Makan Murah adalah Hak Kita!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 15.000.


Kepada Presiden Jokowi: Setiap rakyat Indonesia sewajarnya memiliki hak yang sama untuk dapat membeli makanan dengan harga yang terjangkau! Jangan biarkan kasus gizi buruk terulang akibat harga makanan di Indonesia terlampau mahal dan tidak terjangkau masyarakat pra-sejahtera!

“Tanda tangani petisi ini sekarang dan tunjukkan solidaritasmu, karena setiap dari kita berhak memperoleh pangan dengan harga yang lebih terjangkau! ”

Mari ikut berpartisipasi dalam Kampanye Hak MakMur (Hak Makan Murah), guna mendorong Presiden Jokowi agar mereformasi kebijakan pangan dan perdagangan, sehingga masyarakat miskin, para pedagang kecil, para wirausahawan kuliner, dan tentunya kamu bisa membeli bahan-bahan makanan dengan harga lebih terjangkau.

Mari kita dorong pemerintah agar lebih terbuka dan aktif dalam perdagangan internasional seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sehingga alur pasokan bahan pangan dapat lebih stabil, singkat, dan kompetitif.

Dampak Pangan Mahal bagi Kesehatan

Dalam rilis terbaru mengenai Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dihimpun oleh Kementrian Kesehatan pada tahun 2018, menunjukan bahwa terdapat sebanyak 30,8% balita mengalami stunting. Meskipun data tersebut berkurang 7% sejak 2013, namun sejatinya pada tahun 2016 pernah menyentuh angka 29% dan meningkat kembali di tahun 2018 (Kementrian Kesehatan, 2016). Terlebih, temuan dari WHO menyatakan bahwa ambang batas maksimal prosentase stunting yang dianggap baik adalah 20%. Artinya pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah yang besar guna menekan laju stunting di Indonesia. Jika tantangan ini tidak dijawab dengan baik, maka tujuan pembangunan kita akan menjadi sulit untuk direalisasikan.

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia belum menciptakan terobosan atau reformasi kebijakan yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan makanan bergizi khususnya bagi sekitar 25 juta masyarakat pra-sejahtera (BPS, Maret 2019) di negeri ini.

Dampak Pangan Mahal bagi Petani Kecil

Pemerintah selama ini hanya fokus terhadap kebijakan swasembada pangan tanpa memperhatikan mata rantai distribusi bahan makanan dalam negeri yang masih terlampau panjang dan tidak efisien. Meskipun sudah ada kerangka kerjasama internasional seperti MEA, bahan pangan impor yang memiliki mata rantai lebih pendek justru kerap dikesampingkan. Hal ini berimplikasi pada melambungnya harga bahan makanan di Indonesia, terlebih pada momen-momen bulan Ramadan dan hari-hari raya lainnya.

Harga bahan pangan yang tinggi justru membuat para petani kecil turut menderita. Mengingat 2/3 petani kita merupakan net rice consumers (mereka membeli beras lebih banyak daripada yang mereka tanam sendiri), mereka harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli beras yang berkualitas, belum lagi lauk-pauknya (Patunru & Basri, 2012). Kebijakan yang awalnya digadang-gadang akan melindungi masyarakat dengan ekonomi lemah, justru membawa konsekuensi yang tidak berpihak pada kelompok yang paling rentan ini. 

Dampak Pangan Mahal bagi Pedagang Kecil dan Pengusaha Kuliner

Harga bahan pangan yang tinggi juga menyulitkan para pedagang kecil di pasar-pasar tradisional dan juga para wirausahawan kuliner. Mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli bahan pangan dari para agen ataupun pedagang grosir sebelum dapat mereka olah atau jual lagi kepada para konsumen.

Dampak Pangan Mahal bagi Kamu

Jika kamu adalah mahasiswa, ibu rumah tangga, atau karyawan, harga pangan mahal juga bisa mempengaruhi kebutuhan kamu. Menurut Indeks BU RT, jika harga pangan kita bisa semurah di negara lain, kamu bisa menggunakannya untuk keperluan lain yang juga penting. Bayangkan jika kamu bisa nabung Rp100.000 - Rp200.000 per bulan? Uang lebih tadi bisa kamu manfaatkan untuk yang lain seperti beli buku, menabung untuk liburan, beliin kado untuk yang tersayang, atau tambahan uang jajan.


Kebijakan swasembada yang tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai maupun rantai distribusi yang efisien membuat harga pangan kita menjadi lebih mahal daripada negara-negara tetangga kita. Beras di Indonesia hampir tiga kali lipat lebih mahal daripada beras di Thailand, sedangkan harga daging sapi kita hampir dua kali lebih tinggi daripada Australia (BPS dan Bank Dunia, 2017). Selain itu, jika dilakukan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kebijakan seperti non-tariff measures yang diberlakukan, seperti panjangnya prosedur,  pun juga membuat harga pangan impor pun jadi lebih mahal.


Indeks Bu RT (Indeks Bulanan Rumah Tangga) yang disusun oleh Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menunjukkan bahwa harga sejumlah bahan pangan di Jakarta jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga bahan pangan di ibukota negara-negara tetangga. Contohnya, bawang merah di India hanya Rp8.914/kg, sedangkan di Jakarta Rp42.000/kg. Harga beras di Malaysia hanya Rp8.692/kg, sementara di Jakarta harganya bisa mencapai Rp11.520/kg. Berdasarkan Indeks Bu RT di bulan Oktober 2019, jika harga bahan makanan di Indonesia lebih murah, maka di bulan itu setiap rumah tangga dapat menghemat hingga lebih dari Rp460.000! Lengkapnya dapat dilihat di: Indeks Bu RT Oktober 2019.

