Kembalikan Hak ODHA dan ODHIV sebagai Manusia!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Diskriminasi dan stigma negatif masih terus dirasakan oleh ODHA dan/atau ODHIV sampai saat ini, di mana  sejatinya mereka mempunyai hak yang sama dengan yang lain. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi D. I. Yogyakarta, jumlah akumulasi kasus HIV di DIY dari tahun 1993 hingga Oktober 2020 adalah sebanyak 5334 kasus dan 1800 diantaranya sudah sampai di tahap AIDS (33,7%). Sebanyak 67% kasus ditemukan pada laki-laki dan 33% pada perempuan. Dengan kasus HIV tertinggi di Kota Yogyakarta dengan 1371 kasus HIV dan kasus AIDS tertinggi di Kabupaten Sleman ditemui 423 kasus AIDS.

Berdasarkan survei yang telah CIMSA UGM, CIMSA, UKDW, dan MMSA UMY lakukan terhadap 75 ODHA dan/atau ODHIV pada bulan November lalu di Indonesia terkhususnya di DIY, kami menemukan bahwa 81,3% responden mengaku pernah mendapatkan berbagai macam stigma negatif dan diskriminasi dari masyarakat. 

Berdasarkan data yang didapat, 64% responden merasakan bahwa asumsi masyarakat terkait ODHA dan/atau ODHIV adalah pasti memiliki pergaulan bebas. Selain itu, terdapat 54,7% responden yang merasa bahwa masyarakat masih menganggap HIV/AIDS sebagai penyakit yang sangat mudah ditularkan. Hal ini didukung dengan terdapat 24% ODHA dan/atau ODHIV yang pernah merasakan penolakan untuk melakukan kontak fisik seperti berjabat tangan. Tidak hanya itu responden juga merasakan diskriminasi dari tenaga kesehatan.

Tindakan diskriminasi masyarakat ini juga berdampak buruk tak hanya bagi ODHA dan/atau ODHIV, namun juga bagi orang dengan faktor risiko HIV/AIDS yang belum melakukan tes HIV atau Voluntary Counseling and Testing (VCT). Berdasarkan survei kami, sebanyak 53,3% responden mengaku sempat takut untuk melakukan VCT karena takut akan dikucilkan jika terbukti positif. Padahal, orang dengan faktor risiko HIV/AIDS sangat dianjurkan untuk melakukan VCT agar segera mendapatkan terapi yang tepat.

Kami juga menemukan bahwa sebanyak 58,7% responden mengaku pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif dari tenaga kesehatan. Terdapat 30,7% responden yang pernah mendapatkan komentar verbal yang tidak baik dari nakes. Salah satu responden bahkan menyatakan bahwa nakes menyampaikan kepadanya bahwa HIV/AIDS merupakan balasan dari Tuhan karena dosa yang telah ia lakukan. Selain itu, responden mengaku pernah mendapatkan pemberian obat antiretroviral (ARV) di fasilitas kesehatan (62,7%), mendapatkan pendampingan selama pengobatan (48%), serta mendapatkan layanan kesehatan bebas diskriminasi (44%). Kami berharap bahwa inklusivitas pelayanan kesehatan terhadap ODHA dan ODHIV dapat terus ditingkatkan.

Berdasarkan data yang telah kami paparkan di atas, kami berharap bahwa masyarakat serta tenaga kesehatan dapat menghilangkan stigma negatif dan perilaku diskriminatif, karena hal tersebut dapat membuat ODHA dan ODHIV merasa putus asa dan tertekan (44%) dan tidak diterima oleh masyarakat (33,3%). Para responden juga berharap advokasi LSM kepada pemerintah atau pemegang kepentingan lain untuk menyuarakan aspirasi dari ODHA (45,3%) dapat dilakukan sebagai bentuk dukungan yang paling responden butuhkan. 

Oleh karena itu, kami mengajak teman-teman untuk ikut menyuarakan aspirasi teman-teman ODHA dan/atau ODHIV dalam penghapusan stigma negatif, pencegahan perilaku diskriminatif, serta peningkatkan inklusivitas pelayanan kesehatan bagi ODHA dan/atau ODHIV.