Petition Closed

Awal tahun ini, saya tergerak saat melihat foto Malala di Majalah Tempo edisi baru 2013. Anak perempuan Pakistan pemberani yang kepalanya ditembak militan bersenjata Pakistan, Oktober 2012. Agar spirit perjuangan pendidikannya menginspirasi dunia, saya dan kolega saya, ingin mengajak wakil-wakil rakyat MPR/DPR RI untuk menominasikan Malala sebagai penerima Nobel Perdamaian 2013.

Deadline-nya 1 Februari 2013. Sebelum batas akhir itu tiba, saya ajak anda untuk mendukung nominasi Malala sebagai penerima Nobel Perdamaian 2013. Nobel ini dapat menyebar pesan inspiratif ke seluruh dunia: bahwa setiap anak layak atas pendidikan, dan siapa saja, di mana saja, bisa memperjuangkannya. 

Saat ditembak, Malala dan dua temannya (yang juga ditembak) sedang dalam perjalanan bis sekolah menuju pulang. Dua butir peluru mengenai kepala dan lehernya, nyaris merenggut nyawa! Ketekunannya luar biasa dalam menyuarakan hak anak perempuan atas pendidikan yang dilarang kelompok bersenjata. Setelah dirawat beberapa bulan, ia kembali berjalan, menulis, dan membaca. 

Petisi #NobelPrize4Malala ini merupakan kampanye bersama anggota parlemen dari sejumlah negara. Sebagai anggota parlemen, kami memiliki kesempatan untuk bisa menominasikan pemenang Nobel Perdamaian. Kami juga ingin menunjukkan dukungan masyarakat Indonesia--yang mencintai pentingnya pendidikan--kepada Malala dan perjuangannya demi kemajuan pendidikan kaum perempuan dan dunia. 

Melalui petisi ini, saya bersama seorang kolega terhormat, Wakil Ketua MPR-RI Hadjriyanto Tohari, menggalang dukungan dari Anda ikut mengajak wakil-wakil rakyat lainnya untuk menominasikan Malala sebagai penerima Nobel Peace Prize 2013.

Ayo dukung Malala dan perjuangannya!

Jakarta, 22 January 2013

Nominator:

Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Ketua MPR RI.

Hadjriyanto Tohari, Wakil Ketua MPR RI.

Letter to
Nobel Foundation Nobel Prize Committee
Nobel Foundation, Nobel Prize Committee

I have just signed a petition to nominate Malala for the Nobel Prize.

On October 9, 2012, 15-year old Malala Yusufzai was shot in the head by a Taliban gunman in response to her campaign against the destruction of girls schools in Pakistan. In the face of terror, Malala risked her life to speak out for the rights of girls everywhere. Malala's bravery has sparked a global movement and we believe the Nobel Foundation should give her the Nobel Peace Prize.

A Nobel Peace Prize for Malala will not just honour her courage and resolve, but also send a clear message to the Taliban that the world is watching and will support those who stand up for gender equality and universal human rights that includes the right of education for girls.

While the first 'Nobel Prize for Malala' petition was started in Canada, hundreds of thousands of people from around the world have now signed, including Indonesia. Now people are setting up this same petition in their own country asking for their political leaders to come together to nominate Malala for the Nobel Prize.

Nominator :
- Lukman Hakim Saifuddin, MP, Vice Chair, People’s Consultative Assembly (MPR), Indonesia.
- Hadjriyanto Tohari, MP, Vice Chair, People’s Consultative Assembly (MPR), Indonesia.