Lockdown Sebelum Terlambat ! 114 Meninggal (Akumulasi). Mau Nunggu Ribuan Meninggal Dulu ?

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Bismillahirrahmanirrahim

Kepada Yang Terhormat Bapak Presiden Joko Widodo

Hari ini (18 Maret 2020) negeri kita sangat bersedih karena sudah ada 227 kasus positif terkonfirmasi virus corona dan 19 diantaranya telah meninggal dunia [1a].

Jumlah ini sangat menyeramkan karena angka kasus meninggal dunia naik 2.7x lipat dari kemarin [1a dan 1b].

Sedangkan angka kasus positif naik 2.4 x lipat dari 3 hari lalu [1a dan 1c]

=======

IDI Minta Pemerintah Segera Berlakukan Lockdown [2]

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta pemerintah segera menerapkan kebijakan Lockdown atau isolasi diri. IDI berpendapat, cara itu merupakan langkah efektif untuk menekan penyebaran virus Covid-19 alias corona.

"Iya amat sangat setuju lockdown dan minta segera diberlakukan karena itu penting," kata Ketua Satgas Covid-19 IDI Profesor Zubairi Djoerban kepada Republika di Jakarta, Ahad (22/3).

Dewan Guru Besar FKUI Desak Pemerintah Terapkan Lockdown [Diolah Dari 3]

Tulisan Berikut Diambil Dari Surat yang Telah Ditandatangani Oleh Prof. DR. dr Siti Setiati, SpPD, K-Ger, MEpid, FINASIM (Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) [Diolah dari 3]

Apakah lockdown dapat menjadi salah satu alternatif bagi Indonesia ? Melihat dari negara-negara lain, partial atau local lockdown mungkin dapat menjadi pilihan bagi Indonesia.

Apa itu local lockdown ? Local lockdown merupakan sebuah langkah menutup sebuah wilayah/ provinsi yang sudah terjangkit infeksi COVID-19, dengan demikian diharapkan dapat memutuskan rangkai penularan infeksi baik di dalam maupun diluar wilayah.

Local lockdown disarankan dilakukan selama minimal 14 hari. Local lockdown pun akan memudahkan negara untuk menghitung kebutuhan sumber daya untuk penanganan di RS (SDM, APD, fasilitas RS).

Pelaksanaan lockdown dan aturan pembatasan aktivitas sosial yang ketat di Provinsi Hubei, Cina telah terbukti efektif menurunkan kasus sebesar 37% lebih rendah dibandingkan kota lain yang tidak menerapkan sistem ini.

Sebelum pemberlakuan lockdown, para peneliti memperkirakan SARS-CoV2 akan menginfeksi 40% populasi Cina atau sekitar 50 juta penduduk, atau 1 pasien terinfeksi akan menularkan virus ke 2 orang atau lebih.

Namun pada minggu pertama lockdown, angka ini turun menjadi 1.05. Hingga pada tanggal 16 Maret 2020, WHO mencatat 81.000 kasus di Cina.

Simulasi model oleh Lai Shengjie dan Andrew Tatem dari University of Southampton, UK menunjukkan, jika sistem deteksi dini dan isolasi ini diberlakukan 1 minggu lebih awal, dapat mencegah 67% kasus, dan jika diimplentasikan 3 minggu lebih awal, dapat memotong 95% dari jumlah total yang terinfeksi.

Penurunan ini sangat berguna untuk daerah yang masih belum atau minimal terjangkit untuk melakukan koordinasi sistem kesehatan.

Lanjutan Surat yang Telah Ditandatangani Oleh Prof. DR. dr Siti Setiati, SpPD, K-Ger, MEpid, FINASIM (Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) [Diolah dari 3]

"Opsi lockdown lokal/ parsial perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah Indonesia, melihat upaya social distancing belum konsisten diterapkan di masyarakat, masih terjadi kepadatan di beberapa transportasi publik, sebagian tempat wisata tetap dikunjungi, sebagian perkantoran, tempat makan, taman terbuka, dan pusat perbelanjaan tetap beraktivitas"

Negara perlu menjamin hajat hidup minimal warga miskin selama minimal 2 minggu karena kegiatan perekonomian akan lumpuh total !

