Tutup Semua Fintech Yang Meresahkan Masyarakat

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Teknologi digital menghadirkan gelombang disruption ke beberapa lapisan, tak terkecuali soal pinjam-meminjam. Produk-produk keuangan seperti pinjaman yang dulu menjadi garapan khusus institusi finansial seperti bank dan multifinance lainnya, kini menjadi mudah ditemukan seiring dengan maraknya perkembangan teknologi finansial atau fintech. Sejak kemunculannya pada tahun 2016 sampai dengan saat ini, sektor fintech masih menjadi pilihan masyarakat untuk melalukan kegiatan pinjam-meminjam. Apalagi, dengan kemudahan yang ditawarkan oleh pihak fintech tersebut yang menyebabkan sektor fintech ini bergerak sangat dinamis.

Dari sekian banyaknya jenis fintech yang muncul, P2P Lending jadi yang paling disoroti belakangan ini. Bisnis cash loan sendiri menjadi yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat yang akhirnya ramai praktik sejenis dari fintech ilegal alias tidak berizin yang kerap meresahkan masyarakat. Berdasarkan data OJK, sebanyak 144 perusahaan fintech P2P Lending tak berizin hingga April 2019. Angka ini menambah panjang daftar fintech ilegal menjadi 947 entitas yang berhasil dikumpulkan datanya oleh OJK sejak 2017 lalu.

Fintech-fintech ilegal ini kemudian beroperasi seperti fintech yang terdaftar pada umumnya. Menawarkan pinjaman dengan bunga rendah dan waktu cair yang sangat cepat melalui aplikasi yang hanya dengan menjaminkan foto KTP. Tapi setelah dana cair, penerima pinjaman mendapat dana yang nominalnya jauh dari dana yang diajukan diawal dan harus membayar kembali dengan jumlah yang nominalnya bahkan lebih tinggi dari dana pengajuan. Dan ketika peminjam membayar lewat dari jatuh tempo maka nominal yang harsu dikembalikan jauh lebih besar karena disertai dengan bunga/denda per harinya.

Bunga dari fintech illegal ini bervariasi mulai dari 12.000/hari sampai dengan 100.000/hari. Ketika peminjam telat membayar tagihan para debt collector mereka tidak segan-segan menghina, mengintimidasi, memfitnah mengambil semua data-data di HP peminjam dan menyebarkan berita bohong bahkan tidak sedikit debt collector yang melalukan pelecehan seksual terhadap peminjam.

Gara-gara fintech ilegal ini banyak masyarakat yang awalnya berharap mendapat pertolongan malah berakhir dengan kehilangan perkerjaan, keluarga, teman, dan tidak sedikit yang memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya seperti kasus sopir taksi yang ditemukan gantung diri dikamar kos-kosannya yang terletak di Jakarta Selatan dengan meninggalkan sebuah surat yang berisi permohonan kepada OJK dan pihak berwajib untuk memberantas pinjaman online yang telah membuat jebakan setan. (berita dikutip dari: kompas.com)

Petisi ini dibuat dengan tujuan untuk membantu orang-orang yang datanya telah tersebar tanpa izin, dihina, diintimidasi, dilecehkan oleh perbuatan perusahaan fintech ilegal. FINTECH YANG MERESAHKAN MASYARAKAT HARUS DITUTUP! Dan OJK memperketat peraturan kepada fintech-fintech legal karena tidak sedikit  fintech yang OJK berikan izin juga memperlakukan hal yang sama seperti fintech ilegal.

Ayo kawan, mari bersama-sama kita bantu para korban kekejaman fintech dengan menandatangani dan membagikan petisi ini. Terima kasih

Salam sahabat

Eka Permata Yulfiani