"Kawal proses hukum: dukung para Pemuda korban penganiayaan"

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Perhatian seluruh dunia saat ini tidak lepas dari Covid-19. Virus ini sudah menyebar hampir ke seluruh negara-negara di dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Pemerintah pusat pun melakukan berbagai cara untuk memutuskan rantai penyebaran Covid-19. Hal yang sama diikuti oleh pemerintah daerah di seluruh Provinsi, Kabupaten/Kota di Indonesia. Masyarakat mulai siaga melakukan penanganan dengan berbagai cara, mulai dari penggunaan APD, penyemprotan disinfektan dan membatasi mobilitas dalam kota. 

Hal ini pula diberlakukan di sebuah kampung di daerah timur Minahasa, Sulawesi Utara. Masyarakat kampung setempat sepakat memberlakukan penanganan dengan membangun pos penjagaan di pintu masuk kampung tersebut. Akses keluar masuk transportasi diperketat, masyarakat yang berpergian keluar dan masuk kembali ke kampung harus mengikuti prosedur penyemprotan disinfektan pada kendaraan. Begitulah pula dengan tamu yang datang, harus diketahui maksud dan tujuannya terlebih dahulu dan dilakukan tidakan penyemprotan disinfektan baru kemudian melanjutkan perjalanan. 

Jumat 17 April 2020 menjadi giliran para Pemuda Kampung untuk melakukan penjagaan dan tetap dipantau oleh Kepala Lingkungan. Kira-kira sekitar pukul 01:30 malam (18/04) waktu setempat, sebuah terlihat mobil hendak memasuki kampung tersebut. Para Pemuda yang masih melakukan penjagaan memberhentikan kendaraan yang tidak dikenal dengan tujuan bertanya apa maksud dan tujuan memasuki kampung tersebut dengan sopan dan mengucapkan salam. Pengendara mobil tersebut mengaku sebagai Anggota Polisi. Karena mereka tidak mengenal pengendara tersebut, mereka masih berbincang dan bertanya maksud dan tujuannya. Tak berselang beberapa lama, sebuah kendaraan juga hendak memasuki kampung tersebut. Pengendaranya adalah Kapolsek di daerah tersebut yang kebetulan juga tinggal di kampung tersebut. Terjadi perbincangan singkat di antara mereka dan Kapolsek menginformasikan bahwa benar pengendara tersebut merupakan Anggota Polisi. Kapolsek dan Anggota Polisi kemudian meninggalkan para Pemuda dengan memasuki kampung tersebut. Selang beberapa waktu kemudian, Kapolsek dan Anggota Polisi kembali ke pos penjagaan dan dari arah berbeda datang pula kendaraan dengan beberapa Anggota Polisi didalamnya. Sempat terjadi terjadi adu argumen antara para Pemuda dan Anggota Polisi yang mereka berhentikan. Penyebabnya adalah Anggota Polisi tersebut merasa dihadang oleh para Pemuda ketika hendak memasuki kampung tersebut. Para Pemuda yang merasa bahwa hal tersebut tidak benar berusaha menjelaskan kepada Kapolsek dan Anggota Polisi yang lain bahwa mereka tidak menghadang ataupun melarang melainkan mereka hanya bertanya maksud dan tujuan dengan sopan dan bahkan mengucapkan salam, mengingat bahwa mereka tidak mengenal kendaraan maupun Anggota Polisi tersebut. Namun, sang Anggota Polisi tersebut tetap bersikeras bahwa para Pemuda itu menghadangnya dan bahkan mempertanyakan siapa yang menyuruh mereka dan atas dasar apa dan hak siapa mereka melakukan penghadangan. Para Pemuda tetap menjelaskan bahwa mereka tidak menghadang, tapi bertanya maksud dan tujuan dan menjawab bahwa mereka mengikuti instruksi dari Kepala Kampung untuk melakukan penjagaan. Kapolsek yang berada di lokasi pun mendengarkan dan merekam kejadian tersebut tanpa ada arahan maupun menjadi penengah. Tak berselang beberapa lama setelah adu argumen, para Pemuda tersebut langsung digiring ke mobil Polisi oleh Anggota Polisi lainya dengan cara kasar dan dipukuli bahkan kepala Lingkungan pun yang memantau para Pemuda kena pukul. Sesampainya di Polres, para Pemuda masih dipukuli dan bahkan ada yang dipukuli menggunakan benda tumpul hingga menyebabkan luka dan memar ditubuh mereka. Para Anggota Polisi bahkan mengintimidasi agar para Pemuda tersebut tidak melaporkan kejadian yang menimpa mereka kepada orang tua maupun masyarakat. Bahkan telepon genggam disita dan video yang sempat mereka abadikan saat adu argumen di hapus oleh Polisi. 

Keesokan paginya, para Pemuda dilepaskan dan mereka sepakat untuk melaporkan kejadian yang menimpa mereka. Menurut penuturan mereka, para Anggota Polisi sudah dalam keadaan pengaruh minuman keras dan bertindak kasar. Mereka bahkan tidak habis pikir kenapa mereka harus dipukuli, kalaupun mereka salah, tindakan yang benar adalah memberikan pembinaan dengan cara yang baik mengingat mereka juga tidak bertindak kasar pada Anggota Polisi. 

Kasus ini sudah berlanjut dan sementara diproses di Polda Sulawesi Utara. Dari laporan yang beredar, Kapolsek mengatakan bahwa para Pemuda tersebut sudah dalam keadaan pengaruh minuman keras dan sengaja menghadang Anggota Polisi tersebut. Padahal setiap hari Kapolsek pulang ke rumah dan mengetahui prosedur apa saja di pos penjagaan.

Para Pemuda yang kesehariannya hanyalah Pemuda biasa yang jauh dari kata "preman kampung" pun tidak bisa berbuat banyak. Meraka hanya mengikuti instruksi dan menjalankan tugas mereka demi keamanan bersama. Masyarakat yang merasa diresahkan dengan kejadian tersebut bersama-sama mendukung para Pemuda dan bersedia mengikuti proses hukum. 

Mari bersama-sama kita bantu para Pemuda yang tidak bersalah dan kawal proses hukum dan semoga pesan ini bisa tersampaikan kepada petinggi Polri dan seluruh masyarakat Indonesia. Jangan biarkan pengayom masyarakat memberikan contoh buruk dan melakukan seenaknya hanya karena mereka punya tanda pengenal sebagai Anggota Polisi. 

Salam, semesta memberkati.