Sosial Media Sebagai Penyebar Nasionalisme

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Apa itu Hoaks?

Hoaks adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang dipelintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis). Secara bahasa, hoaks adalah lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan memperdaya, dan memperdayakan. Istilah lainnya adalah Berita Buatan (Fabricated News) atau Berita Palsu (Fake News). Semua berita hoaks tidak berdasarkan kenyataan atau kebenaran dan ditujukan untuk maksud tertentu.

Ciri-Ciri Hoaks Menurut Dewan Pers:

  • Mengakibatkan kecemasan, kebencian, dan permusuhan
    Sumber berita tidak jelas.
  • Hoax di media sosial biasanya pemberitaan media yang tidak terverifikasi, tidak berimbang, dan cenderung menyudutkan pihak tertentu.
  • Bermuatan Fanatisme atas nama ideologi, judul, dan pengantarnya provokatif, memberikan penghukuman, serta menyembunyikan fakta dan data.

Sebab – Akibat dari Hoaks:

Sebab: Menurut Septiaji Nugroho, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, masyarakat pengguna internet di Indonesia cenderung suka menyebarkan informasi ke orang lain tanpa lebih dulu memeriksa kebenarannya.

Akibat:

  • Merugikan suatu pihak
  • Tersebarnya fitnah
  • Hilangnya kepercayaan atas satu pihak dengan yang lain

Peraturan Undang-Undang:

Pedoman Pemberitaan Media Siber No. 3 mengenai Isi Buatan Pengguna. Tertulis bahwa;

c. Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna memberi persetujuan tertulis bahwa Isi Buatan Pengguna yang dipublikasikan:

     1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis, dan cabul;

     2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan;

     3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.

Tips Membedakan Hoaks dan Berita Asli:

  • Pastikan berita yang kamu baca tidak memiliki kalimat-kalimat yang janggal, seolah persuasif dan memaksa seperti: "Sebarkanlah!", "Viralkanlah!", dan sejenisnya. Artikel penuh huruf besar dan tanda seru pun disinyalir mengandung informasi hoax. Seringkali juga, artikel hoax biasanya lebih merupakan opini dari seseorang, bukan fakta.
  • Kamu dapat memastikan sumber dari foto yang diunggah di artikel berita terkait. Jadi, kamu bisa mengecek kembali apakah foto tersebut asli atau tidak. Caranya cukup mudah, kamu hanya perlu memanfaatkan tool milik Google, yaitu Google Images.

Menolak Hoaks untuk Meningkatkan Nasionalisme:

Hoaks tidak hanya melanggar UUD dan peraturan jurnalisme, namun juga bisa menyebabkan pertentangan antara 2 kubu yang berlawanan. Hoaks bisa dibuat dengan mudah, oleh karena itu media bisa memanfaatkannya sebagai alat penyebar aib yang dibuat-buat. Itu sebabnya, akibatnya bisa sangat fatal. Masyarakat Indonesia bisa terpecah-belah karena adanya hoaks sehingga nasionalisme sudah tidak timbul di hati masyarakat. Itu merupakan hal yang tidak baik untuk masa depan Indonesia. Seharusnya masyarakat lebih memperkuat kesatuan dan rasa nasionalisme agar Indonesia menjadi lebih maju. Tidak mudah percaya hoaks adalah salah satu cara yang paling berguna untuk meningkatkan nasionalisme. Oleh karena itu, mari kita selalu memilah-milih berita yang asli dan terjamin benar untuk menciptakan dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia! Kendalikan ibu jari demi persatuan ibu pertiwi!