Mari kita hitung apabila Jakarta melakukan local lockdown dengan total penduduk 9,6 juta: • Makan 3x sehari dengan asumsi:

o Makan pagi: Rp 5.000,00 o Makan siang: Rp 10.000,00 o Makan malam: Rp 10.000,00 ▪ Total untuk makan adalah Rp 25.000,00 (untuk membeli beras, tahu, telor, per orang) o Untuk 1 hari, di Jakarta: 9,6 juta x Rp 25.000,00 = Rp 240.000.000.000,00 o Untuk 14 hari di Jakarta: Rp 3.360.000.000.000,00 = 3.3 Trilyun • Kebutuhan listik/orang/hari kira-kira Rp 4.543,00 o Untuk 1 hari, di Jakarta: 9,6 juta x Rp 4.543,00 = Rp 43.000.000.000,00 o Untuk 14 hari di Jakarta: Rp 610.000.000.000,00 = 610 Milyar • Kebutuhan air/orang/hari kira-kira Rp 735,00 o Untuk 1 hari, di Jakarta: 9,6 juta x Rp 735,00 = Rp 7.000.000.000,00 o Untuk 14 hari di Jakarta: Rp 98.000.000.000,00 = 98 Milyar • Total Dana 14 hari di Jakarta: Rp 4 Trilyun •

Total Penerimaan Pajak Indonesia Per-Nevember 2019: Rp 1.312,4 Trilyun

Dengan penghitungan demikian, maka rasanya mungkin apabila melakukan local lockdown demi mencegah penularan COVID-19 lebih lanjut. Pengembalian sebagian uang pajak dari rakyat untuk rakyat dengan adanya kejadian pandemi seperti ini merupakan

========

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebijakan Lockdown akan berdampak negatif bagi perekonomian. Apalagi mengingat kota Jakarta yang terkena dampak Virus Corona paling besar merupakan pusat bisnis dan pusat pemerintahan Republik Indonesia.

Tetapi pengorbanan itu akan terasa pantas ketika banyak nyawa berhasil selamat dari ancaman Virus Corona. Tidak perlu banyak, bahkan satu nyawa saja sudah begitu berarti.

Karena pilihan Lockdown atau tidak sepertinya bukanlah pilihan antara baik dan buruk. Melainkan pilihan antara buruk dan sangat buruk.

Indonesia tentu tidak ingin seperti Italia dan Iran yang "telat" mengantisipasi penyebaran Virus Corona sampai akhirnya mau tidak mau menerapkan Lockdown. [4]

Bahkan sekarang Indonesia sudah memiliki rasio kematian akibat Virus Corona lebih tinggi dari kedua negara tersebut sesuai dengan data berikut [5]

Rasio Kasus Kematian Akibat Covid-19 (Update 18 Maret 2020) [5]

Filiphina : 8.4 %
Indonesia : 8.37 %
Italia : 7.94 %
Iran : 6.11 %
Dunia : 4 %
China : 4 %

=======

Sementara itu, Indonesia bisa belajar dari China, yang merelakan laju perekonomiannya demi memutus mata rantai virus. [6]

"China memperlihatkan berkurangnya angka kasus COVID-19 baru di negaranya berkat Lockdown kota. Bahkan pada Selasa (10/3) Presiden China Xi Jin Ping bahwa hari itu adalah hari ketiga tidak adanya kasus baru di luar Provinsi Hubei. Para ilmuwan mengatakan hasil ini salah satunya karena ketanggapan pemerintah China yang segera melakukan Lockdown di pusat penyebaran COVID-19" [6].

=======

"Apabila tidak dibatasi pergerakan orang, maka bisa makin meluas keadaan ini seperti yang terjadi di Iran, Korea [Selatan], Italia. Tentu sebelumnya di China, semuanya terjadi seperti itu. Maka salah satu cara yang efektif adalah mengurangi pergerakan yang kita kenal dengan lockdown," [7] - Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Ke-10 Dan Ke-12 

"Akhirnya memang dalam kondisi seperti ini "Social Distancing" yang paling mungkin tapi siapa tahu koronanya sangat luar biasa. Ya mau ga mau kita lockdown juga" [8] - Ujar Refly Harun (Ahli Tata Hukum Negara).

