Penggabungan Indonesia dan Malaysia

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Mengenai penyatuan dan penggabungan antara Indonesia dan Malaysia yang memiliki kesamaan sebagai kedua negara yang memiliki penduduk berpenganut agama Islam terbesar di dunia menurut saya memiliki pendapat yang Lebih baik dengan alternatif ada usul penggabungan wilayah antara Indonesia dengan Malaysia namun dengan tambahan Pulau Cocos dan Pulau Natal dari Australia, Singapura, Brunei, Timor Leste dan Sisi Timur Thailand Bagian Selatan yang mayoritas penduduknya adalah orang Melayu, serta dengan tambahan Kepulauan Sulu dari Filipina. Tetapi penggabungan wilayah antara Indonesia dengan Malaysia serta Singapura, Papua Niugini, Brunei dan Timor Leste dapat dilakukan dengan jalan Musyawarah atau Negosiasi Diplomatis melalui Rekonsiliasi. Khusus Kepulauan Sulu, Kepulauan Andaman, Kepulauan Nikobar, Pulau Natal, Pulau Kelapa, Tanah Genting Kra Bagian Selatan dan Malaya Bagian Utara dilakukan Akuisisi Wilayah secara damai dengan Negosiasi secara Diplomatis, kedua cara tersebut dapat dilakukan tetapi dalam keadaan damai dan mengesampingkan peperangan di antara keenam negara yang akan digabung tetapi melibatkan Perserikatan Bangsa Bangsa, Pihak Belanda yang pernah Menjajah Indonesia dan sempat menjajah Papua bagian Barat atau Nugini Belanda yang merupakan tempat pelarian terakhir penjajah Belanda setelah kalah dari Indonesia, Pihak Inggris Raya yang pernah menjajah Malaysia, Papua bagian Timur atau Papua Niugini, Singapura dan Brunei, serta Pihak Portugal yang pernah menjajah Indonesia dan sempat menjajah Timor Leste yang merupakan tempat pelarian terakhir penjajah Portugal setelah terusir oleh penjajah Belanda dari Kepulauan Maluku, Pihak Spanyol yang menjajah Kepulauan Filipina termasuk Kepulauan Sulu dan berhasil mempersatukan seluruh Filipina termasuk Kepulauan Sulu, Pihak Australia yang memiliki Kepulauan Cocos atau Keeling dan Pulau Natal, Pihak Thailand yang memiliki keseluruhan wilayah Thailand Bagian Selatan yang nantinya dipisahkan dengan Terusan Kraburi di sebelah selatan, Pihak Filipina yang memiliki Kepulauan Sulu dan Pihak India yang memiliki Kepulauan Andaman dan Kepulauan Nikobar. Hal Tersebut merupakan bagian dari Politik Iredentisme Indonesia Raya atau Melayu Raya yang merupakan pengembangan dari isi dari Kitab Negarakertagama dan Kitab Pararaton yang disempurnakan oleh Bung Karno dan Muhammad Yamin. Apakah kita sebagai bangsa yang serumpun antara Indonesia dan Malaysia menyadari kalau ada yang tidak menyukai persahabatan antara Indonesia dan Malaysia. Mereka adalah kaum yang tetap mempertahankan politik rasial seperti pengakuan Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohammad yang merupakan kedua tokoh oposisi yang berasal dari negara Malaysia. Bahkan ada pertentangan dari Harry Lee Kuan Yew, pendiri Negara Singapura yang menjunjung tinggi akan keberagaman di Malaysia dan menentang politik rasial yang memisahkan antar etnik di Malaysia yang berpotensi besar menimbulkan Chauvinisme di kemudian hari. Jauh sebelum pembentukan Negara Malaysia, ada 2 orang yang hendak mengintegrasikan bekas koloni Britania di Nusantara seperti Ibrahim Yaakob dari Malaysia Semenanjung atau Malaysia Barat dan Ahmad Azahari dari Malaysia Borneo Utara atau Malaysia Timur, mereka berdua mendapat dukungan dari Bung Karno, pendiri Negara Indonesia. Seandainya kelak 2 hingga 6 bangsa ini akan digabung dan diunifikasi menjadi negara yang makmur, salah satu negara besar, dan menjunjung tinggi akan keberagaman dalam perbedaan baik perbedaan etnik maupun perbedaan agama. Kalau setuju dengan gagasan saya silahkan like atau suka pada komentar saya, ini merupakan pengandaian dan doa serta harapan yang saya ucapkan, harap ditanda tangani petisi ini sesuai dengan ucapan Gajah Mada.



Hari ini: Raafian mengandalkanmu

Raafian Prabowo membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Masyarakat Indonesia dan Malaysia yang ingin bersatu: Penggabungan Indonesia dan Malaysia". Bergabunglah dengan Raafian dan 38 pendukung lainnya hari ini.