Larang penggunaan SARA sebagai materi kampanye!

0 have signed. Let’s get to 25,000!


Saat ini Panitia Khusus (Pansus) DPR bersama Pemerintah tengah membahas Rancangan Undang-Undang tentang Pemilihan Umum (RUU Pemilu). RUU Pemilu ini akan menjadi dasar hukum bagi penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilu presiden secara serentak pada 2019 mendatang.

Banyak isu krusial dibahas (www.rumahpemilu.org) namun larangan penggunaan SARA dalam kampanye pemilu legislatif dan pemilu presiden dalam RUU tersebut tidak mendapatkan perhatian serius dari Pansus maupun Pemerintah. Padahal, penggunaan SARA dalam kampanye menimbulkan keresahan dan konflik di masyarakat dan mengancam kesatuan bangsa.

Penggunaan SARA dalam Pilpres 2014 dan Pilkada, khususnya di DKI tahun 2017, menunjukkan makin gencarnya penggunaan SARA dalam kampanye yang berujung tumbuhnya bibit-bibit perpecahan. Banwaslu DKI mencopot 1,230 spanduk kampanye provokatif. Sedemikian seriusnya provokasi tersebut, Kapolda Metro Jaya mengancam akan mempidanakan pemasang spanduk tersebut. Larangan kampanye di rumah ibadah dilanggar, mimbar Jum’at berubah menjadi ajang kampanye untuk mendorong umat memilih calon tertentu dengan dasar agama dan suku/ras. Sekretaris Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Muhammadiyah Amin, mengatakan gejala penggunaan khotbah untuk kepentingan politik dan ideologi tertentu, khususnya kelompok garis keras, mulai marak terjadi pascareformasi 1998.

Dampak penggunaan SARA dalam Pilkada DKI masih terasa hingga hari ini, dan telah mengganggu kenyamanan hidup dalam keragaman serta menyentuh berbagai usia. Berita mengenai pelajar yang tidak mau memilih kandidat ketua OSIS yang berbeda agama, adalah bukti bahaya kampanye menggunakan isu SARA.
Kampanye-kampanye semacam itu telah merusak tujuan kampanye yang sejatinya adalah aktivitas pasangan calon untuk menyampaikan visi, misi, dan program sebagai bagian dari pendidikan politik. Hal ini biasanya dilakukan tim pemenangan paslon untuk tujuan oportunis mendulang suara, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

RUU Pemilu yang tengah dibahas hanya mengatur larangan menghina SARA, namun bukan larangan penggunaan isu SARA sebagai materi kampanye. INI TIDAK CUKUP

Karena itu, melalui petisi ini, kami mengajak bapak/ibu/saudara, bersama-sama MENDESAK DPR dan pemerintah untuk ditambahkannya PENGATURAN LARANGAN PENGGUNAAN ISU SARA SEBAGAI MATERI KAMPANYE secara spesifik dalam pengaturan UU PILKADA dan UU PEMILU demi keadilan dan persatuan Indonesia dan pemberian sanksi tegas atas penggunaan SARA dalam materi kampanye.

Penggunaan SARA sebagai materi kampanye sungguh telah merusak kenyamanan dan keamanan hidup bermasyarakat dalam keragaman, dan merupakan penodaan proses demokrasi.

Penggagas,
Sita Supomo & Judhi Kristantini

Referensi berita:
http://m.tribunnews.com/nasional/2017/05/02/ketua-osis-tolak-ketua-beda-agama-henny-pilkada-dki-jakarta-imbasnya-kemana-mana
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/03/29/20315461/bawaslu.dki.copot.1.230.spanduk.kampanye.dan.bernada.provokatif
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/03/29/19373541/kapolda.metro.jaya.ancam.pidanakan.pemasang.spanduk.provokatif
https://tirto.id/khotbah-jumat-dan-mimbar-masjid-sebagai-medan-politik-b1sj



Today: Sita Supomo & Judhi Kristantini is counting on you

Sita Supomo & Judhi Kristantini needs your help with “@LukmanEdy_HM, Larang penggunaan SARA sbg materi kampanye! @Tjahjo_Kumolo,”. Join Sita Supomo & Judhi Kristantini and 18,472 supporters today.