Kalau ga di Lackdown, Ga ada cara lain [9a]. Itu adalah worst scenarionya, disiapkan sejak awal [9b] Lockdown itu perlu tetapi mesti ada dimana, kapan, bagaimana [9c]. - Ujar Riant Nugroho (Ahli Kebijakan Publik)

"Lockdown harus dilakukan agar pemerintah tidak terlambat mencegah penyebaran virus corona" [10] - Andri W Kusuma (Pengamat dari Universitas Indonesia)

"Kesimpulan sementara : melakukan isolasi (Lockdown) lebih cepat lebih baik" [11] - Yeni Herdiyeni (Associate Professor of Computer Science at IPB University) 

=======

Kenapa Harus Lockdown ? (Tony Rosyid - Pengamat Politik) [Diolah dari 12]

Sebab pertama, penyebaran Covid-19 ini masif. Lonjakan jumlah orang yang terinfeksi sangat tinggi.

Lonjakan angka ini menunjukkan bahwa ada yang tak terlacak. Berapa jumlahnya dan dimana wilayahnya, tak ada data dan susah diprediksi. Sebab, satu orang bisa jumpa 100 orang dalam beberapa hari saja dan di tempat yang berbeda. 

Kedua, orang-orang yang terinfeksi Covid-19 dan tak terlacak tadi, tanpa disadari terus menebar virus kepada banyak orang yang berinteraksi dengannya. Semacam sistem Multi Level Marketing (MLM). Sistem MLM ini berlaku secara alamiah dan masif dalam penyebaran Virus Corona. 

=======

Indonesia Hari Ini (18 Maret 2020) Seperti Iran 27 Febuari 2020

Berikut data akumulasi kasus Covid-19 di Iran [13]

19 Febuari 2020 : 2 Total Kasus 
25 Febuari 2020 : 95 Total Kasus
26 Febuari 2020 : 139 Total Kasus
27 Febuari 2020 : 245 Total Kasus
28 Febuari 2020 : 388 Total Kasus
29 Febuari 2020 : 593 Total Kasus
1 Maret 2020 : 978 Total Kasus
2 Maret 2020 : 1501 Total Kasus 
3 Maret 2020 : 2336 Total Kasus
4-12 Maret 2020 : Tren Kenaikan Seperti 1-3 Maret
18 Maret 2020 : 17.361 Total Kasus

Berikut data akumulasi kasus Covid-19 di Indonesia [14]

2 Maret 2020 : 2 Total Kasus
14 Maret 2020 : 96 Total Kasus
15 Maret 2020 : 117 Total Kasus
16 Maret 2020 : 134 Total Kasus
17 Maret 2020 : 172 Total Kasus 
18 Maret 2020 : 227 Total Kasus

Kenapa memberikan perbandingan dengan Iran ?

1.) Pendapatan per kapita Indonesia pada tahun 2017 ($3,836.9) dan pendapatan per kapita Iran pada tahun 2017 ($5,627.7) tidak terlalu berbeda jauh dibandingkan Indonesia dengan negara lain yang mengalami pendemi korona skala besar (Itali, Korea Selatan, dll) [15]

2.) Bedasarkan IMF Indonesia dan Iran termasuk "Negara Ekonomi Berkembang" pada tahun 2018 [16]

========

Apakah Social Distancing Cukup ?

Sementara ini, Negara yang cukup sukses menangani Virus Corona dengan melakukan Social Distancing (tanpa melakukan Lockdown) adalah Korea Selatan. 

