Publik Berhak Hidup Aman Dan Tertib, Tolak Asal Asalan Lepas Kejahatan Berkeliaran

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Polda Jabar tak berteladan bila ulur-ulur waktu lagi, segera tangkap dan adili seorang PPAT yang dilepas berkeliaran oleh Polres Cibinong Bogor, alasannya Kamtibmas terganggu, publik berhak hidup tertib dan aman dijamin UUD 1945 dan sejumlah undang-undang lainnya. Sangat disayangkan, ada warga terpaksa terbuka mengingatkan pimpinan Polda Jabar bahwa: Kemudaratan bagi masyarakat luas oleh karena Polres telah melepas kejahatan berkeliaran dua tahun bermodus hentikan proses penyelidikan seorang PPAT telah berakibat entah sudah sekian korban lain berjatuhan dan berpotensial korban-korban baru akan berjatuhan lagi di masyarakat.  Sekiranya, Polres  bersedia sederajat lebih beradab dan berakhlak, tentu akan konsekwen menjaga Kamtibmas, yaitu tidak ugal-ugalan intimidasi pelapor, setelah itu, arogan melepas kejahatan bebas berkeliaran di masyarakat yang tengah buta bahwa ada suatu kejahatan telah dilepas berkeliaran dua tahun.

Sangat aneh bin ajaib, di Polda Jabar belum segera berteladanan dengan sigap bertindak menangkapnya meski telah sekitar 40 hari ketahui bahwa senyata-nyatanya telah memenuhi lebih dari dua alat bukti sejak dari dulu ditangani oleh Polres, telah punya idenditasnya, berdasarkan sebuah surat pengaduan tanggal 13 Mei 2020, yang menyertakan ‘Daftar alat bukti atau tulisan’ diatas materai Rp6000 pada setiap alat bukti yang berjumlah 21 buah.

Sungguh kasihan warga lain di masyarakat tengah tercederai haknya, karena sangat mungkin sedang terancam, berpotensial akan menjadi korban baru, sementara mungkin sejumlah korban yang lain juga telah berjatuhan, tapi mereka belum sadari. Meski wilayah praktek si PPAT di Kab Bogor, tapi karena beradalan dan tak segan-segan melanggar wilayah prakteknya, akibatnya jumlah penduduk yang potensial menjadi korban-korban berikutnya adalah kawasan Jabodetabekjur dan Bandung yang populasinya belasan juta orang penduduk.

Bahwa berdasarkan sejumlah alat bukti yang sama dimiliki oleh Polres Cibinong Bogor, kemudian didalam pertimbangan sebuah putusan pengadilan Nomor: 15/P/FP/2018/ PTUN-JKT tanggal 6 September 2018, Majelis hakim yang terdiri dari 3 (tiga) orang hakim, tanpa dissenting opinion, menyatakan notaris PPAT N Nurhayati SH., MKn telah melakukan pelanggaran berat terhadap Peraturan Jabatan PPAT, dan Majelis hakim telah memutus Menteri ATR wajib segera kenakan sanksi kepada PPAT. Kaitannya adalah pelanggaran etik oleh PPAT telah bermuara kepada pelanggaran pidana dengan pemberatan yaitu terpenuhinya unsur-unsur Pasal 264 alternatif Pasal 266 KUHP.

Wajar hakim telah memutus Menteri ATR wajib kenakan sanksi kepada PPAT,  alasannya sejumlah pelanggarannya dilandasi adanya mensrea jahat, yaitu si PPAT telah ketahui secara nyata-nyata dan terang, bahwa korbannya telah pelunasan total atas objek jual beli karena ditipu Saudara Sunardi, SH,.MM, bermodus mencuri blangko akta palsu asal seorang PPAT yang lain sebelumnya. Ironisnya, PPAT N Nurhayati SH.,MKn yang membuat akta otentik pengganti, malah dengan sengaja dan brutal melanggar tata cara pembuatan akta menurut undang-undang, berakibat menjadi cacat hukum, memuat sejumlah keterangan palsu, dan korban kehilangan hak. Jadi tepat disimpulkan si PPAT telah bermufakat jahat dengan bandit, berbahaya bagi masyarakat,  miskin moral dan akhlaknya bila dikaitkan dengan sumpah jabatan yang diucapkan di pelantikan notaris PPAT dan malah menghardik korbannya pula ketika diingatkan telah menyalahi ketentuan.

Hak publik mendapat ketertiban dan keamanan di masyarakat tak perlu diperdebatkan lagi oleh siapapun, apalagi oleh aparat penegak hukum yang tugas pokoknya adalah menjaga Kamtibmas, oleh karena itu langkah menunda-nunda proses hukum, apalagi ingin meniru Polres melepas kejahatan berkeliaran, sungguh tak pantas tak berteladan, bila dilakukan oleh pimpinan Polda Jabar yang lebih bijaksana dari Polres Cibinong Bogor.

Izinkan kami mengutip Kapolri berpesan “Satu Teladan Lebih Baik Dari Seribu Nasihat”, tapi Ulama bersabda  “Satu Keteladan Buruk Lebih Ampuh Berinfeksi Daripada Sejuta Nasihat Baik”.