Perpanjang hak cuti hamil menjadi 6 bulan bagi pekerja perempuan di seluruh Indonesia!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 7.500.


Dengan ini saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk:

  1. Mendorong pemerintah Indonesia mengubah peraturan terkait cuti hamil yang diatur dalam Pasal 82 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dengan bunyi sebagai berikut:"Pekerja perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1.5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1.5 (satu setengah) bulan sudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan"
  2. Mengajukan permohonan agar masa cuti hamil tersebut diperpanjang menjadi 6 bulan

Sebagai seorang perempuan yang percaya bahwa menjadi wanita karir dan menjadi Ibu bukanlah sesuatu yang harus dipilih salah satu, pada saat hamil saya berusaha memaksimalkan apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi pekerja yang profesional sambil memberikan prenatal care yang terbaik untuk saya dan anak saya.

Saya beruntung memiliki pimpinan yang fleksibel terhadap peraturan cuti hamil tersebut. Seperti ibu-ibu hamil kantoran lainnya yang saya kenal, kami menegosiasikan peraturan tersebut ke pimpinan masing-masing agar mendapatkan waktu yang lebih lama untuk bersama buah hati kami. Ada yang negosiasi baru memulai cutinya 1 (satu) bulan seminggu sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir), 2 (dua) minggu sebelum HPL, 1 (satu) minggu sebelum HPL, 1 (satu) hari sebelum HPL, bahkan tak jarang menunggu "gelombang cinta" itu hadir di kantor agar bisa merasakan "full" 3 (tiga) bulan bersama sang buah hati. (P.S. Belum lagi ditambah dengan ibu-ibu hamil yang nekat mengambil lembur agar ketika cuti hamil tidak menyusahkan teman dan pimpinan, serta agar tidak diganggu oleh orang-orang yang tidak profesional selama cuti hamil, seperti ditelfon / dikunjungi terkait pekerjaan).

Ini bukan hanya masalah lamanya quality time dengan #SiCabi, namun juga proses pemulihan tubuh seorang perempuan yang baru saja melahirkan, ditambah dengan tanggung jawab baru sebagai seorang ibu serta pentingnya direct breastfeeding bagi ibu dan bayi.

Tendensi untuk memulai cuti hamil yang sangat berdekatan dengan HPL, akibat singkatnya hak cuti hamil yang diberikan, tentunya turut meningkatkan risiko kehamilan kepada ibu dan janin, bahkan risiko ini dapat berdampak secara panjang bagi keluarga secara keseluruhan.

Seperti contoh, bagaimana bila risiko itu berdampak terhadap kesehatan bayi yang dikandung dan/atau ibu yang mengandung sehingga ibu harus meninggalkan karirnya? Bagaimana apabila ibu meninggalkan pekerjaannya, ayahnya tidak cukup untuk menafkahi keluarga? Bagaimana bila ada ibu-ibu lain yang seperti saya, melahirkan anak pertama yang tidak bisa dilihat pada saat hari kelahirannya dan harus mendapati anaknya tinggal di rumah sakit (read: Neonatal Intensive Care Unit / NICU, Perinatal Unit, dan Pediatric Intensive Care Unit / PICU) selama 128 (seratus dua puluh delapan) hari, harus meninggalkan karir yang sudah diperjuangkan untuk mencapai harapan-harapan yang lebih besar? Sudah mengorbankan karir dan kehilangan salah satu sumber nafkah keluarga, harus pula menghadapi infrastruktur kesehatan di Indonesia, untuk anak-anak yang lahir dengan 'keadaan berbeda', yang minim kualitas dan kuantitas namun tetap sangat mahal untuk kalangan luas.

Sayangnya banyak pekerja perempuan yang harus berhenti sejenak (atau bahkan selama waktu yang tidak jelas kapan) karena kurangnya support terhadap kodrat perempuan itu sendiri.

Tidak semua perempuan serta merta berhasil menjadi pengusaha setelah meninggalkan pekerjaannya. Tidak semua perempuan diberikan fleksibilitas jam kerja maupun lokasi kerja (contoh: bekerja dari rumah), dan tidak semua perusahaan dan lokasi usaha memiliki fleksibilitas untuk memberikannya karena keterbatasan infrastruktur teknologi perusahaan maupun daerahnya, dan sebagainya.

Hal yang saya sebutkan di atas memang terdengar seperti sepenggal pengalaman pribadi.

