Kemenangan

Raden Saleh menjadi Pahlawan Nasional dan 23 April sebagai Hari Seni Rupa Nasional Tetapkanlah Segera; dan Tempatkan Lukisan-lukisan Raden Saleh Koleksi Istana Secara Permanen di Istana Bogor.

Petisi ini membuat perubahan dengan 198 pendukung!


“Pahlawanku Raden Saleh, engkau kebanggaan bangsa”. (Trudy J., 2012)

Presiden Jokowi yang terhormat,

Sebuah pernyataan pelajar puteri dari Kota Bogor mengawali petisi ini. Petisi yang didedikasikan pada semua pelajar Indonesia, generasi baru dalam era global, masa depan Indonesia.

Petisi ini meminta Presiden Jokowi untuk merespon perjuangan, prestasi, pencapaian dan pengabdian Mahaputera Raden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880). Adapun 3 (tiga) kebijakan yang dimintakan, yaitu:

Pertama, menetapkan Raden Saleh Syarif Bustaman sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2015 ini, sebagaimana telah diusulkan secara formal oleh Gubernur DKI Jakarta, melalui Kementerian Sosial pada 2014.

Kedua, menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Seni Rupa Nasional pada tahun 2015 ini, sebagaimana telah diusulkan secara formal oleh Wakil Menteri bidang Kebudayaan pada 2014.

Ketiga, memerintahkan penempatan lukisan-lukisan Raden Saleh Koleksi Istana (Penangkapan Diponegoro dan lain-lain) secara permanen di Istana Kepresidenan di Kota Bogor, untuk menjamin akses yang luas bagi pembelajaran nilai-nilai kebangsaan dan estetika untuk generasi penerus serta pengenalan ‘masterpieces’ tersebut kepada tamu-tamu Negara. Tak kalah penting, mendekatkan pusaka-pusaka karya budaya tersebut dengan makam sang pelukisnya di Kota Bogor.


Yang terhormat Presiden Jokowi,

Petisi ini mengacu pada isi dokumen-dokumen usulan formal Gubernur DKI Jakarta (2014) maupun usulan formal Wakil Menteri bidang Kebudayaan (2014), yang disusun melalui mekanisme formal dengan melibatkan pihak-pihak yang berkompeten. Berikut 2 (dua) pokok penting dalam dokumen-dokumen tersebut.

Pokok I, Nilai Perjuangan Raden Saleh

1.    Raden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880) lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang menentang kolonialisme Belanda yang menindas. Ia diasuh Bupati Semarang, Suro-Adimenggolo, pamannya yang berpihak pada perjuangan Diponegoro.

2.    Di puncak masa kolonialisme Belanda, Raden Saleh tampil menjadi individu nasional pertama yang berprestasi amat tinggi di pusat kebudayaan Eropa di Dresden (Jerman) dan Paris (Perancis) pada periode 1839-1852.

3.    Raden Saleh menentang penindasan kaum kolonial, dan sengaja memperlihatkannya melalui ungkapan artistik yang kuat dalam karya-karya lukisnya, terutama “Penangkapan Pangeran Diponegoro” (1857) dan “Banjir di Jawa (1862).

4.    Pada 1869, Raden Saleh dan isterinya sempat ditahan di Depok (Jawa Barat) terkait sangkaan mendorong perlawanan kaum petani di Tambun (Bekasi) yang melawan kolonialis.

5.    Raden Saleh menjadi manusia modern pertama dari Pulau Jawa (Java’s first modern man) pada 1840-1870, yang melebihi intelektualitas sebagian besar kaum kolonialis di Nusantara.

6.    Raden Saleh menjadi Maestro Seni tingkat dunia. Corak lukisannya memadukan pemahaman budaya Timur dengan gaya dan teknik Eropa pada waktu itu. Beberapa lukisan yang dikagumi dunia di antaranya berjudul Hutan Terbakar, Berburu Kerbau di Jawa, Banjir di Jawa dan Penangkapan Pangeran Diponegoro.

 

Pokok II, Penghargaan Kepada Raden Saleh

1.    Raden Saleh mendapat Bintang Mahaputera Adipradana pada 11 Nov. 2011.

2.    Raden Saleh dikukuhkan sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia pada 1969 melalui pemberian Piagam Anugerah Seni oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

3.    Makam Raden Saleh di Kota Bogor dipugar secara langsung oleh Presiden Soekarno dengan Arsitek F. Silaban, pada 1953, bersamaan pembangunan Taman Makam Pahlawan Nasional di Kalibata.