Namun apabila kita cermati, Korea Selatan memiliki banyak sekali kebijakan lain yang berpengaruh besar yaitu :

(1) Korea melakukan 10.000 tes tiap harinya untuk mendeteksi dini infeksi Virus Corona. (2) Pengadaan stasiun layanan pemeriksaan drive-through dan hasilnya dapat diketahui hanya dalam 10-15 menit. (3) Meluncurkan aplikasi yang wajib digunakan oleh turis asing. [17]

Sedangkan Indonesia ? 

Indonesia baru melakukan sekitar 2.300 tes infeksi Virus corona (bukan tiap hari tapi total) sampai selasa 17 Maret 2020 [18]. Bahkan banyak orang yang ingin melakukan tes Virus Corona. Tapi tak sedikit yang ditolak oleh rumah sakit rujukan pemerintah [19].

=======

Contoh : Kota Tegal
[20]

Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono yang memutuskan untuk mengambil kebijakan local lockdown dengan menutup akses keluar-masuk kota selama empat bulan mendatang. Kendati akan menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, khususnya dari masyarakat berpenghasilan rendah seperti pedagang yang terdampak penutupan jalan, kebijakan tersebut dianggap perlu untuk melindungi masyarakat Kota Tegal. Dedy pun menyatakan, dengan kesadaran pribadi bersama anggota legislatif, pihaknya akan mengumpulkan dana bantuan sosial, khususnya bagi masyarakat kecil atau miskin, di Kota Tegal selama isolasi lokal itu berlangsung. 

========

Statement Bapak Presiden Dan Juru Bicara Komite Rakyat Nasional (Kornas)

“Sampai saat ini, tidak kita berfikiran ke arah kebijakan Lockdown" Ujar Presiden Jokowi saat keterangan pers 16 Maret 2020 [21]

“Tentunya kami tegak lurus dengan keputusan presiden untuk tidak berlakukan Lockdown. Ditambah lagi presiden menegaskan dalam konferensi persnya hanya pemerintah pusat yang bisa menetapkan status lockdown untuk daerah tertentu” [22] - M. Agus Safar  (Juru Bicara Komite Rakyat Nasional (Kornas))

Waktu semakin terbatas, sementara penyebaran virus semakin tak terkendali. Namun bapak Presiden yang terhomat belum berfikiran ke arah kebijakan Lockdown. Saya harap kebijakan Lockdown yang telah diusulkan oleh berbagai pihak dapat segera terealisasi agar penyebaran virus corona tidak semakin parah.

Catatan Terkait Rencana Lockdown [Diolah Dari 23]

Mudah dipahami bahwa kebijakan Lockdown tersebut harus dibarengi dengan persiapan yang matang dan kesiagaan pemerintah dalam memfasilitasi kebutuhan warga.

Dalam hal ini, pemerintah pusat dan daerah bisa berbagi peran, yakni menyediakan bahan makanan, memastikan call center dan petugas kesehatan dalam kondisi siaga, mobil/ambulans dengan jumlah yang memadai, kamar-kamar rumah sakit cukup untuk menampung pasien, dan lain sebagainya.

Pekerja harian lepas yang tidak memiliki penghasilan rutin harus menjadi perhatian khusus. Bagaimanapun, kebijakan lock down akan memukul mereka. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjamin keberlangsungan hidup mereka sampai situasi kembali normal.

Atau bisa juga memberdayakan warga di tataran akar rumput. Misalnya menggerakkan RT hingga RW bergiliran menyumbang sembako kepada warga yang kehilangan mata pencaharian. Inilah saatnya jiwa gotong-royong kita diuji.

Lupakan sejenak terkait pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi dan perpindahan ibu kota negara.

Informasi Tambahan Terkait Lockdown

Apa itu lockdown? Lockdown adalah sebuah situasi dimana orang tidak diperbolehkan untuk masuk atau meninggalkan sebuah bangunan atau kawasan dengan bebas karena alasan sesuatu yang darurat [12].

Lockdown efektif dengan kebijakan pemerintah untuk menutup sejumlah public meeting atau kerumunan yang berpotensi menularkan Virus Corona. Transportasi publik dihentikan. Toko ditutup. Sekolah diliburkan. Dan sejenisnya. Terkecuali public service yang keberadaannya menjadi denyut nadi kehidupan seperti layanan kesehatan, rumah makan dan food market yang menyediakan kebutuhan harian [11].

