HENTIKAN DOSA SAKRILEGI terhadap TUBUH KRISTUS

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Jangan izinkan tangan yang tidak tertahbis memegang Tubuh Kristus dalam Hosti Kudus karena itu merupakan dosa sakrilegi, penistaan dan pencemaran terhadap Tubuh Kristus.

Hentikanlah pembagian Komuni Kudus oleh orang-orang yang tidak tertahbis. Hanya orang-orang yang menerima tahbisan Imamat yang boleh memegang Tubuh Kristus.

Hentikanlah praktek menerima Komuni Kudus di tangan sambil berdiri. Umat awam tidak boleh memegang Hosti Kudus dengan tangan-tangan mereka yang tidak tertahbis.

Kembalilah kepada Gereja Katolik yang Sejati, Gereja Katolik Tradisional, sebelum Konsili Vatikan II. Gereja Tradisional yang menghormati Tuhan Yesus Kristus seutuhnya.

Berhentilah mencemarkan, menodai, dan menistakan Tubuh Kristus.

Ingatlah bagaimana Gereja Katolik bersikap pada saat terjadi wabah penyakit yang jauh lebih mematikan daripada Covid-19 yang dikenal dengan Black Death yang terjadi pada abad ke 14 di Eropa. Di tengah wabah penyakit yang sangat menular dan mematikan itu, para pastor Katolik datang langsung secara fisik mengunjungi kamar orang-orang yang sakit, membantu mereka secara material dan spiritual semua orang yang sakit dan orang-orang yang sedang sekarat, meskipun para pastor itu mengetahui bahwa kemungkinan besar penyakit menular itu dapat membunuh mereka, tetapi ribuan pastor itu tetap mempertaruhkan nyawa mereka untuk memberikan Sakramen-sakramen, harapan dan penghiburan bagi orang-orang yang sakit, menderita dan ketakutan.

Selama wabah penyakit mematikan melanda kota Milan pada tahun 1567, otoritas sipil telah melarang pertemuan dan prosesi keagamaan sebagai upaya mereka untuk mencegah penularan. St. Charles Borromeo menyalahkan mereka karena mereka menaruh semua kepercayaannya kepada manusia, tanpa memikirkan Tuhan sama sekali. St. Charles Borromeo sendiri kemudian melayani orang-orang sakit dan mendorong pastor-pastor lainnya untuk melakukan hal yang sama. Pada saat dunia melihat kematian dan kehancuran, St. Charles Borromeo melihat kesempatan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Terlebih lagi, St. Charles Borromeo menyemangati para pastor lainnya, dengan mengatakan kepada mereka bahwa pelayanan di saat wabah (pandemi) yang mematikan merupakan sebuah bentuk kemartiran. Dalam kata-katanya, ini adalah "sebuah waktu yang diinginkan - sekarang, ketika tanpa kekejaman dari pemerintah yang berkuasa, tanpa alat-alat penyiksaan, tanpa api, tanpa binatang buas, dan dengan tidak adanya siksaan kejam secara fisik yang biasanya paling menakutkan bagi kelemahan manusia, kita bisa memperoleh mahkota kemartiran."

Selama wabah yang melanda Marseille pada 1720, Mgr. de Belsunce mendedikasikan dirinya secara pribadi, bersama dengan sumber daya yang dimiliki Gereja, untuk membantu orang-orang yang sakit. Kata-katanya mencerminkan sikap St. Charles Borromeo : "Tuhan melarang saya meninggalkan orang-orang yang sudah menjadi anak-anak saya didalam iman. Saya harus memberikan perhatian saya dan hidup saya untuk mereka karena saya adalah Pastor dan bapa mereka.”

Bapa Suci Santo Yohanes Paulus II mengatakan : “Saya tidak mendukung Komuni di tangan dan saya tidak merekomendasikannya. Imam memiliki tanggung jawab primordial sebagai 'hamba Ekaristi Kudus dan semua Benda-benda Kudus', primordial karena lengkap. Menyentuh yang Kudus adalah hak istimewa dari orang yang sudah ditahbiskan "(Dominicae Cenae II)". Komuni di tangan diperkenalkan oleh hierarki modernis tanpa otorisasi yang sah dari Tahta Suci (Kardinal Suenens di Belanda, dll). Paulus VI dengan gigih menentang praktek pemberian dan penerimaan Komuni Kudus di tangan, tetapi pada akhirnya memutuskan untuk memberikan pengampunan hanya jika penggunaannya sudah berakar untuk menghindari ketidaktaatan yang meluas."

John Paul II: "I cannot be in favor of the Communion in the hand and I cannot recommend it. The priest has a primordial responsibility as a 'servant of the Holy Eucharist and of all the Holy Forms', primordial because it is complete. Touching the Holy Creations is a privilege of the ordained ones" (Dominicae Cenae II) "Communion in the hand was introduced by the modernist hierarchy without the authorization of the Holy See (Cardinal Suenens in Holland etc). Paul VI tenaciously opposed it but decided to grant a pardon only where the use was already rooted to avoid a widespread disobedience.”

Bertobatlah sebelum terlambat.

Kembalikanlah penghormatan kepada Ekaristi Suci.

Tolong jangan terus menerus mendukakan hati Tuhan Yesus Kristus yang Maha Kudus, yang senantiasa mengalirkan Darah Berharga-Nya untuk membasuhmu dari dosa-dosamu dan menyelamatkan jiwamu dari hukuman kekal di Neraka.