4.    Raden Saleh menjadi satu dari tokoh yang namanya tersemat di berbagai jalan utama kota-kota di Indonesia (Jakarta, Medan, Bogor, Tangerang, Pacitan dan sebagainya).

5.    Raden Saleh dihormati sebagai pelopor Kebun Binatang di Indonesia, lewat pendirian Taman Hewan dan Tumbuhan di halaman rumahnya di Cikini (sekarang Taman Ismail Marzuki, Jakarta) pada 1864.

6.    Raden Saleh dibanggakan seorang pelopor paleontologi di Indonesia sebagaimana diakui oleh Masyarakat Arkeologi di Indonesia dan Museum Nasional.

7.    Raden Saleh diakui berjasa kepada masyarakat keilmuan yang sekarang menjelma menjadi Museum Nasional dan LIPI, terbukti lewat kontribusi materi dan pemikiran yang bernilai besar kepada perkumpulan/lembaga kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Batavia dan Buitenzorg pada.

8.    Raden Saleh diakui menyelamatkan banyak artefak budaya dan bersumbangsih besar menghibahkannya pada Museum Nasional, seperti naskah penting Siksa Kanda ing Karesian yang mengungkap sejarah Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat.

9.    Raden Saleh diakui menjadi bagian penting sejarah arsitektur Indonesia dengan merancang dan membangun sendiri sebuah rumah di Cikini (1860-an). Sebuah puri dengan gaya istana di Eropa yang diakui sebagai salah satu yang terindah di seluruh Nusantara pada masanya.

10. Raden Saleh dan karya besarnya masih terus menjadi bahan studi ilmiah internasional pakar-pakar seperti Prof. Peter Carey (Oxford), Dr. Werner Kraus (Passau), Dr. Marie-Odette Scalliet (Paris) dan sebagainya.

“Menurutku, Raden Saleh berbeda dengan banyak pahlawan yang mengangkat senjata (di medan tempur). Ia adalah seniman yang selalu ingat pada cita-cita kebebasan bangsanya, sekaligus mendambakan perdamaian dunia.” (Trudy J., 2012)

 

Presiden Jokowi yang kami hormati,

Menjadi bangsa besar di era global adalah sebuah keharusan bagi Indonesia. Untuk itu, ingatan pada sejarah dan kemudian pengembangannya menjadi pemahaman mendalam, yang mampu ditransformasikan menjadi potensi kesadaran berbangsa yang kontekstual dengan situasi kekinian, adalah salah satu kunci perubahan mentalitas, guna membangun sosok Indonesia yang maju dan bermartabat.

Ingatan akan Raden Saleh Syarif Bustaman, secara khusus, siap menjadi bekal bagi Indonesia berevolusi menjadi bangsa besar di era global. Sejarah mencatat bahwa seluruh hidupnya diabdikan pada kesenian, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kini semua buah pengabdiannya menjadi warisan berharga milik Bangsa Indonesia sepenuhnya (mengingat beliau tidak mempunyai ahli waris pribadi).

Hidup Raden Saleh juga sarat ide kemanusiaan yang universal, sehingga ia menjadi tokoh yang kagumi berbagai bangsa. Baik saat di Eropa maupun di tanah airnya sendiri. Bahkan di Bogor pada 1880, saat dimakamkan, jenazah Raden Saleh diantar beramai-ramai oleh sekitar 2000 orang, yang mewakili seluruh komponen masyarakat saat itu (Sunda, Jawa, Arab, Tionghoa dan Eropa).

Lewat hasrat luhurnya pada kemerdekaan, kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, Raden Saleh berjuang, walaupun nyaris sendirian, di jantung peradaban Eropa dan di pusat kekuasaan penjajah Hindia Belanda (Batavia dan Buitenzorg). Raden Saleh Syarif Bustaman sungguh bukan sebatas pejuang dengan senjata konvensional di ranah lokal.

Kebijakan dari Pak Presiden Jokowi terkait petisi ini akan menjadi satu momentum strategis dalam gerak perubahan bangsa. Momentum yang berawal ingatan sejarah, dikembangkan menjadi pemahaman tentang teladan bagi bangsa yang cerdas, kreatif dan berprestasi, serta pada akhirnya membangun sosok bangsa yang dihormati di era global.

