miras merusak pendidikan, budaya dan ras manusia

miras merusak pendidikan, budaya dan ras manusia

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.
Dengan 100 tanda tangan, petisi ini akan lebih mungkin ditampilkan di halaman rekomendasi!
Taufik Santosa memulai petisi ini kepada pendidik dan

Taukah anda bahwa 58 persen tindak kekerasan, perkosaan, dan pembunuhan terjadi di bawah pengaruh miras? Taukah anda jika di beberapa Negara maju kecelakaan di bawah pengaruh miras (termasuk kecelakaan lalu lintas akibat pengaruh miras) adalah merupakan penyakit terbesar ke-4 setelah penyakit jantung koroner, kanker dan gangguan jiwa?

Hal ini memang benar terjadi dan bakhan data WHO tahun 1997 pernah mencatat bahwa di AS kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian sebanyak 25.000 jiwa setiap tahunnya diakibatkan oleh miras. Selain itu pembunuhan atau bunuh diri yang juga disebabkan pengaruh miras juga menduduki peringkat tinggi yaitu tercatat 15.000 kematian setiap tahunnya.

Selanjutnya, kematian 20.000 jiwa setiap tahunnya yang berkaitan dengan komplikasi medis, yaitu penyakit hati atau liver (cirrhosis hepatis), disebabkan oleh konsumsi miras. Kemudian 40 juta anak, suami, istri telah menanggung derita mental, karena salah satu atau lebih anggota keluarganya menderita ketergantungan miras. Setiap tahunnya terdapat 5 juta (50%) kasus penahanan yang dilakukan oleh polisi yang berkaitan dengan konsumsi miras.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

 

Cuplikan diatas merupakan contoh beberapa kasus kekerasan, perkosaan, dan pembunuhan yang terjadi akibat pengaruh miras di Indonesia. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk memerangi salah satu penyakit masyarakat yaitu miras. Namun demikian, taukah anda apa sebenarnya definisi miras?

Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang dimaksut dengan minuman keras adalah minuman yang memabukan bila diminum, misalnya beer, anggur, dan sebagainya (minuman yang mengandung alkohol dipakai sebagai minuman kesenangan).

Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 282/KEMENKES/SK/II/1998 mendefinisikan minuman keras adalah minuman yang mengandung etanol yang diproses dari bahan pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilisasi atau fermentasi tanpa destilasi, baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak, menambahkan bahan lain atau tidak, maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan etanol atau dengan cara pengenceran minuman mengandung etanol.

Zat Etanol atau Etil-Alkohol (C2H5-OH) merupakan komponen organik utama yang terkandung dalam berbagai minuman beralkohol. Berwujud cairan bening, tidak berwarna, berbau tajam yang khas, dan mudah menguap.

Minuman keras atau miras adalah bagian dari NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) yang sering menimbulkan permasalahan di masyarakat maupun gangguan kesehatan. Umumnya miras dibedakan menjadi tiga, yaitu golongan A yang berkadar alkohol 1-5% (contoh: Bir), golongan B yang berkadar alkohol 5-20% (contoh: Wine), dan  golongan C yang berkadar alkohol 20-45% (contoh: Arak, Whiskey atau Vodka). Miras yang melalui cara pengolahan tradisional dapat diperoleh dari hasil fermentasi atau peragian madu, gula, sari buah, atau umbi-umbian dengan menggunakan bantuan mikroorganisme tertentu.

BAHAYA MIRAS

Miras dapat menimbulkan Ganggguan Mental Organik (GMO) jika dikonsumsi secara berlebihan.Yang dimaksut GMO adalah gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku yang disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Beberapa perubahan perilaku seperti ingin berkelahi, tidak mampu menilai realitas, dan terganggu fungsi sosialnya sering terjadi apabila seseorang sudah pada taraf kecanduan.Selain itu perubahan fisiologis seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah, atau mata juling juga sering terjadi apabila berlebihan mengkonsumsi miras. Sedangkan perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen adalah mudah tersinggung, bicara ngawur, atau kehilangan konsentrasi.

 

Bahkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat M Cholil Nafis menegaskan jika legalitas miras tak bisa disandarkan pada kearifan lokal.

"Tidak bisa atas nama kearifan lokal atau sudah lama ada, maka dipertahankan," kata Cholil kepada wartawan hari ini, Senin 1 Maret 2021 sebagaimana dilaporkan ANTARA.

untuk itu, ayo selamatkan Indonesia dari miras,

TOLAK LEGALITAS MIRAS!!!!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.
Dengan 100 tanda tangan, petisi ini akan lebih mungkin ditampilkan di halaman rekomendasi!