Hukum para pelaku penambangan Minyak Ilegal di Bahar Selatan, Kab. Muaro Jambi, Prov Jambi

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Mulai Oktober 2018,  penambangan minyak ilegal masif dilakukan di tengah pemukiman penduduk di Desa Bukit Subur, Kec. Bahar Selatan, Kab. Muaro Jambi, Prov. Jambi. Penambangan minyak ilegal berdampak pada ekosistem lingkungan pertanian dan lajur daerah aliran air sungai (DAS) di daerah tersebut.

Limbah minyak kerap membanjiri pemukiman, hingga mencemari sungai. Belum lagi, bau tak sedap menyelimuti ruang udara di tengah penduduk.

Mirisnya, pemerintah desa setempat justru disinyalir mendorong minyak ilegal tersebut. 30 ribu per galon merupakan uang Fee. Menurut salah satu informan, uang tersebut tidak masuk ke kas desa, melainkan ke salah satu oknum desa tanpa pembukuan yang jelas. Persisnya, nilai transfer uang tersebut telah mencapai 200-300 juta rupiah.

Elemen masyarakat terkait adanya Illegal Drilling di wilayah itu tak mampu berbuat banyak. Pihak Pemerintah Kecamatan juga Polsek Bahar Selatan masih melakukan himbauan dan memasang spanduk peringatan.

Sebagian elemen pun mendesak Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi, namun hingga sekarang belum ada titik jelasnya.

Hingga petisi ini dibuat, salah satu pihak Desa menyebut bahwa izin penambangan sedang dalam proses perizinan. Namun, kondisi itu hanya akan memperparah keadaan, lingkungan semakin tercemar, pun banyaknya warga justru melakukan pengeboran.

Sebagian mereka yang tak setuju akan pengeboran minyak ilegal itu tengah diancam dengan adanya intervensi dari aparat keamanan di lingkungan Prov. Jambi.

Lantas, sekarang kemana masyarakat mengadu?

Belum lagi, beberapa aktivis lingkungan pesimis akan kondisi dan upayanya pasca rilis film Sexy Killer: Ekspedisi Indonesia Biru. Pada film itu, politisi dan pejabat teras ternyata memiliki bisnis dibidang ekspolrasi bumi.

Pak Presiden, Mohon selamatkan Indonesia ini!