa Sultan Hamid II adalah pengkhianat negara. Saksikan rekaman webinarya di Asosiasi Guru Sejarah Seluruh Indonesia atau teraju.id di channel YouTube per tanggal 5 Juli 2020.

Kesembilan: Atas dasar point-point pernyataan tersebut di atas, dengan ini kami meminta kepada Bapak Presiden RI Ir H Joko Widodo selaku pemegang hak prerogatif mengangkat Pahlawan Nasional setiap Hari Pahlawan (10 Nopember)  untuk dapat memulihkan nama baik Sultan Hamid II (dengan tuduhan sebagai pemberontak terhadap negara/pengkhianat negara) sekaligus pengakuan secara de Jure terhadap Sultan Hamid II sebagai Perancang Lambang Negara, serta menetapkan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia karena jasa-jasanya signifikan bagi keindonesiaan yang menyatukan.

Demikian petisi ini kami sampaikan dengan sebenar-benarnya. Semoga amal kebaikan kita semua mendapatkan ganjaran setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.

***