Lingkar Mahasiswa Minangkabau Raya (LIMAMIRA) Bergejolak

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Melihat ketegangan yang terjadi akhir-akhir ini akibat kontroversi RKUHP, RUU Pertambangan Minerba, RUU Pertanahan, RUU Permasyarakatan, UU Ketenagakerjaan, Rasisme di Papua, serta mendesak disahkannya RUU PKS, dan Perlindungan Rumah Tangga membuat mahasiswa di seluruh Indonesia untuk bergerak. Ditambah lagi dilemahkannya KPK lewat pengesahan Revisi UU KPK yang memberi angin segar kepada koruptor, jelas membuat rakyat bergerak.

Aksi dimulai ketika disahkan Revisi UU KPK, kemudian melonjak pada 23 September 2019 setelah #GejayanMemanggil viral di sosial media, berlanjut hari ini 23-24 saat sidang paripurna pengesahan beberapa RUU di gedung DPR. Mahasiswa-mahasiswa di setiap daerah serentak untuk turun ke jalan memprotes RUU ngawur ini.

Lalu bagaimana reaksi LIMAMIRA merespon keadaan hari-hari ini?

LIMAMIRA terkesan sangat lamban dan kurang responsif dalam melihat gejolak yang muncul akhir-akhir ini. Konsolidasi baru dilakukan LIMAMIRA pada 20/9/2019, mendapat titik temu pada 23/9, dan aksi 25/9. Kritikan juga patut ditujukan kepada LIMAMIRA mengingat pasifnya mereka untuk berpartisipasi dalam isu-isu lokal seperti: PLTB Gunung Talang, isu pendidikan murah, dll.

Ke depannya diharapkan LIMAMIRA untuk:

  1. Lebih responsif dalam menanggapi isu nasional maupun daerah;
  2. Berpartisipasi aktif dalam gerakan bersama rakyat;
  3. Melakukan kajian-kajian kritis untuk kemajuan masyarakat;
  4. Meningkatkan komunikasi lewat konsolidasi;
  5. Membuat kegiatan sosial secara bersama.