Namun nyatanya ada pula literatur-literatur yang menyatakan besarnya pengaruh panjang cuti hamil pada level makro, seperti tingkat partisipasi wanita dalam perekonomian yang berpengaruh kepada Gross Domestic Product (GDP) dan produktivitas nasional dikarenakan angka partisipasi yang lebih besar. Sumber:

  • Geyer, Johannes; Haan, Peter, Wrohlich, Kathania (1 January 2014). "The Effects of Family Policy on Mothers' Labor Supply: Combining Evidence from a Structural Model and a Natural Experiment"
  • Kluve, J; Tamm, M. (2013). "Parental Leave Regulations, Mothers' Labor Force Attachment and Fathers' Childcare Involvement: Evidence from a Natural Experiment". Journal of Population Economics. 26 (3): 983 - 1,005
  • Ronsen, Marif; Kitterod, Ragni Hege (July 2014). "Gender-Equalizing Family Policies and Mothers' Entry into Paid Work: Recent Evidence from Norway". Feminist Economics. 21: 59-89

Panjangnya cuti hamil juga berkaitan dengan kualitas prenatal dan post-natal care, termasuk berkurangnya angka kematian bayi. Sumber: Blades, Joan; Rowe-Finkkeiner, Kristin (2006).The Motherhood Manifesto: What America's Moms Want and What to Do about It. New York: Nation.

Data dari 16 (enam belas) negara Eropa periode 1969 - 1994 mengemukakan pengaruh lamanya cuti hamil terhadap angka kematian bayi:

  • Cuti hamil 10 minggu: 1 - 2% penurunan
  • Cuti hamil 20 minggu: 2-4% penurunan
  • Cuti hamil 30 minggu: 7-9% penurunan

Dalam menulis ini, sebisanya saya kumpulkan dan bandingkan panjang cuti hamil negara-negara dari berbagai benua (Sumber: Addati, L., Cassirer, N., & Gilchrist, K. (2014, May 13). Maternity and paternity at work: Law and practice across the world. International Labor Organization.978-92-2-128630-1[ISBN]. p. 133-139) dan dampaknya terhadap GDP (Sumber: World Bank, 2017), partisipasi perempuan dalam angkatan kerja (Sumber: International Labour Organization, ILOSTAT database. Data retrieved in April 2019), tingkat kematian Ibu (Sumber: WHO, UNICEF, UNFPA, World Bank Group, and The United Nations Population Division. Trends in Maternal Mortality: 1990 to 2015. Geneva, World Health Organization, 2015), dan tingkat kematian bayi (Estimates developed by the UN Inter-agency Group for Child Mortality Estimation (UNICEF, WHO, World Bank, UN DESA Population Division) at childmortality.org) .

Negara-negara yang saya pilih di sini sebagai perbandingan merupakan negara-negara yang turut memberikan cuti kelahiran anak terhadap sang bapak kurang dari < 1 minggu dengan harapan agar lebih relevan dengan Indonesia yang memberikan cuti kelahiran anak kepada bapak pekerja selama 2 (dua) hari, yang diatur dalam Pasal 93 Ayat 4 huruf (e) UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Africa

Di sini saya mencantumkan Afrika Selatan, Algeria, Djibouti, Mali, dan Democratic Republic of The Congo sebagai perbandingan. Seluruhnya memberikan hak cuti hamil bagi perempuan pekerja sepanjang 14 minggu, kecuali Afrika Selatan yaitu 17 minggu.

Afrika Selatan sebagai negara pemberi cuti hamil terpanjang untuk ibu pekerja dibanding negara-negara lain yang disebutkan di bawah tercatat sebagai negara tertinggi dari segi GDP, urutan ke-3 teratas dalam partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, urutan ke-2 terendah dalam tingkat kematian ibu, dan urutan ke-3 terendah dalam tingkat kematian bayi, dibandingkan dengan negara-negara lain yang disebutkan di bawah.

  • GDP
  1. Afrika Selatan: USD 349.4 Bio 
  2. Algeria: USD 170.4 Bio 
  3. Libya: USD 50.98 Bio
  4. Democratic Republic of The Congo: USD 37.24 Bio
  5. Mali: USD 15.29 Bio 
  6. Djibouti: USD 1.845 Bio 
  • Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja
  1. Mali dan Democratic Republic of The Congo: 61%
  2. Djibouti: 55%
  3. Afrika Selatan: 49%
  4. Libya: 26%
  5. Algeria: 15%
  • Tingkat kematian ibu (matenal deaths per 100,000 live births)
  1. Democratic Republic of The Congo: 693
  2. Mali: 587
  3. Djibouti: 229
  4. Algeria: 140
  5. Afrika Selatan: 138
  6. Libya: 9
  • Tingkat kematian bayi (infant deaths per 1,000 live births)
  1. Democratic Republic of The Congo: 70
  2. Mali: 66
  3. Djibouti: 52
  4. Afrika Selatan: 29
  5. Algeria: 21
  6. Libya: 11

America

Di sini saya mencantumkan Brazil, Argentina, Bahamas, dan Peru sebagai perbandingan. Seluruhnya memberikan hak cuti hamil bagi perempuan pekerja sepanjang 13 minggu, kecuali Brazil yaitu 17 minggu.

Brazil sebagai negara pemberi cuti hamil terpanjang untuk ibu pekerja dibanding negara-negara lain yang disebutkan di bawah tercatat sebagai negara tertinggi dari segi GDP, urutan ke-3 teratas dalam partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, urutan terendah dalam tingkat kematian ibu, namun sayangnya urutan tertinggi dalam tingkat kematian bayi, dibandingkan dengan negara-negara lain yang disebutkan di bawah.

