Yuk dorong Indonesia berperan aktif mengubah masa depan krisis iklim dunia! #SOSIklimDunia

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Tahukah anda, serangan virus Covid19 yang kita alami sekarang adalah peringatan awal alam kepada umat manusia yang terus menerus merusak lingkungan ? Peringatan ini akan terus terjadi kedepan sepanjang umat manusia terus merusak alam.


Tidak ada yang tahu kapan hari kiamat akan datang, namun secara ilmiah sudah bisa dipastikan bahwa planet bumi sedang menuju malapetaka besar: dunia yang semakin mendidih. Sejak para ahli mulai mencatat suhu udara di tahun 1960, 7 tahun terpanas dalam sejarah terjadi dalam 7 tahun terakhir. 


Sejak manusia memasuki era industrialisasi dan modernisasi di awal abad ke-19, emisi gas rumah kaca terus meningkat, dan suhu bumi terus memanas. Pada saat ini, suhu bumi telah naik 0,9 derajat Selsius dibanding tahun tahun 1820 (ketika industrialisasi mulai berkembang di Inggris dan kemudian mendunia). Kalau tidak ada perubahan cara hidup manusia, maka di paruhan kedua abad ke-21 suhu bumi akan naik menjadi 3 sampai 4 derajat Celcius. Bagi orang awam ini kelihatannya tidak banyak, tapi percayalah kenaikan suhu bumi 4 derajat selsius adalah marabahaya yang luar biasa dibanding kehidupan kita hari ini : persediaan pangan akan menurun, percepatan apa yang dinamakan “the sixth extinction” (pemusnahan spesies dan biodiversity dalam skala besar), penyebaran penyakit akan berlipat-ganda, intensitas bencana alam meningkat, air laut akan naik (banyak pulau yang akan tenggelam, termasuk negara-negara di Kepulauan Pasifik), banyak karang laut yang akan mati, stock air bersih akan menurun drastis, semakin banyak wilayah planet bumi yang tidak bisa lagi menjadi ruang hidup manusia(inhabitable), dan lain sebagainya. Ini semua bukan prediksi, tapi suatu kepastian. Umat manusia juga akan semakin dibebani oleh “climate war”, “climate conflict” dan “climate refugees” — yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan fenomena alam ini.


Ini berarti generasi muda yang sekarang ini baru lahir, sedang remaja, sedang kuliah atau mulai bekerja, ketika mereka memasuki usia senja di tahun 2050 nanti akan hidup dalam planet bumi yang sudah sakit secara permanen.


Untungnya, dunia internasional, melalui mekanisme PBB, sudah ada gambaran solusinya. Inti solusinya begini: semua negara dihitung jumlah emisinya, dan semua negara diharapkan secara ambisius mengurangi emisinya masing-masing sehingga secara total bisa mengurangi separuh dari emisi global di tahun 2020-an, kemudian berkurang separuh lagi di tahun 2030-an, dan kemudian menurun separuh lagi di tahun 2040-an. Bangsa-bangsa dunia sepakat dalam Perjanjian Paris di bulan Desember tahun 2015 bahwa mereka akan berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga suhu bumi hanya akan naik sekitar 1,5 derajat Selsius, bukan 4 derajat. Dalam skenario ini, bumi tetap akan semakin panas, tapi lebih moderat dan dapat menyelamatkan generasi mendatang dari bencana yang lebih buruk.


Masalahnya apa? Banyak bangsa dunia yang masih santai, menganggap remeh, belum bertindak, bahkan tidak peduli dan terus melakukan pembangunan yang beremisi tinggi.


Indonesia, sebagai penghasil emisi nomor 11 terbesar dunia, harus menjadi bagian dari solusi sejarah terhadap ancaman pemanasan global. Kita bukan saja punya kepentingan besar terhadap isyu pemanasan bumi, namun juga punya posisi yang penting sebagai negara yang memiliki hutan tropis yang besar, sebagai bangsa maritim dan sebagai ekonomi yang akan masuk 5 besar dunia dalam 1 generasi ke depan. Pada saat kita mencapai Indonesia Emas 2045 nanti, kejayaan yang dinanti-nantikan bangsa kita bisa terganggu oleh kondisi bumi panas yang penuh masalah.


Covid-19 jangan menjadi alasan bagi kita untuk memalingkan diri dari pekerjaan besar untuk menyelamatkan bumi. Kita harus menyadari dan meyakini bahwa bencana iklim akan menjadi ancaman terbesar bagi rakyat Indonesia. Karenanya, hutan harus kita pelihara dan tanam kembali; kebakaran hutan jangan sampai terjadi lagi; persediaan energi harus kita hijaukan, dan peran batubara sebagai sumber energi beremisi sangat tinggi harus dikurangi secara signifikan; pembangunan infrastruktur, industri, pertanian dan gedung harus rendah emisi; penggunaan kendaraan listrik (termasuk untuk transportasi publik) harus secara drastis ditingkatkan; gaya hidup dan konsumsi rakyat juga harus berubah.


Kami, rakyat Indonesia, pecinta lingkungan Indonesia, pelaku bisnis, pembayar pajak, generasi muda, para orangtua, pemangku kepentingan, memohon dengan sangat dan dengan segala kerendahan hati agar Pemerintah Indonesia melakukan hal-hal berikut :


1. Segera menetapkan, sesuai kesepakatan Perjanjian Paris 2015, target penurunan emisi yang ambisius (apa yang dinamakan NDC, singkatan “Nationally Determined Contributions”), yaitu minimal 50 % di tahun 2030, dan mencapai kondisi nol emisi atau “carbon neutral” di tahun 2050.


2. Segera secara serius menjalankan kebijakan nasional rendah emisi yang transformatif yang didukung oleh kebijakan yang terkoordinir dan terukur di berbagai sektor (kehutanan, energi, industri, pertanian, transportasi, infrastruktur, investasi, perkotaan, dll) dan semua kebijakan ini perlu dilakukan konsisten dan permanen.


3. Membuat program pembangunan Green Recovery pasca-COVID-19, dimana stimulus keuangan dapat diperbesar porsinya untuk membantu pengembangan inisiatif hijau pasca pandemi COVID-19, antara lain mengalokasikan pengeluaran stimulus untuk solusi berbasis alam (Nature Based Solutions), penghijauan hutan (afforestation), dan pengelolaan hutan (forest management).

4. Agar Indonesia memainkan peranan aktif dalam berbagai rangkaian diplomasi iklim tahun ini yang akan berpuncak di perundingan PBB COP-26 di Glasgow, Skotlandia pada bulan November 2021. Jangan sampai Indonesia menjadi peserta pasif apalagi berpangku tangan dalam agenda besar dan perjuangan historis umat manusia ini.


Petisi ini bukan kritik terhadap Pemerintah. Petisi ini adalah aspirasi masyarakat dan suara kepedulian terhadap masa depan bangsa Indonesia dan umat manusia. Kami memandang gerakan perubahan iklim sebagai aspek baru dari nasionalisme Indonesia di abad ke-21.


Dukunglah petisi ini. Bubuhkan tandatangan dan komentar anda.