Gerakan Kader Dukung Asep Sholahuddin Jadi Ketum PB HMI

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


 DASAR PEMIKIRAN

Kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947 berpijak pada landasan spiritual keagamaan yakni agama Islam. HMI lahir dan menjadi medium untuk menegakkan spirit Keislaman di tengah-tengah kondisi keberagamaan yang minus penghayatan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Perasaan minder, tidak percaya diri dan terkikisnya kebanggaan sebagai muslim –utamanya di kalangan mahasiswa, dimana organisasi ini menyasar— masih menjadi problema tersendiri.

Salah satu yang diperjuangkan organisasi mahasiswa Islam tertua ini waktu itu, yaitu: pertama-tama, membangun dan meneguhkan pemahaman dan penghayatan agama Islam. Fase awal ini juga dikenal –bila kita membaca sejarah HMI— sebagai ‘fase konsolidasi spiritual’. Mengapa fase ini penting? Jawabannya adalah karena pada saat itu, praktik-praktik keagamaan yang kosong dari kedalaman pemahaman dan penghayatan sehingga hanya akan melahirkan persoalan keumatan yang sangat serius. Setidakya persoalan itu tergambarkan melalui fenomena ‘kejumudan’ dan ‘kemandegan’ yang melanda sebagian besar umat Islam Indonesia. Mereka beragama. Tetapi keberagamaan mereka seolah berhenti di tataran ritual ibadah belaka. Ada keengganan –atau mungkin juga kesulitan— menerjemahkan spirit atau cita-cita keagamaan ke dalam sesuatu yang memiliki nilai guna (fungsional) bagi dirinya secara khusus atau kepada masyarakat secara umum.

Itu sebabnya, dalam kondisi seperti itu  melahirkan –meminjam bahasa keren kekinian— ‘kegalauan’ dan ‘kejumudan’ dalam gerak sejarah peradaban Islam. Itu sebabnya, tujuan HMI pertama-tama adalah memperjuangkan Islam dan Nasionalisme. HMI menegaskan hubungan keindonesiaan dan keislaman sebagai dua hal yang saling berkait satu sama lain, yaitu: (1) Untuk membela negara Republik Indonesia dan menaikkan harkat Indonesia; dan (2) Untuk menjaga dan memajukan agama Islam. Sampai di sini, kian terang terlihat dan matang arah perjuangan HMI, yaitu untuk memajukan nilai-nilai keislaman dalam konteks berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam perkembangannya, tujuan HMI bertransformasi menjadi sebuah tujuan yang visioner baik yang menyangkut individual maupun komunal. Dalam hal ini, tujuan HMI dirumuskan: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah SWT.”

Pertama, kualitas insan akademis mencerminkan karakter ideal insan yang memiliki kecintaan dan bersedia bergelut dengan sabar dengan ilmu pengetahuan. Cinta ilmu pengetahuan dapat diwujudkan dengan kesadaran untuk rajin dan sungguh-sungguh belajar, mengoptimalkan daya nalarnya, bersikap rasional, suka bertukar pikiran dengan berani dan bersikap kritis. Sebaliknya seorang kader yang tidak memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan bisa disangsikan pengamalannya atas salah satu prinsip penting di dalam tujuan HMI: terbinanya insan akademis.

Kedua, kualitas insan pencipta mencerminkan sebuah gairah untuk selalu memikirkan kebaruan, sebuah daya untuk mengembangkan kreatifitas. Insan pencipta ditandai oleh keadaan yang selalu bergairah dengan gagasan-gagasannya. Ia selalu memiliki kebaruan ide-ide dalam dirinya. Kata yang persis untuk menggambarkan insan yang pengabdi ini adalah ‘kreatif’. Dengan pernyataan ini, apabila ada kader yang malas mengembangkan daya nalarnya, letih untuk mengembangkan ide-idenya dan tak memiliki keinginan untuk melahirkan kemungkinan-kemungkinan melalui pengetahuannya, berarti ia telah melewatkan satu semangat yang prinsip di dalam HMI: kualitas insan pencipta.

Ketiga, kualitas insan pengabdi. Kualitas ini seolah menjawab pertanyaan penting dari seorang yang bergelut dengan ilmu pengetahuan: apa fungsi dari keterpelajaran seseorang? Apa artinya kamu belajar sungguh-sungguh ilmu pengetahuan? Atau apa fungsi dari ilmu pengetahuan itu sendiri? Jawabannya adalah untuk sebuah pengabdian. Kader-kader HMI menempa diri dengan bergelut dalam terang ilmu pengetahuan dan memberdayakan pikiran tidak lain untuk sebuah tugas besar pengabdian. Fungsi ilmu pengetahuan adalah untuk emansipasi manusia. Seorang terpelajar tidak boleh terisolasi dari masyarakatnya. Kepandaian mereka tidak boleh untuk kepentingan pribadinya melainkan untuk menjawab tuntutan masyarakatnya.

Ketiga kualitas ideal –kualitas insan akademis, pencipta dan pengabdi— yang dimiliki oleh insan (manusia) di atas tidaklah cukup melainkan harus ditopang dan diberi jiwa oleh semangat Keislaman yang kuat. Semangat religiusitas itu menjadi fondasi moral bagi manusia untuk bertindak. Semangat religiusitas itu menjadi pengarah dan pembimbing bagi sikap dan tindakan mereka. Albert Enstein mengatakan: “ilmu tanpa agama itu buta dan agama tanpa ilmu itu lumpuh.”

Dimensi spiritualitas di HMI ini juga mengafirmasi bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius. Kebudayaan bangsa Indonesia adalah sebuah kebudayaan yang tidak sepi dari dimensi-dimensi spiritualitas keagamaan. Bagi umat Islam, terutama, meyakini bahwa Islam mengajarkan seperangkat cara untuk menjalani kehidupan.

