Tidak daful SBMPTN, sekolah di BLACKLIST? Kami menolak!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Kami adalah calon mahasiswa yang menjadi pejuang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan baru saja menerima hasil pada tanggal 13 Juni 2017 kemarin. Sebelum hasil diumumkan, kami juga mengikuti Ujian Mandiri (UM) beberapa PTN, lalu sekolah kedinasan. Karena beberapa dari kami memilih untuk punya cadangan.

Beberapa dari kami berbahagia karena diterima pilihan 1, alias jurusan dan PTN impian mereka.

Tetapi, beberapa dari kami tidak puas karena tidak diterima di pilihan 1. Puji Tuhan, ketika pengumuman UM dan sekolah kedinasan, beberapa dari kami yang tidak puas dengan hasil SBMPTN kami diterima.

Lalu guru Bimbingan Konseling kami mengumumkan bahwa kami wajib daftar ulang, karena apabila tidak, sekolah kami akan di blacklist.

Apa itu blacklist? Blacklist adalah pengurangan indeks penerimaan suatu sekolah. Apabila sekolah A di blacklist PTN B, maka siswa sekolah A tidak bisa masuk PTN B.

Kami terkejut, maka kami segera mencari kebenaran informasinya. Dan memang betul, headline itu sedang panas.

Berdasarkan yang dilansir dari beberapa sumber berita, diberlakukannya hal ini karena apabila peserta lulus SBMPTN, maka akan keluar Nomor Induk Registrasi Mahasiswa (NIRM) mereka di data milik RISTEKDIKTI. Lalu dikhawatirkan urusan administrasi akan repot karena menyangkut dana subsidi dari pemerintah.

Selain itu, tujuannya agar siswa tidak main-main saat mendaftar karena dianggap menyia-nyiakan kesempatan. Banyak peserta lain yang sangat ingin diterima, nilainya selisih sedikit, tapi harus gugur karena kuota.

Kami menolak.

Penolakan kami punya alasan. Yang paling utama, karena pengumuman ini terlalu mendadak, seakan memaksa kami untuk berpaku pada satu pilihan saja.

Selain itu, SBMPTN adalah sebuah tes masuk PTN yang membutuhkan uang pendaftaran, keringat, usaha dari diri sendiri. Menurut kami, tes SBMPTN sendiri adalah pilihan, berbeda dengan SNMPTN yang memang undangan. SBMPTN juga tidak memandang latar belakang tiap peserta. Kami sama rata di depan SBMPTN.

Akhirnya kami menerka, apakah blacklist itu dijadikan sebuah ancaman?

Menurut kami, tidak ada sisi positifnya mem-blacklist sekolah pada SBMPTN, karena tes yang kami kerjakan itu merupakan murni usaha sendiri tanpa 'bantuan' pihak manapun. Bimbel dan sekolah hanya membantu kami saat proses belajar, tidak ikut mencampuri hasil.

Ketika situasi berbalik, mungkin calon mahasiswa di tahun berikutnya tidak mau masuk PTN yang mem-blacklist sekolah mereka, karena takut memberi beban apabila mereka memilih masuk lewat jalur lain. Hal ini tentu akan merugikan PTN tersebut, bukan?

Hanya satu solusi dari kami.

Hilangkan keputusan untuk mem-blacklist sekolah apabila peserta tidak daftar ulang SBMPTN di PTN terkait.

Mereka yang tidak lolos, tidak seharusnya dimanja dengan rasa simpati, tetapi diberi semangat agar bisa masuk ke PTN impian mereka lewat jalur lain. Sesungguhnya kesalahan ada pada diri mereka sendiri, bukan kuota PTN, bukan mereka yang tidak daftar ulang, bukan mereka yang sekolahnya kena blacklist.

Untuk urusan administrasi, pada faktanya, kami pasti akan mengurusnya, sepanjang apapun langkahnya. Seharusnya, tiap PTN yang telah bertahun-tahun mengalami hal yang sama, sudah tidak masalah, bukan? Kenapa keputusan ini begitu tiba-tiba dan disetujui secara sepihak? Tidakkah kalian memikirkan kami?

Kami harap rektor, dekan, dan setiap elemen yang berada di PTN, serta panitia yang bertanggung jawab terhadap kebijakan ini dapat mempertimbangkan dengan lebih baik perihal adanya blacklist bagi peserta SBMPTN.

Karena efek dari kebijakan ini dapat mempengaruhi masa depan kami.

 

Salam, kami pejuang SBMPTN.

 

(Sumber gambar: infokampus.news)



Hari ini: Alya Isti mengandalkanmu

Alya Isti Safira membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Panitia SBMPTN: Tidak daful SBMPTN, sekolah di BLACKLIST? Kami menolak!". Bergabunglah dengan Alya Isti dan 62 pendukung lainnya hari ini.