  • GDP
  1. Brazil: USD 2.056 T 
  2. Argentina: USD 637.6 Bio
  3. Peru: USD 211.4 Bio
  4. Bahamas: USD 12.16 Bio
  • Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja
  1. Peru: 70%
  2. Bahamas: 68%
  3. Brazil: 54%
  4. Argentina: 49%
  • Tingkat kematian ibu (matenal deaths per 100,000 live births)
  1. Bahamas: 80
  2. Peru: 68
  3. Argentina: 52
  4. Brazil: 44
  • Tingkat kematian bayi (infant deaths per 1,000 live births)
  1. Brazil: 13
  2. Peru: 12
  3. Argentina: 9
  4. Bahamas: 6

Europe and Central Asia

Norway sebagai negara pemberi cuti hamil terpanjang untuk ibu pekerja dibanding negara-negara lain yang disebutkan di bawah tercatat sebagai negara di urutan ke-3 dari segi GDP (namun tertinggi dari segi GDP per capita sebesar USD 75,504.57), urutan tertinggi dalam partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, urutan ke-3 terendah dalam tingkat kematian ibu, dan urutan terrendah dalam tingkat kematian bayi, dibandingkan dengan negara-negara lain yang disebutkan di bawah.

  • Panjang cuti hamil untuk ibu pekerja
  1. Norway: 35 / 45 minggu
  2. Italy: 22 minggu
  3. Romania: 18 minggu
  4. Greece: 17 minggu
  5. Belanda: 16 minggu
  • GDP
  1. Italy: USD 1.935 T
  2. Netherlands: USD 826.2 Bio
  3. Norway: USD 398.8 Bio
  4. Romania: USD 211.8 Bio
  5. Greece: USD 200.3 Bio
  • Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja
  1. Norway: 60%
  2. Netherlands: 58%
  3. Romania: 46%
  4. Greece: 45%
  5. Italy: 40%
  • Tingkat kematian ibu (maternal deaths per 100,000 live births)
  1. Romania: 31
  2. Netherlands: 7
  3. Norway: 5
  4. Italy: 4
  5. Greece: 3
  • Tingkat kematian bayi (infant deaths per 1,000 live births)
  1. Romania: 7
  2. Greece: 4
  3. Italy dan Netherlands: 3
  4. Norway: 2 

Lalu saya mencoba membuat perbandingan dari masing-masing negara pemberi cuti hamil terpanjang dari negara-negara yang disebutkan di atas, dengan Indonesia menggunakan indikator-indikator di atas.

Norway sebagai negara pemberi cuti hamil terpanjang dari negara-negara yang disebutkan di bawah berada di urutan ke-3 dalam segi GDP namun tertinggi bila dilihat dari segi GDP per capita, tertinggi dalam partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, terrendah dalam tingkat kematian ibu, dan terrendah dalam tingkat kematian bayi.

  • Panjang cuti hamil untuk ibu pekerja
  1. Norway: 35 / 45 minggu
  2. Afrika Selatan dan Brazil: 17 minggu
  3. Indonesia: 12 minggu
  • GDP (GDP Per Capita)
  1. Brazil: USD 2.056 T (USD 9,821.41)
  2. Indonesia: USD 1.016 T (USD 3,846.86)
  3. Norway: USD 398.8 Bio (USD 75,504.57)
  4. Afrika Selatan: USD 349.4 Bio (USD 6,160.73)
  • Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja
  1. Norway: 60%
  2. Brazil: 54%
  3. Indonesia: 52%
  4. Afrika Selatan: 49%
  • Tingkat kematian ibu (maternal deaths per 100,000 live births)
  1. Afrika Selatan: 138
  2. Indonesia: 126
  3. Brazil: 44
  4. Norway: 2
  • Tingkat kematian bayi (infant deaths per 1,000 live births)
  1. Afrika Selatan: 29
  2. Indonesia: 21
  3. Brazil: 13
  4. Norway: 2

Sebisanya saya quantify dampak dari apa yang saya ajukan untuk meyakinkan semua yang membaca ini: cuti hamil 6 bulan, dengan mekanisme yang detail yang perlu di-explore lebih jauh (contoh: Salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang fast moving consumer goods berinisial N, yang memberikan cuti hamil 6.5 bulan dengan komposisi 3 bulan cuti berbayar 100% dan 3.5 bulan cuti berbayar 80%, bahkan untuk kasus spesial yang didukung dengan surat dokter bisa diberikan sampai 9 bulan dengan syarat 3 bulan terakhir dianggap sebagai cuti tidak dibayar).

Namun sebanyak apapun literatur dan data yang mendukung, saya percaya yang saya ajukan memiliki dampak yang tidak bisa divisualisasikan dengan angka: masa depan perempuan dan anak-anak.

Besar harapan saya agar pemerintah Indonesia memberikan perhatian sepenuhnya dan setulusnya dalam hal ini demi masa depan keluarga Indonesia yang lebih baik.