Tinjau Ulang Rencana Penghapusan Diskon Ojek Online Dan Taksi Online

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana pemerintah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang akan mengeluarkan aturan terkait pelarangan diskon pada transportasi online, yaitu ojek dan taksi mendapat penolakan dari mitra pengemudi.

Anggota Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda), Igun Wicaksono mengatakan pengaturan tentang diskon transportasi online potensi membuat konsumen kecewa kemudian enggan menggunakan jenis transportasi online.

Seperti diketahui dua aplikator transportasi online, yakni Grab dan Gojek merangsang konsumen dengan skema potongan harga. Konsumen biasanya dijejali dengan voucher elektronik yang berfungsi memangkas harga perjalanan.


"Ujungnya yang dikorbankan driver juga, karena banyak pelanggan beralih tidak gunakan ojek online atau taksi online. Lalu akan jadi alasan untuk turunkan tarif," kata Igun kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Selasa (11/6).

 

“Enggak Setuju” Salah satu pengguna yang menolak rencana ini adalah Fiqih Rizkita (23), karyawan swasta yang kantornya di Bintaro. Dia menolak itu karena diskon tarif ojol sangat membantu; membuatnya mengeluarkan duit lebih sedikit. Apalagi, katanya, kantornya tak dilalui angkutan umum apa-apa. “Enggak setuju sama sekali. Diskon tarif sangat membantu menghemat biaya transportasi, tadinya Rp9.000 sekali jalan, jadi Rp3.000,” kata Fiqih

Siti Khalishah Ulfah (22), karyawan swasta di Sudirman, kawasan perkantoran elite Jakarta, juga punya alasan yang sama mengapa menolak penghapusan diskon. Dia bilang, jika alasan pemerintah adalah mencegah persaingan tidak sehat, maka sebaiknya yang dilakukan adalah mengundang pemain baru.