Seorang terdakwa sudah tewas di tahanan. Bebaskan pejuang agraria, Dilik dan James Watt

0 telah menandatangani. Mari kita ke 7.500.


Foto di atas adalah Dilik (27 - kiri) Hermanus alm (35 - tengah) dan James Watt (47 - kanan). Ketiganya adalah orang warga masyarakat adat, asal Desa Penyang dan Desa Bangkal, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. 

Mereka ditangkap Kepolisian Daerah Kalteng dan dikenakan pasal tentang pencurian buah sawit. Bahkan James Watt dikenai pasal  berlapis karena dituduh menyuruh Dilik dan Hermanus mencuri buah sawit PT. Hamparan Masawit Bangun Persada (HMBP) yang lokasinya diyakini berada di lahan milik masyarakat. Ketiganya ditahan sejak awal Maret 2020.

Dalam keterangan resmi Polda Kalteng lewat laman Facebook menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus murni pencurian ataupun tindakan kriminalitas dan tidak ada kaitanya dengan konflik sengketa lahan antara masyarakat dan PT. HMBP.  Sebenarnya Hermanus, Dilik dan James Watt adalah tahanan titipan Kejaksaan Negri Kotawaringin Timur. Karena pandemi #covid19 mereka dititipkan ke Polres Kotim yang sudah melebihi kapasitas. 

Pada sidang pertama, kondisi kesehatan salah satu tersangka, Hermanus, memburuk hingga harus menggunakan kursi roda. Hermanus memang sudah sakit-sakitan sejak awal. Ia terpaksa tak bisa mendapatkan pengobatan medis selama ditahan dan kondisinya memburuk. Pada 26 April lalu, akhirnya Hermanus menghembuskan nafas terakhir di dalam bui.

Hermanus meninggalkan dua anak perempuan yang masih kecil-kecil dan seorang isteri. Sepeninggal Hermanus, isteri dan orang tuanya mengalami kesulitan, karena selama ini istrinya tak bekerja dan Hermanus lah yang menjadi tulang punggung keluarga. 

Kasus sengketa lahan antara warga dan PT HMBP ini sebenarnya sudah lama berlangsung, sejak tahun 2006. Warga desa sudah melakukan berbagai upaya untuk menuntut kembali tanah mereka dari PT HMBP. Tapi sampai sekarang malah kriminalisasi yang didapat. 

Kami dari Koalisi Keadilan untuk Pejuang Agraria Desa Penyang, sebuah koalisi yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil dan pembela HAM di Kalimantan Tengah dan nasional mendukung perjuangan masyarakat di Desa Penyang untuk mendapatkan hak-haknya. Kami melihat ada kejanggalan dalam kasus ini, mulai dari penangkapan hingga proses peradilan. Pasalnya ketiganya ditangkap dengan tuduhan pencurian buah kelapa sawit milik perusahaan, namun kebun sawit tempat kejadian perkara tersebut justru berada di luar Kawasan Hak Guna Usaha dan ijin perusahaan.  

PT. HMBP mengantongi izin lokasi seluas 8.200 hektar. Tapi mereka malah menanam di luar lokasi dimana izin HGU diberikan. Dari lahan seluas 1.865,8 hektar yang ditanami, 117 hektar merupakan lahan warga Desa Penyang, 22,8 hektar milik Dinas Perkebunan Kotim, 1.726 hektar kawasan hutan (HP dan HPK)

Data diatas menunjukkan bahwa PT HMBP beroperasi di lahan yang bukan miliknya dan jelas diluar kawasan yang izinnya ia kantongi. Ini adalah pelanggaran hukum!

Meski melanggar hukum, perusahaan tak kena sanksi. Masyarakat adat dan petani yang justru dikriminalisasi. Dilik, James Watt dan Hermanus (almarhum) yang menanggung akibat sengketa ini. Pada persidangan awal Mei 2020 lalu, Dilik dan James Watt dikenai pidana selama 1 tahun penjara dan denda 5 ribu rupiah.

Menurut kami, sengketa perdata seperti sengketa lahan ini seharusnya diselesaikan terlebih dahulu sehingga proses pidana bisa dilakukan.

Kami hanya meminta sedikit keadilan untuk almarhum Hermanus, juga untuk Dilik dan James Watt atas perjuangannya membela dan mencari keadilan atas hak tanah adatnya selama ini. Dukung petisi ini, mari kita sama-sama meminta agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri  Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah 

mau mempertimbangkan keadilan dan membebaskan Dilik dan James Watt dari tuntutan hukum.

salam,

Koalisi Keadilan untuk Pejuang Agraria Desa Penyang