==============

Demikian permohonan saya ini sampaikan kepada Bapak Presiden selaku pemimpin NKRI yang saya hormati. Semoga Bapak dan jajaran pemerintah selalu diberi kekuatan, kejernihan pikiran, dan perlindungan dalam menghadapinya. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau hal lain. Terima kasih telah membaca tulisan dalam petisi ini. Terima kasih telah bekerja keras untuk negara yang saya cintai.

Salam hormat

Mohamad Arif Pramarta

Referensi

- Poin 2, Poin 3 dan Poin 20 diakses pada 28 Maret 2020

- Poin Lainnya Diakses Pada 18-19 Maret 2020


[1a] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200318135506-20-484509/update-corona-18-maret-227-kasus-19-meninggal-11-sembuh

[1b] https://hellosehat.com/coronavirus/angka-positif-covid-19-di-indonesia/

[1c] https://news.detik.com/berita/d-4939727/data-corona-terkait-indonesia-15-maret-2020-pukul-1130-wib

[2] https://republika.co.id/berita/q7l7wi409/idi-minta-pemerintah-segera-berlakukan-emlockdownem

[3] https://www.cnbcindonesia.com/news/20200327105329-4-147889/pak-jokowi-dewan-guru-besar-fkui-pun-meminta-lockdown

[4] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200316074515-532-483710/mengukur-ancaman-ekonomi-dari-lockdown-virus-corona

[5] https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/03/18/rasio-kematian-akibat-corona-indonesia-di-atas-rata-rata-dunia

[6] https://hellosehat.com/coronavirus/lockdown-kota-mencegah-penularan-covid-19-semakin-masif/

[7] https://www.cnbcindonesia.com/news/20200315135045-4-144965/jk-perlu-lockdown-jika-tak-ingin-seperti-iran-korea-italia

[8] https://www.youtube.com/watch?v=Nz-H8HxPdGw (Mulai menit 5 detik 36)

[9a] https://www.youtube.com/watch?v=HRZeBLTFKCs (Mulai menit 1 detik 7)

[9b] https://www.youtube.com/watch?v=HRZeBLTFKCs (Mulai menit 1 detik 15)

[9c] https://www.youtube.com/watch?v=HRZeBLTFKCs (Mulai menit 2 detik 3)

[10] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200318143711-134-484541/membedah-kebijakan-lockdown-di-negara-lain-hadapi-corona

[11] https://www.linkedin.com/posts/yeni-herdiyeni-6643334_kapan-lockdown-harus-dilakukan-learning-activity-6645343123230859264-1np1/

[12] https://kumparan.com/tony-rosyid/indonesia-jangan-terlambat-lockdown-1t1PtymGKjP

[13] https://www.worldometers.info/coronavirus/country/iran/

[14] https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/03/18/pasien-positif-corona-naik-jadi-227-orang-rabu-183

[15] https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD?end=2017&start=1960

[16] https://www.imf.org/external/pubs/ft/weo/2018/02/weodata/groups.htm

[17] https://katadata.co.id/berita/2020/03/10/membandingkan-cek-virus-corona-di-indonesia-dan-berbagai-negara

[18] https://www.beritasatu.com/kesehatan/609871/kementerian-kesehatan-telah-periksa-2300-spesimen-corona

[19] https://katadata.co.id/berita/2020/03/17/tes-virus-corona-penting-untuk-cegah-penyebaran-tapi-sulit-didapat?utm_source=dable

[20] https://republika.co.id/berita/q7tapd377/desakan-emlockdownem-wilayah-dari-sandi-hingga-wali-kota-tegal

[21] https://www.youtube.com/watch?v=x0rRNGnwIbw&t=7s (Mulai menit 2 detik 1)

[22] https://www.indonesiaberita.com/2020/03/19/tolak-lockdown-kornas-jokowi-kami-tegak-lurus-dengan-keputusan-presiden/

[23] https://news.detik.com/kolom/d-4939656/jika-harus-lock-down