BORNEO DARURAT TAMBANG !

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Kaltim darurat tambang, terlalu banyak bekas lubang aktivitas tambang yang ditinggalkan begitu saja saya sebagai warga Kukar dengan ini menuliskan petisi ini agar bisa di telaah, di tanggapi karena jika terus menerus membiarkan para korporasi tambang dan pejabat yang korup bermain di belakang HUTAN  KALIMANTAN TIMUR BAHKAN KALIMANTAN NANTINYA HANYA AKAN MENJADI KENANGAN DAN SEJARAH

Saya menuntut kepada Pemerinta Republik Indonesia, Instansi terkait dan para pejabat terkait untuk :

1. Memperketat perijinan tambang batubara di Kalimanan

2. Desak perusahaan untuk melakukan reklamasi lubang bekas tambang serta merestorasi lubang ataupun wilayah yang pernah digunakan untuk kegiatan penambangan.

3. Berikan sosialisasi terhadap masyarakat desa terutama petani bahwa mereka sebagai petani berperan besar terhadap ekonomi negara maka dari itu himbau untk tidak menjual lahan ke perusahaan.

Tulisan ini saya lansir dari http://www.lpmjournal.id/sekelumit-dampak-tambang-batubara-lewat-film-sexy-killers/

Akibat tambang batubara
Keadaan masyarakat di Kalimantan Timur yang dekat dengan pertambangan batubara sangat memprihatinkan, salah satunya akibat dari dihancurkannya bukit-bukit, tanah pertanian juga merasakan dampaknya, belum lagi isu lingkungan seperti lahan hijau yang hancur, ribuan lubang bekas galian tambang yang banyak menelan korban, air bersih yang sulit didapatkan, hingga dampak-dampak ekologis lainnya.

Sepanjang 2012 hingga 2018 setidaknya terdapat 32 jiwa meninggal akibat lubang bekas galian tambang. Itupun hanya di Kalimantan Timur, sedangkan untuk skala nasional sejak 2014 hingga 2018 tercatat 115 jiwa menjadi korban. Setidaknya ada sekitar 3500 lubang bekas tambang yang menurut aturan seharusnya di reklamasi atau diurug kembali, namun nyatanya tidak.

Sudah empat tahun semenjak Rahmawati kehilangan anaknya karena menjadi korban bekas tambang, ia masih memendam kekecewaan terhadap pemerintah dan perusahaan lantaran menganggap kasus tersebut sebagai kasus ‘kemalangan biasa’. Padahal jika melihat ke lapangan, lokasi penambangan berjarak sangat dekat dengan pemukiman warga, bahkan ada yang berada di belakang suatu sekolah. Sambil terisak haru, Rahmawati bercerita mengenai janji dari pemerintah yang akan menutup lubang bekas galian tambang.

“Terus janjinya bapak pemerintah katanya pengen ditutup daerah lubangnya, taunya ditutup dengan seng bekas cuma berapa lembar. Saya lihat itu seng bekas baru ditulis dilarang bermain kah apa pake deko”

Sedangkan tanggapan dari Gubernur Kalimantan Timur saat diwawancarai oleh reporter setempat membuat pernyataan yang menggelikan dan mengaitkannya dengan magis.

“Korban terus jatuh begini, Pak?”

“Tidak masalah. Nasibnya kasihan. Ikut prihatin..”

“Untuk memutus ini bagaimana, Pak dari Pemrov Kaltim?”

“Korban jiwa itu, dimana-mana terjadi”

“Tapi ini bekas kolam tambang, meninggalnya?”

“Ya namanya nasibnya dia, meninggalnya di kolam tambang, kan.”

“Tidak ada upaya, Pak supaya tidak terjadi lagi, Pak?”

“Itukan pertanggungjawabannya dunia akhirat. Waspada masyarakat tau ada lobang, kita sudah sampaikan sebarkan ke seluruh juga. Dan itu kan sudah ditandai jangan sampai ada yang main, masih ada lagi, heran juga aku, jangan-jangan ada hantunya.”

Marak kriminalisasi
Bukan hanya masalah pertambangan batubara, kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan hidup kerap kali diterima oleh mereka yang kontra. Seperti yang dialami oleh I Nyoman Derman yang ditangkap dan dipenjara karena mempertahankan sawahnya di Kutai Kartanegara. Hal serupa dan lebih gila terjadi di Batang, Cayadi dan Carman divonis dan harus masuk bui selama 7 bulan lantaran menolak menjual tanahnya bagi pembangunan PLTU. Cerita Ketut Mangku Wijana dan masyarakat yang menggugat pembangunan PLTU di Celukan Bawang, Buleleng. Hingga perjuangan Suryanah dan Novi yang menderita kanker akibat terpapar polutan batubara dari PLTU Panau di Palu. Mereka adalah para korban kriminalisasi yang berupaya memperjuangkan haknya.

Biasanya, rakyat yang dipaksa untuk melepas tanahnya demi pembangunan PLTU dijanjikan sebuah pekerjaan. Kenyataan yang diterima masyarakat hanya sebagai buruh kasar untuk membangun gedung dan konstruksi PLTU, setelah itu mereka menganggur. Padahal sebelum ada PLTU, hidup mereka terasa cukup dan tenang meski bekerja sebagai petani.

Ada banyak perusahaan dan oligarki terkait, mereka membunuh rakyat pedesaan secara perlahan. Mereka seolah diam dan tidak merasa bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya. Sistem mereka diubah dan diberi label syariah (halal), seolah-olah apa yang mereka kerjakan berada pada jalur yang benar. Seharusnya label tersebut mempertimbangkan pada ‘hikmatnya,’ yakni tanpa merusak alam dan menambah penderitaan rakyatnya.

Jelas ditampilkan dalam film Sexy Killers, dimana para pemilik modal bebas mengeksploitasi alam yang disini adalah batubara dan dengan didukung oleh negara (pemerintah) dengan dalih investasi. Bagaimanapun investasi memang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan negara, namun cara-cara yang dilakukan kerap kali tak mengindahkan kemanusiaan serta minimnya tanggung jawab.

Langkah Kedepan
Seringkali pemerintahan pusat maupun daerah dengan mudah memberikan izin pada investor asing karena lebih menjanjikan dan efisien untuk meraup keuntungan dan dengan cepat pula meningkatkan pendapatan daerah. Yang kemudian, perizinan seperti pertambangan, dan lain-lain. Menjadi sangat lentur hingga sering mengabaikan suara rakyat.

Di tengah kemelut PEMILU, publik hanya dijadikan objek dari sang sutradara untuk meraih kekuasaan. Masyarakat seolah telah dipermainkan dengan ‘ena-ena’. Tirani tak serius memikirkan nasib dan hidup rakyatnya. Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat hanya tertulis di sila kelima belaka. Kenyataan dilapangan, seperti apa? Hanya bisa mengelus dada.

Meski demikian, publik masih punya banyak hal yang bisa digunakan untuk melawan. Memperjuangkan saudara-saudara yang menjadi korban ketidakadilan. Misalnya melalui tulisan, pengerahan massa demonstrasi, pendampingan masyarakat dan kegiatan sosial lain. Semua itu baik. Gerakan yang baik adalah gerakan yang berdampak di kehidupan, tak hanya ber ‘bacot-bacot‘ ria. []

Reporter: Adi Ariyanto | Bayu Utomo