Belajar Kembali di Sekolah dan Kampus

Belajar Kembali di Sekolah dan Kampus

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Di masa pandemi ini pemerintah republik Indonesia sudah mulai melonggarkan beberapa kegiatan yang sebelumnya di larang, seperti bekerja kembali di kantor, mulai membuka tempat wisata serta tempat ibadah. Dengan tujuan agar kegiatan masyarakat bisa kembali berjalan dengan normal.

Namun, di saat semua sektor sudah mulai beroperasi "seperti biasa", tidak demikian dengan sektor pendidikan, sampai saat ini pemerintah belum mengizinkan sekolah - sekolah dan kampus untuk di buka, dengan berbagai alasan dan tetap mengharuskan para pelajar untuk tetap belajar di rumah.

Alasan yang biasanya dilontarkan oleh mereka yang tidak setuju pembelajaran kembali dilaksanakan di sekolah dan di kampus adalah:

1. Resiko Penularan Tinggi

Alasan ini sering di ucapkan oleh mereka yang tidak setuju jika pembelajaran kembali di kembalikan di sekolah dan kampus, dengan alasan "di takutkan" akan semakin banyaknya anak - anak yang tertular dan terkena Covid 19. Benarkah alasan tersebut? Ya, memang resiko itu ada, tapi jika itu alasannya, lantas kenapa sektor - sektor lain sudah di buka? Bukankah hal itu juga akan semakin memperbesar resiko penyebaran covid 19 di masyarakat?

2. Tidak Ada Jaminan Mereka Akan Mengikuti Protokol Kesehatan.

Alasan lain adalah, jika sekolah di buka, tidak ada jaminan mereka akan mengikuti protokol kesehatan yang ada. Hal ini pun sebenarnya sangat mudah untuk di bantah, sama seperti poin pertama tadi, Apakah ada jaminan ketika sektor lain yang sudah di buka mereka yang terlibat di dalamnya akan mengikuti protokol kesehatan yang ada? Jawabannya tentu saja TIDAK. Lantas kenapa hanya sektor pendidikan yang di larang dan yang lainnya tidak? Bukankah ini diskriminatif? Bukankah para pelajar pun ingin kembali beraktivitas seperti biasa seperti para pekerja? 

3. Resiko Faktor Kesehatan Jauh Lebih Besar Dibandingkan Faktor Ekonomi.

Alasan ini tidak sepenuhnya tepat, kenapa? Karena selama pembelajaran daring pun pengeluaran yang dikeluarkan sangat banyak dan sangat menyulitkan para pembelajar dan orang tua. Mulai dari biaya untuk membeli paket internet yang barangkali paling murah seharga 50 rb yang mungkin akan habis dalam waktu kurang dari sebulan, biaya mengerjakan tugas seperti praktikum ataupun makalah dsb, UKT yang dibeberapa kampus harus tetap dibayarkan 100% tanpa potongan padahal kita tidak menggunakan fasilitas kampus tersebut, belum lagi biaya kost bagi para pelajar yang merantau dan lainnya yang tentu saja sangat memberatkan ekonomi para pelajar tersebut. Jika alasannya karena faktor kesehatan jauh lebih tinggi dibandingkan faktor ekonomi, bukankah terlalu lama belajar di rumah dan di tambah dengan banyaknya tugas yang di bebankan akan berpengaruh buruk bagi kesehatan seseorang? Bukankah hal itu akan membuat stress pada pelajar? Bukankah stress dapat menurunkan imunitas tubuh? Dan bukankah banyak dokter yang mengatakan bahwa covid 19 akan mudah menyerang orang yang imunitas tubuhnya lemah? Bukankah ada kasus dimana seorang pelajar tewas bunuh diri karena stress akibat terlalu lama belajar dirumah dan tugas yang menumpuk? Bukankah ada kasus juga dimana ada pelajar yang kehilangan nyawanya hanya karena mencari sinyal untuk belajar daring karena kualitas sinyal internet di negara kita yang belum merata?

Dengan alasan - alasan tersebut saya selaku penulis menyarankan sebuah solusi kepada pemerintah yaitu:

Kembalikan Proses Belajar dan Mengajar di Sekolah.

Ya, memang itu tujuan penulis membuat petisi ini, agar kami para pelajar bisa kembali belajar di sekolah dan kampus seperti biasa, serta membiarkan kami beraktivitas seperti biasa di sekolah seperti sektor - sektor lain. Hal ini tentu saja akan menyelesaikan beberapa masalah yang selama ini dirasakan oleh para pelajar ketika belajar daring, mulai dari stress, jenuh, dan lainnya. Jika alasannya hanya karena takut penyebaran virus ini semakin banyak, hal itu bukanlah menjadi alasan yang tepat, karena resikonya sama saja ketika pemerintah sudah membuka sektor - sektor lain, lagipula usia para pelajar itu tentu masih sangat muda dan bukankah pada saat usia muda itu kondisi kesehatan seseorang sedang dalam kondisi terbaiknya? Lantas kalau begitu, seharusnya pemerintah tidak perlu khawatir dengan faktor kesehatan para pelajar, cukup dengan pemerintah mengkampanyekan tentang gaya hidup sehat kepada masyarakat, mulai dari menjaga pola makan, pola tidur yang cukup, rajin berolahraga dan jaga kesehatan mental, hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk mengatasi covid 19 dibandingkan hanya dengan menggunakan masker dan jaga jarak yang belum tentu efektif dalam menangkal penyebaran virus.