Kemudian, jika ketiga kualitas ideal tersebut sudah tertanam di dalam jiwa setiap insan HMI –umumnya masyarakat Indonesia— maka sudah dapat dipastikan bahwa tatanan masyarakat adil makmur akan terwujud nyata dalam kehidupan kita. Tatanan masyarakat ideal inilah yang oleh Nurcholish Madjid dinamai dengan sebutan ‘Masyarakat Madani’, yaitu masyarakat yang dalam kesehariannya saling menghormati hak dan kewajibannya masing-masing serta tunduk dan patuh kepada seperangkat hukum yang disepakati sebagai  aturan hidup bersama.

* * *

Di era ini, dalam suasana dan tantangan yang berbeda, HMI dituntut peka membaca persoalan, apabila organisasi mahasiswa Islam tertua ini tidak ingin tenggelam dan kehilangan arah dan peranannya. Salah satu tantangan di era ini adalah persaingan global. Apa yang harus diambil oleh HMI sebagai langkah strategis demi menghadapi era persaingan global ini adalah tak lain menyiapkan kepemimpinan kaum muda yang mampu bersaing di arena global ini. 

Sebenarnya kaderisasi –yang sudah dipraktikkan sejak lama di HMI— adalah suatu pengejawantahan dari ikhtiar organisasi untuk menyiapkan kepemimpinan kaum muda. Program kaderisasi yang berlangsung di HMI telah melahirkan banyak kader-kader dan memang idealnya kaderisasi itu harus terus-menerus produktif melahirkan kader-kader muda yang mumpuni dalam berbagai aspek. Tetapi gejala kemadegan pada sebatas rutinitas dan kewajiban formal kaderisasi, juga merupakan suatu hal yang tidak boleh dipungkiri. Ini adalah problem dan tantangan yang mesti dicarikan jalan keluarnya.

Problem ini semakin mengemuka: kaderisasi kian dipandang kehilangan kemampuannya dalam membaca kebutuhan kader-kader baru. Semakin nampak bahwa program-program pelatihan tersebut hanya sebatas tuntutan kewajiban. Padahal seharusnya, apabila terobosan-terobosan yang lebih efektif ditemukan dan mampu membaca konteks tantangan hari ini, kaderisasi harus menjadi lahan subur bagi lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas.

Kita semua harus memiliki komitmen yang kuat untuk bersungguh-sungguh menjadikan kaderisasi sebagai medium lahirnya kepemimpinan muda yang nantinya dapat disalurkan keberbagai pos-pos strategis dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

* * *

Keberadaan HMI yang masih eksis hingga saat ini membuktikan bahwa organisasi ini masih bertahan dan belum bubar. Organisasi ini belum menyerah oleh berbagai penilaian negatif. HMI pernah memiliki masa yang gemilang. HMI melahirkan tokoh-tokoh penting, cendekiawan-cendekiawan muslim, yang berkontribusi besar bagi keislaman dan keindonesiaan. Itu setidaknya yang menjadi alasan mengapa HMI harus dipertahankan.

HMI masih bergelut dengan wacana keilmuan. Tentu spirit yang dibangun haruslah lebih kontekstual. Setiap masa ada tantangan yang berbeda-beda. Itulah yang perlu diidentifikasi oleh kader-kader HMI. Sehingga organisasi ini bisa lebih peka merespon tantangan-tantangan yang bersifat kekinian.

Kritik atas HMI tentu saja terus diterima sebagai bahan untuk melakukan koreksi. Tetapi kritik yang menempatkan HMI kini melulu dalam satu perbandingan dengan HMI di masa lalu tak selalu relevan. Tantangan hari ini jauh lebih kompleks dari apa yang bisa dihadapi oleh masa lalu. Bukan untuk mendiskreditkan masa lalu melainkan untuk menumbuhkan optimisme masa kini dan masa depan agar tidak selalu dibayang-bayangi ketakutan atau kebanggaan atas capaian masa lalu.

Jadi pada dasarnya, yang harus diwujudkan oleh kader-kader HMI saat adalah kegigihan diri untuk terus berjuang untuk mengembalikan kejayaan HMI sebagai bagian dari gerak sejarah peradaban Islam. Diskusi-diskusi di HMI haruslah diorientasikan lebih kuat untuk menjadi jembatan kesenjangan antara agama dan capaian iptek. Kaderisasi –yang merupakan investasi kemajuan sumber daya manusia— haruslah mampu merespon kebutuhan-kebutuhan dasar bagi saat ini dan memberikan kontribusi positif bagi generasi baru di masa depan.

VISI;

Melahirkan kembali (Renaissance) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai Poros Pemikiran dan Gerakan Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemodernan yang Moderat.

MISI;

Menjadikan kembali Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai Poros Utama Pemikiran dan Gerakan Mahasiswa Islam yang Moderat serta mampu menjadi Problem Solver dalam menjawab tantangan zaman;

Meningkatkan tradisi dan budaya intelektual Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melalui Gerakan Budaya Literasi Nasional;

Mewujudkan karakter jiwa kepemimpinan kader Himpunan Mahasiswa Islam yang akademis, intelektual dan profesional;

Membangun tata kelola Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) dengan baik dan profesional, sehingga dapat menjadi sebuah institusi yang solid, bertanggung jawab, bersih dan transfaran serta dapat dirasakan keberadaannya bagi segenap keluarga besar himpunan di semua tingkatan;



Hari ini: Dani mengandalkanmu

Dani Ramdhany membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Muhammad Nur Fikri: Gerakan Kader Dukung Asep Sholahuddin Jadi Ketum PB HMI". Bergabunglah dengan Dani dan 194 pendukung lainnya hari ini.