Petition Closed
Petitioning POLRI

BEBASKAN PARA PETANI INDRAMAYU DAN PEJUANG AGRARIA

Melihat limpah-ruahnya sumber daya alam di negeri ini, membuat saya memilih berkuliah di Fakultas Pertanian. Saya pikir, jadi petani itu bisa sejahtera lahir batin. Bayangkan betapa luasnya lahan yang bisa digarap dan menghasilkan di negeri ini. Bayangkan juga betapa mahal juga harga produk pertanian di pasaran.

Tapi bayangan saya itu sirna waktu melihat kondisi petani yang sesungguhnya. Banyak petani yang menderita dan miskin. Sudah harus bersaing dengan produk pertanian impor, petani lokal juga tak dilindungi pemerintah. Tak jarang petani-petani justru digusur dengan alasan pembangunan.

Yang kini membuat saya kini terperangah, protes petani di Indramayu untuk mempertahankan sepetak lahannya dibalas dengan kekerasan oleh aparat dan preman. Mereka diseret, dipukuli, dilempari batu, ditembaki gas air mata dan peluru karet oleh aparat. 22 petani terluka dan 49 sepeda motor petani dirusak. Polisi juga menetapkan 5 petani jadi tersangka. Padahal para petani itu hanya melakukan aksi damai untuk memprotes pembangunan Waduk Bubur Gadung yang mengancam lahan mereka.

Saya heran, kenapa malah petani yang ditahan, sementara Polisi dan preman yang memulai bentrokan. Para petani dan pejuang agraria yang selama ini mempertahankan kedaulatan atas tanah airnya telah mengalami kriminalisasi. Sampai sekarang pun para petani itu diintimidasi oleh aparat. Mereka hidup dalam ketakutan dan tak bisa apa-apa.

Saya ingin mengajak kawan-kawan untuk menyelamatkan petani kita. Bukankah di tangan mereka kita masih bisa menikmati bahan makanan murah? Bebaskan petani Indramayu yang ditahan! Selamatkan petani untuk selamatkan hidup kita!

Letter to
POLRI
POLRI
BEBASKAN PARA PETANI INDRAMAYU DAN PEJUANG AGRARIA

Pak Kapolda Suhardi, Anda berjanji untuk “Mendambakan Polri yang santun, bermoral dan modern.” Bebaskanlah petani-petani Indramayu!
Petani adalah pahlawan bangsa, lewat peluh dan segala penderitaannya hingga kebijakan yang memiskinkan, petani masih konsisten mengelola lahan garapannya demi dapat memenuhi kebutuhan pangan kita. Namun dalam usia kemerdekaan Indonesia kini menginjak ke-68 tahun, Petani seakan tak lagi dipedulikan dalam perjalanan bangsa Indonesia. Seringkali kita menutup mata makna penting keberadaan petani bagi kelangsungan hidup bangsa. Petani adalah sokoguru bangsa yang acapkali luput dari hiruk-pikuk keseharian kita.

Dibalik keluputan kita akan peran petani, kini mereka hidup dalam kesulitan yang luar biasa. Bukan saja menjadi korban gencarnya kebijakan impor yang menggempur hasil pertanian mereka, namun kini mereka dihadapkan pada persoalan kekerasan dan intimidasi dari aparat kepolisian dan preman akibat mempertahankan kedaulatan atas tanah dan air.

Pada Jumat, 23 Agustus 2013 lalu alat berat menjalankan pembuatan waduk dengan aktivitas pengerukan, membuat jalan di sekitar lokasi waduk yang berada di Desa Loyang. Minggu tanggal 25 Agustus 2013, sekitar jam 07.00 warga kumpul di lapangan. Melihat aktivitas itu, kemudian petani berusaha mempertahankan tanah garapannya kemudian mendapat tindakan anarkis dari preman wilayah, aparat kepolisian dan sejumlah tentara justru membiarkan para petani dipukuli dan dihantam dengan balok kayu hingga babak belur. Dalam situasi mempertahankan diri, 1 alat berat terbakar dan kerusuhan tak dapat dihindarkan. Aparat kepolisian yang dibantu oleh preman dalam kejadian tersebut melakukan tindakan represif dengan memukuli, menyeret dan menodongkan senjata serta menembakan gas air mata dan peluru karet yang diarahkan ke petani sehingga mengakibatkan puluhan petani luka-luka.

Korban langsung dari peristiwa itu sebanyak 30 orang (Petani, Mahasiswa, termasuk Sekjend Serikat Petani Indramayu yang sekaligus adalah DN KPA Wilayah Jabar Banten, Abdul Rozak) telah ditangkap kepolisian setempat. Tidak hanya itu, puluhan sepeda motor milik petani juga dirusak oleh aparat kepolisian dan preman.

Dalam tindakan yang arogan dan membabi-buta, aparat juga melakukan penangkapan dan pemaksaan penandatanganan BAP Pembakaran alat berat terhadap 3 orang petani dan 2 pendampingnya yaitu antara lain:
A. Abdul Rojak 29 tahun (Sekjend STI/DN KPA Jabar – Banten)
B. Hamzah Fansuri 27 tahun (Wasekjend STI)
C. Watno 42 tahun (Petani, Pengurus STI di Desa Suka Slamet)
D. Wajo 40 tahun (Petani, Pengurus STI di Desa Bojong Raong)
E. Rohman 45 tahun (Petani, Anggota STI)

Dalam catatan Konsorsium Pembaruan Agraria, sepanjang 2004-2012 sedikitnya 941 orang ditahan, 396 mengalami luka-luka, 63 orang diantaranya mengalami luka serius akibat peluru aparat, serta meninggalnya 54 petani/warga di seluruh wilayah RI.

Kami melihat penganiayaan hingga kekerasan terhadap petani telah melukai harga diri bangsa sebagai negara agraris yang juga menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Petani adalah pahlawan bangsa yang memberi makan seluruh elemen bangsa ini. Kami berpikir bahwa Bangsa ini harus menghargai petani demi menjaga kemampuan mengelola lahan dan membudidayakan tanaman agar Indonesia dapat berdaulat di bidang pangan. Kami khawatir bahwa ke depan profesi petani akan musnah karena identik dengan kemelaratan dan bahkan diperlakukan tidak manusiawi di tanah-airnya sendiri. Kekerasan terhadap para petani akibat pembangunan yang merampas sumber hidup para petani tidak bisa dibenarkan. Maraknya konflik agraria karena ketimpangan penguasaan sumber daya alam mengakibatkan petani menjadi miskin dan sengsara. Maka dari itu bebaskan seluruh petani Indramayu dan pejuang agraria yang ditangkap segera usut tuntas kasus penganiayaan dan intimidasi terhadap petani indramayu.