Meninjau Kembali Keberadaan Bhayangkara FC dan PS TNI

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Setelah beberapa tahun vakum, sepakbola Indonesia kembali mendapat angin segar dengan digulirkannya kembali Liga 1, 2, dan 3 yang diselenggarakan oleh PT. Liga Indonesia Baru sebagai liga profesional di Indonesia. Namun pada kenyataanya liga yang terbentuk tidak selalu sesuai dengan ekspektasi masyarakat, diantaranya adalah keberadaan tim-tim “siluman”. Hal tersebut tentu sangat aneh bagaimana tiba-tiba ada tim-tim yang tiba-tiba muncul, terlepas dari masyarakat yang mendukungnya, dan tidak membawa kebanggaan kota dimana dia bermain.

Sebenarnya akusisi tim tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan terjadi di Inggris namun tidak semudah itu terjadi. Salah satunya adalah FC Wimbeldon yang berbuh kandang dan nama dan Kandang menjadi MK Dons. Pada faktanya MK Dons memerlukan lebih dari satu tahun untuk dapat melakukan perpindahan kontroversial tersebut. Bahkan dalam rekomendasi terbut, FA memberikan rekomendasi: "The FA Commission recommended that the club should always retain a link with its former identity."[1] (“Komisi Football Association merekomendasikan bahwa sebuah tim harus menjaga hubungan dengan idedntitas aslinya”). Walaupun akhirnya MK Dons tetap diperbolehkan berkompetisi dan masyarakat Wimbeldon harus membuat tim baru AFC Wimbeldon harus membentuk tim baru.[2] Hal tersebut menunjukan bagaimana pada hakekatnya sebuah tim tidak boleh terlepas dari masyarakat yang mendukungnya dan sejarah yang dibentuknya. Bahkan kecaman publik sangat besar sampai AFC Wimbeldon menolak mengakui MK Dons.[3]

Hal yang serupa juga terjadi di Jerman yaitu RB Liepzig, merupakan tim sepakbola yang baru terbentuk di tahun 2009 dan kini sudah menjadi tim di Budesliga Jerman. Membeli SSV Markranstädt, Red Bull mengubah semua lambang dan warna tim tersebut sampai tidak meniggalkan sejarahnya sedikitpun. Bahkan RB Liepzig mengakali aturan 50+1 Bundesliga, dan peraturan mengenai nama Jerman yang ketat: RB bukan singkatan dari Red Bull namun “RasenBallsport”.[4] Maka tidak heran RB Liepzig mendapatkan tekanan publik yang sangat keras, bayangkan di liga sekelas Jerman fans Dortmund menimpuk pemain RB Liepzig dan membawa Poster “Gorok Bantengnya” di Signal Igduna Park.[5] Bahkan sebuah tabloid sepakbola menolak menulis “RB Liepzig” melainkan menuliskan "Dosenverkauf" atau “Penjual Kaleng”.

Hal tersebut menunjukan bahwa akusisi dan perubahan nama tim, atau pembentukan tim-tim “siluman” merupakan sesuatu yang sangat memalukan. Akusisi tim yang memutus sejarah sebuah tim bola, dan hubungannya dengan masyarakat yang membesarkannya bukan sekedar merugikan masyarakat yang timnya dirampok dan berubah menjadi tim siluman. Tetapi juga semangat sepakbola sebagai olahraga rakyat yang tumbuh bersama tim tersebut. Tim sepakbola menurut hemat saya bukan sekedar sekumpulan orang yang bermain sepakbola, tetapi juga sejarah dan kebanggaan yang memiliki nilai afektif dari orang yang mendukungnya.[6]

Namun bagaimana di Indonesia?

Liga 1 Indonesia memang baru saja di mulai dan pembentukan sepak bola Indonesia baru saja dimulai, namun entah kenapa banyak tim-tim baru yang entah dari mana munculnya, tidak memiliki basis supporter, dan tidak berakar di masyarakat. Jika umumnya tim-tim di sebuah liga domestik mewakili sebuah kota/Kabupaten seperti Persib, atau Provinsi seperti Persija, atau bahkan wilayah kecil seperti Rayo Vallecano. Tiba-tiba muncul tim-tim yang mewakili institusi negara yaitu PS TNI dan Bhayangkara FC. Seperti kita yang kita Perkirakan kedua tim tersebut tentu tidak berakar dalam masyarakat, dalam 4 pekan pertama okupasi stadion Bhayangkara FC dan PS TNI tidak lebih dari 10.5%, bandingkan dengan Persija yang mencapai 88.5% di stadion yang sama dengan Bhayangkara FC.[7]

