Kemenangan

Pak Menteri, Mana Janji Manismu?

Petisi ini membuat perubahan dengan 44 pendukung!


Menpora Imam Nahrawi (kredit foto: sport.detik.com)

 

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Masih ingat dengan berita terbitnya Keputusan Menpora No. 0137 Tahun 2015 tentang pemberian sanksi administratif kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI)? Surat keputusan bertanggal 17 April 2015 tersebut menyatakan bahwa segala kegiatan olahraga yang diselenggarakan PSSI tidak diakui oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) selaku kementerian terkait.

Tapi tahukah, Saudara? Kelahiran surat keputusan tersebut ternyata berbuntut panjang, bahkan hingga hari ini. Menpora dianggap melakukan intervensi dan mencederai independensi PSSI sebagaimana telah diatur dalam Statuta FIFA. FIFA  pun menjatuhkan sanksi bagi Indonesia berupa pengucilan dari dunia internasional sampai waktu yang belum ditentukan. Artinya, klub dan tim nasional Indonesia dilarang bertanding dalam turnamen berskala internasional.

Di samping itu, sanksi administratif terhadap PSSI telah memunculkan permasalahan baru. Alih-alih berjanji melakukan reformasi terhadap tata kelola sepak bola Indonesia yang lebih baik, kondisi persepakbolaan kita malah memburuk. Kompetisi reguler terhenti, ratusan bahkan ribuan pemain menganggur (atau terpaksa beralih profesi), klub-klub terancam bangkrut karena tidak ada pemasukan dari sponsor dan penjualan tiket pertandingan rutin. Beruntung bagi klub-klub yang tergolong memiliki nama besar, sebab mereka selalu diikutsertakan dalam turnamen berhadiah miliaran seperti Piala Presiden, Piala Jenderal Soedirman, Piala Bhayangkara, dan yang teranyar Indonesia Super Championship. Tetapi bagaimana dengan klub-klub yang bermain di kasta bawah? Tentu Saudara sudah tahu jawabannya.

Pembentukan Tim Transisi oleh Kemenpora serta proses legal standing yang saat ini harus melalui Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) juga terkesan hanya memperkeruh keadaan. Sejauh manakah kinerja Tim Transisi? Apakah selalu memperhatikan pembinaan usia muda? Bagaimana nasib pemain muda kita? Tentu rakyat tidak buta.

Adapun yang perlu kita kritisi bersama, betapa tingginya urgensi mengenai isu ini. Sebab dari rumor yang berhembus, sanksi dari FIFA dapat diperpanjang , timnas Indonesia terancam tidak tampil pada gelaran Piala AFF 2016, serta Asian Games 2018 yang digelar di Tanah Air juga berpeluang tanpa cabang sepak bola apabila Kemenpora, BOPI, serta Tim Transisi tetap bersikukuh melakukan intervensi terhadap kewenangan PSSI hingga berlangsungnya Kongres FIFA di Meksiko pada pertengahan Mei mendatang. Artinya, masih ada waktu sekitar 3 minggu bagi kita untuk memperjuangkan isu ini. Menpora pernah berkata, FIFA harus menghormati hukum yang berlaku di Indonesia. Akan tetapi apalah artinya jika Indonesia sendiri justru melanggar hukum internasional (Statuta FIFA)?

Saudara, kita patut menghargai upaya Kemenpora yang ingin membuat sepak bola Indonesia sejajar dengan negara-negara kuat di dunia. Namun dengan segala hormat, alangkah baiknya jika Pak Menteri bersikap lebih bijaksana dan menghormati hukum internasional, yakni Statuta FIFA. Kita tidak menutup mata bahwa banyak pejabat FIFA yang tersangkut kasus korupsi. Tetapi perlu dicatat, Interpol dan pihak yang berwenang tidak serta merta membekukan kegiatan FIFA. Jika memang ada indikasi pelanggaran, adili pengurusnya, bukan membekukan organisasinya.

Tanpa mengabaikan fakta bahwa Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattaliti juga sedang tersangkut kasus korupsi, marilah kita #MenagihJanji Pak Menpora dkk. yang (katanya) mampu memperbaiki tata kelola sepak bola nasional. Jika merasa tidak mampu, lebih baik hentikan saja intervensinya. Rakyat Indonesia siap #MenggugatMenpora agar beliau segera mencabut Keputusan Menpora No. 0137 Tahun 2015 demi terselamatkannya masa depan sepak bola Indonesia. Salam Garuda!



Hari ini: Kevin mengandalkanmu

Kevin Agusto membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Pak Menteri, Mana Janji Manismu?". Bergabunglah dengan Kevin dan 43 pendukung lainnya hari ini.