Suara Mahasiswa Teruntuk LSPR Lebih Baik

Recent news

Bersama untuk LSPR Lebih Baik!

Alhamdulillah! Puji Tuhan! Dan segala bentuk wujud syukur lainnya atas respon cepat yang diambil Management STIKOM London School of Public Relations Jakarta dalam menanggapi petisi online berjudul "Suara Mahasiswa Teruntuk LSPR Lebih Baik" yang ditanda tangani lebih dari 300 orang. Permintaan mahasiswa/i LSPR untuk mengadakan audiensi dengan pihak kampus telah dipenuhi melalui sebuah pertemuan pada Senin, 8 Agustus 2016 bertempat di Room 13 Campus C LSPR Jakarta. Audiensi dimulai pada pukul 15.21 dan dihadiri oleh Mr. Andre Ikhsano (Deputy Director I), Mr. Rino F Boer (Deputy Director II), Mr. Imanuel Hutagalung (Deputy Director III), Mr. Taufan Akbari (Dean Campus A), Mr. Tunggul David & Ms. Ranata Tirta (Dean Campus B), Ms. Jannette Pinariya (Dean Campus C), Mr. Mamby Aruan (Assosiate Dean Campus A), Ms. Olivia Hutagaol (Head of CRD), Ms. Ririn (Head of Accounting). Sementara dari pihak mahasiswa dihadiri lebih dari 20 mahasiswa/i dengan menunjuk Mark Ambarita, Ahmad Assegaf, Diva Alfa, dan Bernito Yasser sebagai juru bicara. Pertemuan sore itu turut dihadiri pula Presiden Student League, Rio Yudhoyono yang bertindak sebagai Moderator dari pihak mahasiswa serta Head of Media Creative Cabinet Student League, Yavi Diamanta yang turut menjadi saksi audiensi. Pertemuan dibuka oleh Ms. Jannette Pinariya selaku moderator dari pihak kampus dan ditanggapi oleh Rio Yudhoyono selaku moderator dari pihak mahasiswa dengan mengajukan 3 poin kesepakatan dalam audiensi, antara lain: 1. Adanya jaminan dari Management Kampus untuk perwakilan mahasiswa/i yang hadir tidak akan mendapat intimidasi selama menempuh pendidikan di LSPR baik secara akademik maupun non-akademik. 2. Audiensi merupakan forum terbuka yang akan didokumentasikan dan hasilnya akan disosialisasikan keseluruh civitas akademika LSPR. 3. Audiensi mengedepankan rasa kekeluargaan dan kebersamaan serta tidak bertujuan untuk mencari siapa yang salah namun memiliki fokus untuk mencari solusi demi LSPR yang lebih baik. Setelah mendapat jaminan atas terpenuhinya 3 poin kesepakatan tersebut, pembahasan dilanjutkan dengan menggali keterangan mengenai SKPI serta Sertifikasi Kompetensi yang langsung dijelaskan oleh Management LSPR. Dari penjelasan tersebut didapati bahwa SKPI dan Sertifikat Kompetensi merupakan 2 hal yang berbeda, SKPI adalah sebuah surat resmi yang substansinya mendeskripsikan kemampuan serta prestasi mahasiswa selama menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi (lebih lanjut dapat dibaca pada Permendikbud no 81 tahun 2014 pasal 7). Sementara Sertifikasi Kompetensi merupakan sertifikat yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang diberi wewenang oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk melaksanakan uji kompetensi. Dalam hal ini LSPR mengharapkan lulusannya memliki kompetensi yang lebih unggul dibanding lulusan dari Perguruan Tinggi lainnya setelah mengikuti uji kompetensi melalui LSP-LSPR. Suasana yang hangat dan cair mengiringi pertemuan pada sore itu, tidak terlihat adanya perbedaan pendapat yang mendasar diantara kedua belah pihak. Mahasiswa/i yang hadir turut menyampaikan aspirasinya mengenai 2 poin yang menjadi pembahasan pada sore itu. Management kampus pun tidak mementahkan aspirasi-aspirasi yang muncul dari perwakilan mahasiswa. Poin selanjutnya yang menjadi pembahasan adalah denda yang dikenakan atas telat pembayaran uang kuliah, pada pembahasan ini dibahas langsung oleh Deputy Director II Mr. Rino F Boer dan Head of Accounting Ms. Ririn. Dari penjelasan management kampus dapat diterima bahwa pemberlakuan denda/pinalti sejatinya sudah diantisipasi untuk tidak memberlakukan denda secara materil, namun demi menanamkan sikap disiplin bagi mahasiswa, maka diberlakukan pinalti berupa denda pembayaran. Untuk poin ini masih menunggu keputusan lebih lanjut dari pihak kampus untuk memberikan kebijaksanaan baru sebagai pengganti denda yang dikenakan Rp 250.000,- per bulan. Hal lain yang turut dibahas adalah mekanisme keterlibatan mahasiswa/i dalam pengambilan kebijakan baru yang dikeluarkan pihak kampus, serta sebagai wadah bagi mahasiswa/i dalam menyampaikan kritik konstruktif bagi kemajuan LSPR yang lebih baik. Secara garis besar, hasil audiensi antara perwakilan mahasiswa/i dengan Management LSPR adalah sebagai berikut : 1. Uji Kompetensi untuk mendapatkan Sertifikasi Kompetensi yang dikeluarkan LSP-LSPR menjadi modal penting bagi lulusan LSPR untuk menghadapi kompetisi di MEA merupakan hal opsional bagi mahasiswa. Meski tidak diwajibkan, penting bagi mahasiswa/i untuk memahami manfaat yang didapatkan apabila memiliki Sertifikasi Kompetensi. 2. Pada dasarnya Management LSPR tidak menginginkan adanya pemberlakuan denda materil yang dibebankan karena telat pembayaran. Untuk itu, akan segera disosialisasikan secara terbuka mengenai kebijakan baru sebagai pengganti pemberlakuan denda sebesar Rp 250.000,- per bulan. 3. Akan segera disusun mekanisme baru agar dapat digunakan sebagai wadah bagi mahasiswa/i untuk menyampaikan kritik yang disertai solusi untuk membangun LSPR lebih baik. Demikian update mengenai petisi ini. Setelahnya, mahasiswa/i LSPR memberi apresiasi sebesar-besarnya atas respon cepat Founder & Director LSPR, Ibu @pritakemagani yang langsung memberi mandat kepaada Management LSPR untuk mengadakan audiesi dengan mahasiswa/i LSPR. Salam Mahasiswa, Terima kasih

Aliansi Mahasiswa LSPR Jakarta
4 years ago