Sebenarnya bagaimanakah latar belakang Bhayangkara FC? Bhayangkara United sendiri berawal dari Perpecahan salah satu tim terbesar dan tertua di Indonesia, yang supporternya dulu terkenal kerap berulah dengan Polisi; Persebaya. Kekecewaan Persebaya yang merasa dicurangi sehingga terdegradasi membuat mereka pindah ke IPL dengan nama Persebaya 1927, sementara Persebaya Whisnu Wardhana muncul dan bermain di Divisi Utama. Setelah kompetisi vakum akibat pembekuan FIFA, Polri bekerjasama dengan kemenpora menyelenggarakan Bhayangkara Cup, salah satu yang berpartisipasi adalah PS Polri. Yang kemudian pada ISC 2016 bergabung dengan Surabaya United yang merupakan imitasi dari Persebaya Surabaya dan menjadi Bhayangkara Surabaya United. Karena kalah gugatan dari PT Persebaya akhirnya Bhayangkara Surabaya United berubah menjadi Bhayangkara FC yang kini juara Liga 1.[8]

Sementara kemunculan PS TNI sendiri sangat lekat dengan keterpurukan PSMS Medan yang kemdian ditangani oleh Pangkodam Bukit Barisan Edy Rahmayadi. PSMS pun berhasil menjuarai Piala Kemerdekaan pada tahun 2015, lalu kemudian banyak pemainnya yang dimasukan dalam skuad PS TNI dalam Piala Jendral Sudirman 2015. Setelahnya PS TNI justru melepaskan diri dari PSMS medan dengan membeli lisensi Persiram Raja Ampat untuk berlaga di ISC A 2016 dan Liga 1 2017.[9] Sementara PSMS Medan seakan belum bisa lepas dari TNI terbukti belum sepenuhnya lepas dari cengkraman sepatu lars, terbukti dengan kericuhan di Stadion Mini Kabupaten Bogor dengan Viola Mania melibatkan anggota TNI.

PS TNI dan Bhayangkara FC yang kelam merupakan contoh bagaimana penghargaan nilai historis sepakbola Indonesia terhadap tim sepakbola yang masih rendah. Betapa mudahnya sebuah tim sepakbola yang dibesarkan masyarakat dirampok dan menjadi tim siluman. Lebih lanjut lagi kedua tim tersebut menunjukan budaya instan sepakbola Indonesia yang lebih memilih membeli lisensi secara instan daripada membina sebuha tim sepakbola. Selain itu tentu ongkos Tim Sepakbola sekelas Liga 1 tentu sangat mahal dan tidak proporsional dengan pendapatan kedua tim tersebut dari supporter setianya. Maka muncul pertanyaan apakah wajar jika sebuah tim dibawah naungan TNI dan Polri menerima uang dari sponsor, mengingat tim sepakbola di Indonesia tidak boleh mendapat uang dari APBD dan APBN.

Kasus poin gratis yang diterima oleh Bhayangkara FC yang membuatnya menjadi juara seakan menjadi peringatan bagi kita mengenai bahaya laten jika tetap membiarkan keberadaan kedua tim tersebut dalam persepakbolaan profesional. Selain karena sejarahnya, budaya instan yang terbentuk, dan statusnya yang memungkinkan keuntungan yang tidak adil. Pada kenyataannya pembentukan tim-tim seperti ini sangat dihindari oleh penyelenggara persepakbolaan professional di negara-negara lain, dan menjadi bulan-bulanan publik. Anehnya di Indonesia kejadian semacam ini seakan menjadi wajar dan diterima oleh masyarakat, penyelenggara, dan media.

Maka menurut hemat penulis sepatutnya;

1.       Ada perlindungan yang ketat mengenai akusisi sebuah tim sepakbola agar tidak terulangnya fenomena tim siluman yang tidak menghargai sejarah dan identitas asli sebuh tim sepakbola.

2.       Meninjau kembali keikutsertaan Bhayangkara FC dan PS TNI dalam Liga Indonesia, mengingat latarbelakang dan statusnya yang dapat menciptakan keuntungan yang tidak adil dalam kompetisi.

 

 



[1] https://www.theguardian.com/football/2004/jun/21/newsstory.mkdons
[2]Baca Lebih lanjut https://www.sportskeeda.com/football/mk-dons-story-britains-most-hated-club
[3] http://www.mirror.co.uk/sport/football/news/afc-wimbledon-face-football-league-11224525
[4] https://www.highsnobiety.com/2017/06/01/football-rb-leipzig-red-bull/
[5] http://www.bbc.com/news/world-europe-38802113
[6] Sebagai contoh coba baca sejarah Persija yang berawal dari perlawanan anti diskriminasi https://www.fourfourtwo.com/id/features/88-tahun-persija-bag-1-vij-berawal-dari-diskriminasi-sepakbola-masa-kolonial?page=0%2C1
[7] http://jacatra.net/read/1445-liga.1.indonesia.berjalan.4.pekan,.laga.kandang.persija.jadi.yang.paling.banyak.ditonton
[8] http://www.indosport.com/sepakbola/20170710/bhayangkara-fc-dari-konflik-hingga-kawin-dengan-polisi/cikal-bakal-terbentuknya-bhayangkara-fc
[9] http://www.panditfootball.com/cerita/210182/ANS/171012/romantisme-psms-medan-tni-dan-tentara-yang-memerangi-rakyatnya-sendiri

 



Hari ini: Adler mengandalkanmu

Adler Eagle membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Meninjau Kembali Keberadaan Bhayangkara FC dan PS TNI". Bergabunglah dengan Adler dan 119 pendukung lainnya hari ini.