Dalam rangka berkontribusi secara nyata, CIPS melakukan berbagai upaya guna mempromosikan keterjangkauan pangan di Indonesia. Salah satu upaya strategis CIPS adalah dengan menghimpun penelitian, CIPS memiliki sejumlah hasil riset di bidang perdagangan pangan yang juga berisi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah Indonesia, demi mendukung terciptanya Hak Makan Murah bagi masyarakat pra-sejahtera. Laporan riset ini dapat dilihat selengkapnya di sini.

Kami juga berupaya untuk mengadvokasikan hasil penelitian kami ke para pemangku kebijakan melalui berbagai kegiatan. Salah satunya adalah dengan secara langsung melakukan audiensi hasil penelitian. Di antara yang pernah kami kunjungi ialah Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP), Perum Bulog, Direktorat Pangan dan Pertanian Bappenas hingga Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPADI).

Di samping itu, kami juga secara rutin menyelenggarakan berbagai acara untuk menyebarkan penelitian kami secara lebih luas. Pada bulan Oktober – Desember 2019  menyelenggarakan Campus Roadshow untuk melakukan pemutaran film pendek berjudul Bakoel Kosong. Kampus yang kami hadiri diantaranya ialah Universitas Padjajaran, Institut Pertanian Bogor, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Lampung, Politeknik Negeri Lampung hingga PKN STAN. Acara tersebut menyedot perhatian para mahasiswa khususnya pada jurusan Pertanian, Ilmu Ekonomi serta Ilmu Sosial dan Politik.

Melalui petisi ini kami mendorong pemerintah Indonesia untuk mereformasi kebijakan pangan dan perdagangan, sehingga masyarakat miskin, para pedagang kecil, para wirausahawan kuliner bisa membeli bahan-bahan makanan dengan harga lebih terjangkau.

Kami juga mendesak pemerintah Indonesia agar lebih realistis terhadap kebijakan swasembada pangan, serta bersifat lebih terbuka dan aktif dalam perdagangan internasional seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sehingga alur pasokan bahan pangan dapat lebih stabil, singkat, dan kompetitif.

Jumlah dari petisi ini akan kami aspirasikan kepada pemangku kebijakan terkait agar suara kalian di dengar. Oleh karenanya, yuk tanda tangani petisi ini, karena suaramu akan berdampak besar terhadap keterjangkauan pangan di Indonesia!

 “Tandatangani petisi ini sekarang juga dan tunjukkan solidaritasmu, karena makan murah adalah hak kita!”

Mitra Koalisi Hak Makan Murah :

- CIPS : Center for Indonesian Policy Studies, merupakan sebuah lembaga kajian nirlaba dan non-partisan. CIPS mendorong terciptanya reformasi sosial dan ekonomi yang berlandaskan pada semangat kebebasan dan keterbukaan bagi masyarakat. CIPS bekerja sepenuhnya untuk menyusun analisis dan rekomendasi kebijakan yang sifatnya praktis yang diperuntukkan bagi para pembuat keputusan dalam struktur legislatif dan eksekutif pemerintah Indonesia. 

- IAAS : International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS) Indonesia adalah bagian dari IAAS World yang merupakan asosiasi mahasiswa pertanian dan ilmu terkait terbesar di dunia yang tersebar di lebih dari 45 Negara. IAAS Indonesia didirikan tahun 1992 dan memiliki slogan “Think Globally Act Locally” dengan tujuan agar dapat menjadi wadah bagi mahasiswa Indonesia untuk dapat bertukar pikiran, gagasan, dan aksi nyata dengan mahasiswa lain di seluruh dunia. IAAS Indonesia memiliki komite lokal yang sudah tersebar di universitas-universitas di Indonesia dengan program utama seperti pertukaran pelajar nasional dan internasional, IAAS Summit, Youthagricareture, dan kampanye tentang isu pertanian secara luas.

- CISDI : Center for Indonesia's Strategic Development Initiative adalah lembaga yang berperan sebagai pusat inisiatif strategis pembangunan nasional Indonesia. CISDI adalah transformasi dari Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Millennium Development Goals (KUKP-RI MDGs) yang fokus pada penciptaan inovasi- inovasi di bidang pembangunan kesehatan dan pemberdayaan pemuda sebagai cara mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). CISDI adalah pengelola program Pencerah Nusantara, penggagas Forum for Young Indonesians (FYI), serta turut aktif dalam upaya pengendalian tembakau di Indonesia.

- Nutrition International Indonesia : Nutrition International Indonesia adalah organisasi nirlaba yang bekerja untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa tujuan prioritas dari Nutrition International Indonesia adalah meningkatkan jumlah anak-anak Indonesia yang memperoleh suplemen vitamin A, meningkatkan jumlah rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium, serta meningkatkan jumlah remaja putri yang memperoleh tablet tambah darah.

- Lemonilo : Lemonilo adalah healthy lifestyle ecosystem yang menghadirkan berbagai produk alami dan terjangkau untuk segala kebutuhan yang bebas dari 100+ bahan sintetis berbahaya. Lemonilo juga bermitra dengan UKM dari seluruh Indonesia, dengan misi membantu masyarakat Indonesia menjadi lebih bahagia dan produktif, dengan menjalankan hidup sehat yang mudah dan terjangkau.