Sediakan kebutuhan pangan dan kesehatan untuk mahasiswa jambi yang di rantau

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


UTARAKAN NASIB MAHASISWA PROVINSI JAMBI YANG DILARANG MUDIK IMBAS COVID-19 DI PERANTAUAN

02 april 2020 kami melihat himbaun yang pak gubernur keluarkan untuk para perantau untuk tidak mudik ke PROVINSI JAMBI.

Kami setuju dan apresiasi langkah yang bapak ambil hingga hari ini kami masih memilih bertahan di sarang wabah.

Tetapi banyak juga keluhan dari teman-teman perantau,khususnya teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Provinsi Jambi yang merantau di JABODETABEK,JAWA TENGAH,JAWA TIMUR,SOLO,YOGYAKARTA,JOMBANG Dll yang di mana hingga 5 April 2020 tercatat kurang lebih 450 mahasiswa/i yang masih di perantauan. Menyampaikan bahwanya himbaun untuk dilarang mudik harus disertai dengan kebijakan solutif dari pemerintah provinsi jambi maupun pemda terkait.

Karena tidak mudah hidup di sarang wabah berdiam diri berhari di tengah ketakutan yang melanda, bahkan untuk mencari makan pun sudah susah, belum lagi ke khawatiran orang tua yang ada di kampung halaman yang setiap hari video call untuk memastikan buah hatinya sehat dan sudah makan dengan layak.

Jikalau teman-teman ini mudik hilang ke khawatiran orang tua dan tidak ada permasalahan dengan konsumsi sehari-hari.
Pak gubernur yang terhomat mayoritas teman-teman mahasiswa dan perantau asal jambi merupakan pekerja baik mahasiswa maupun yang bukan.

Yang artinya teman-teman dirantau rata-rata membiayai kehidupan pribadinya disini dengan jeripayah sendiri dan dengan adanya pandemi ini hampir sebagian besar dari kami mengalami kebingungan bagaimana untuk bertahan.

Sudah ada beberapa kelompok yang pulang tanpa mengindahkan himbauan argumen mereka sederhana jika dilarang pulang.

“Jika kami tak pulang saat ini siapa yang akan menjamin kehidupan kami disini?
Setidaknya kalau kami pulang kami tak perlu bingung masalah pangan atau ada juga yang berkata jika kita bertahan mungkin kita bisa selamat melawan corona tapi bisa mati karena tak makan”.

Kami tak mengaggap mereka egois karena mereka berfikir dengan apa adanya relevan dengan kondisi yang dirasa.

Sekali lagi kami harapkan kepada pak gubernur bahwasannya jikalau ada himbaun untuk tidak pulang diiringi dengan langkah solutif dari pemprov, karena pada dasarnya teman-teman juga warga PROVINSI JAMBI masyarakat JAMBI yang mempunyai hak yang sama dengan masyarakat JAMBI yang lain yaitu punya Hak untuk diselamatkan.

Jikalau ada himbauan untuk tidak pulang kampung mari tawarkan solusi untuk teman-teman yang bertahan di sarang wabah dengan mengirim tenaga medis untuk warganya, memastikan kesehatan warganya, setelah dipastikan sehat sepenuhnya bisa dipulangkan dengan kendaraan oprasional yang dipunya oleh pemprov, sesampai nya di daerah lakukan pengecekan ulang untuk memastikan tidak pulang dalam keadaan terjangkit dengan begitu fasiltas yang ada lebih terasa manfaatnya bukan hanya digunakan untuk kegiatan yang bersifat ceromony belaka, atau solusi lain yang bisa ditawarkan pemprov dapat membantu menyediakan bahan pangan untuk teman-teman yang bertahan.

Semoga tulisan ini bisa membuat pak gubernur dan jajaran bisa melihat perantau ini dari perspektif yang lain bukan hanya melihat teman-teman perantau jika pulang kampung berpotensi membawa wabah.

Sekian keluh kesah yang kami dan teman-teman rasa semoga tulisan ini dapat sampai cepat ke pak GUBERNUR TERCINTA.

Salam Hormat

Aliansi Ketua Keluarga Pelajar Mahasiswa Jambi se-pulau Jawa