Petisi ditutup

MENCABUT PERSYARATAN YANG DISKRIMINATIF BAGI PENYANDANG DISABILITAS DAN MEMBERIKAN KEBIJAKAN AFFIRMATIVE ACTION DALAM PERGURUAN TINGGI NEGERI

Petisi ini mencapai 702 pendukung


Indonesia mempunyai cita-cita untuk melindungi hak asasi setiap warga negaranya tanpa membeda-bedakan. Tentu saja, termasuk hak dalam dunia pendidikan. Untuk itu, menerima siswa difabel dalam dunia pendidikan tanpa membeda-bedakan merupakan implemetasi UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang sama. Pernyataan Salamanca yang dibuat dalam Konferensi Dunia tentang Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus atau Penyandang Disabilitas bulan Juni 1994 menegaskan pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan anak difabel dalam latar pendidikan umum. Tujuan menerima difabel di pendidikan umum untuk mengoptimalkan potensi dan kekuatan mereka  dan tentu untuk keadilan dan distribusi akses pendidikan ke semua pihak, terlebih lagi sejak Tahun 2011 Indonesia telah meretivikasi Konvensi Hak-hak Difabel (convention on the rigths of people with disabilities). Dalam konvensi tersebut bahwa penyandang disabilitas mempunyai hak yang sama kedudukannya dalam berbagai aspek kehidupan masyarakt termasuk pada aspek pendidikan.

Sejalan dengan konvensi tersebut, berbagai upaya untuk mewujudkan pendidikan yang berkeadilan dan tanpa membeda-bedakan penyandang disabilitas dengan yang lainnya. Pemerintah sendiri sudah mencanangkan pendidikan inklusif termasuk bagi perguruan tinggi. Dalam dunia pendidikan, setidaknya kaum difabel tidak dibeda-bedakan dan diberikan kesempatan yang sama dalam mengenyam proses belajar mengajar. Institusi pendidikan juga setidaknya memberikan pelayanan dan kebutuhan bagi penyandang disabilitas untuk menunjang proses belajar di kampus.

                Di tengah perjuangan masyarakat Indonesia untuk mewujudkan pendidikan yang lebih berkeadilan bagi penyandang disabilitas, beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia justru mempunyai kebijakan yang bertolak belakang dan justru sebaliknya melakukan diskriminasi dengan membatasi penyandang disabilitas untuk ikut dalam SNMPTN (Sistem Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2014. Hal ini tampak diliat dari web penerimaan SNMPT yang memberikan syarat yang sangat diskriminatif dan menjadikan penyandang disabilitas tidak bisa mendaftar, sebagaimana bisa dilihat dalam: https://web.snmptn.ac.id/ptn/36. Universitas Negeri Medan Misalnya, mensyaratkan bahwa juruan Matematika, Statistik, dan jurusan lainnya tidak tuna daksa, dan disabilitas lainnya. Apakah seorang yang memakai kursi roda akan berpengaruh pada hitung-hitungan statistik dan matematika? Demikian pula dengan Universitas Andalas, banyak jurusan yang mensyaratkan tidak bolehkan ketunaan, termasuk jurusan Psikologi. Akankah ada hubungan antara disabilitas dan keterhambatan dalam memplajari psikologi, matematika, dan jurusan-jurusan lainnya? Hal yang sama juga dilakukan oleh Universitas Negeri Padang, Universitas Islam Negeri Syarif Kasim, Universitas Sriwijaya, Universitas Bengkulu, Universitas Maritim Ali Haji, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Universitas Pajajaran dan Universitas-universitas lainnya. Aspek-aspek disabilitas yang semestinya bisa dijembatani dengan perkembangan teknologi justru dijadikan alasan untuk menolak kaum penyandang disabilitas.

Untuk itu dengan ini kami Masyarakat Indonesia menuntut agar Perguruan Tinggi Negeri melakukan:

1.       Mencabut persyaratan berbagai jenis disabilitas dalam SNPMTN tahun 2014.

2.       Memberikan pelayanan beruba fasilitas khusus dan pendamping bagi penyandang disabilitas dalam mengikuti ujian

 3.       Memberikan kebijakan “affirmatif action” berupa quota khusus bagi Penyandang Disabilitas agar dapat mengenyam pendidikan dalam Perguruan Tinggi Negeri.



Hari ini: Slamet mengandalkanmu

Slamet Thohari membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "PERGURUAN TINGGI NEGERI DAN PANITIA SNMPTN (SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI): MENCABUT PERSYARATAN YANG DISKRIMINATIF BAGI PENYANDANG DISABILITAS DAN MEMBERIKAN KEBIJAKAN AFFIRMATIVE ACTION DALAM PERGURUAN TINGGI NEGERI". Bergabunglah dengan Slamet dan 701 pendukung lainnya hari ini.