Respon atas petisi ini juga mempunyai pengaruh langsung terhadap pelaksanaan program-program pembangunan oleh kementerian-kementerian terkait, termasuk oleh Badan Ekonomi Kreatif yang baru pertama kali dibentuk. Oleh karena ‘orang-orang kreatif Indonesia’ sejak Indonesia merdeka, tidak pernah menyia-nyiakan jejak-jejak rintisan awal Raden Saleh menjadi sebuah rangsangan berkarya.

Hingga kini jejak kreatif Raden Saleh terus berpotensi mendukung usaha-usaha di berbagai sektor kegiatan ekonomi kreatif. Seperti penjualan benda seni (lukisan maupun patung), arsitektur, fesyen, desain (termasuk pada perangko dan uang), kerajinan, film-video-fotografi, penerbitan dan percetakan, seni pertunjukan (termasuk opera), dan berbagai kegiatan kombinasi lainnya..


Presiden Jokowi yang terhormat,

“Raden Saleh sungguh-sungguh maestro seni lukis, tokoh bangsa dan cendekiawan terpuji. Sejarah dan karyanya menjadi inspirasi pendorong bagiku. Untuk meneruskan perjuangannya, menjadi warga bangsa yang terhormat sekaligus bersahabat dalam pergaulan masyarakat dunia yang adil”. (Trudy J., 2012)

Menyediakan sebuah sumur inspirasi berjuang dan berkarya bagi generasi penerus di era globalisasi, itulah manfaat tiga kebijakan, sebagaimana kami mintakan kepada Presiden Jokowi melalui petisi ini. Secara positif tiga kebijakan itu akan bersinergi dengan kebijakan-kebijakan strategis Revolusi Mental.

Inilah saatnya seorang maestro seni rupa bertaraf dunia diangkat menjadi pahlawan nasional, setelah didului beberapa sastrawan dan seniman musik. Ini pula saatnya penetapan Hari Seni Rupa Nasional sebagai sebuah momen budaya  tahunan, menyusul keberadaan Hari Film, Hari Musik dan sebagainya.

Respon positif atas petisi ini juga akan menjadi apresiasi nyata terhadap keberadaan dan perjuangan masyarakat seni rupa di Indonesia. Seni rupa secara keseluruhan, tanpa membedakan tradisi, ragam, media, bentuk maupun aliran karya seni.

Beberapa unsur publik menjadi penopang kuat petisi ini. Diantaranya, Prof. Wardiman Djojonegoro, Prof. Asvi W. Adam (LIPI), Dr. Ktut Winaya (Bali), Dr. Dicky Tjandra (Makasar), Tb. Andre Sukmana, Dr. Suwarno WS (Jogjakarta), HBL Mantiri, Ny. Sophie Sarwono-Goenawan (Bogor), Prof. S.M. Tjondronegoro, Agus Dermawan T., Eka Budianta, KP Hardi, Adenan Taufik, Ibrahim Basalmah, Panogu Silaban, Subiyanto, Petisi Raden Saleh 2005 dan masih banyak sekali tokoh serta rekan-rekan Indonesia lainnya - yang tak dapat kami tuliskan satu-persatu namanya.

Demikianlah petisi ini yang merupakan permintaan secara terbuka dari publik kepada Bapak Presiden Jokowi, yang penyampaiannya difasilitasi juga oleh media Change.org.

Kota Raden Saleh (Bogor), 26 Februari 2015.

Dayan D. Layuk Allo

 

Catatan:

Petisi dengan beberapa tambahan foto dapat dilihat pula di: www.petisiradensaleh2005.wordpress.com (tersedia beberapa informasi lain juga)

Video youtube.com terkait apresiasi publik pada Raden Saleh: 

A Short Story of Raden Saleh - Trailer

Pameran Tunggal Raden Saleh - 2012

Peninggalan Raden Saleh - Mushalla di Jerman

Raden Saleh, The Great Thinker - Seminar 2013

Sahabat-sahabat Raden Saleh

Werner Kraus, peneliti Raden Saleh

Pameran Besar Sang Maestro - 2012



Hari ini: dayan mengandalkanmu

dayan layuk allo membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Presiden @Jokowi_do2, Jadikan Raden Saleh sbg Pahlawan Nasional. Tetapkan 23 April sbg Hari Seni Rupa Nasional.". Bergabunglah dengan dayan dan 197 pendukung lainnya hari ini.